DOKTRIN ALLAH TRITUNGGAL
*Pendahuluan*
Tulisan ini cukup panjang, sehingga para pembaca akan memerlukan beberapa waktu untuk membacanya karena saya sengaja tidak membaginya ke dalam blog-blog yang terpisah (saya pikir tidak ada bedanya jika dipisah, cuma mungkin kalau terpisah pembaca tidak dituntut membacanya habis sekali duduk, dan tidak terkesan membosankan). Tetapi, ini merupakan satu tema pembahasan yang terangkum menjadi satu. Peringatan, bagi mereka yang malas membaca dan alergi dengan tulisan yang panjang, yang selalu ingin praktis dan tak ingin buang waktu banyak, lebih baik tidak perlu dilanjutkan membaca tulisan ini. Tetapi saya berkata berbahagialah mereka yang mau dengan rendah hati, mau diajar dan dipenuhi terus oleh kebenaran. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semuanya. Saya harap tidak bosan dan para pembaca tetap mau terus belajar, belajar dan belajar.
Tulisan ini saya ketik dengan tangan saya sendiri selama berjam-jam. Kenapa saya mau menghabiskan waktu berjam-jam untuk ini? Karena saya percaya akan pentingnya doktrin ini diajarkan kepada mereka yang membutuhkan. Tulisan ini secara khusus saya posting Pertama, untuk saudara-saudara seiman (orang Kristen) yang rindu dan cinta kepada Firman Tuhan, khususnya dalam mengerti doktrin Tritunggal ini. Kedua, ditujukan untuk mereka yang sungguh-sungguh mau mencari kebenaran (ex. siapa saja). Ketiga, tulisan ini ditujukan kepada para bidat-bidat Kristen (ex.Unitarian, Saksi Yehova, Sabelianisme dll), dan juga kepada ajaran-ajaran yang menentang Allah Tritunggal (ex. Isme-Isme dan Agama tertentu).
Allah Tritunggal tidak mungkin dimengerti seluruhnya oleh rasio manusia yang terbatas ini, sedangkan Allah adalah yang tidak terbatas. Doktrin ini memang sulit alias tidak mudah dipahami, sama dengan memahami doktrin predestinasi. Karena itu kita harus memiliki sikap yang benar untuk mempelajari doktrin ini. Saya juga ada merasa gentar ketika membahas topik ini secara khusus, karena siapa tahu apa yang saya tulis malah berlainan dengan kehendak-Nya, dan saya berdoa semoga saya bisa menyatakan kebenaran-Nya dengan tepat. Jadi, doktrin ini sekali lagi bukan doktrin yang sepele. Dan kalau ada yang berani mengatakan doktrin Tritunggal itu mudah, silakan tunjukkan kepada saya dimana letak kemudahannya, mungkin saya bisa belajar dari anda, tapi jangan-jangan anda hanya asal bicara dan sok tahu alias sombong. Saya sendiri mengakui doktrin ini memamg tidak gampang untuk dijelaskan, bahkan saya dengan segala daya upaya, sambil memohon pertolongan-Nya menjelaskan doktrin ini di blog ini dengan uraian yang tidak singkat. Pdt. Dr. Stephen Tong pun pernah membikin seminar tentang topik ini dan memerlukan waktu sekitar 6 jam untuk membahas doktrin Allah Tritunggal dengan pengertian dari Alkitab yang begitu limpahnya.
Mengapa Kebenaran doktrin ini sulit dimengerti dengan tuntas? Pertama, karena kebenaran ini bersifat wahyu. Kedua, kebenaran ini adalah Kebenaran Sang Pencipta. Ketiga, karena doktrin ini merupakan doktrin tentang Yang ESA. Tetapi betapapun sulitnya doktrin ini tidak berarti kita tidak perlu menjelaskan, tidak berarti kita tidak perlu percaya dan tidak berarti kita memahaminya tanpa otak (tanpa proses pemikiran). Memang, orang Kristen bukanlah orang yang rasionalis tetapi orang Kristen adalah orang yang harus rasionil. Rasio tetap dipakai tetapi bukan diper-ilah. Pengetahuan Firman tidak mungkin dicapai oleh otak secara keseluruhan, tetapi kita harus memakai otak kita semaksimal mungkin untuk mengerti Firman Tuhan dan jangan kita berdalih hanya bersandar kepada Roh Kudus, tetapi tidak pakai otak, itu seperti babi alias binatang yang tidak berpikir. Orang yang rohani adalah orang yang memakai otak dan mensinkronisasikan rasionya dengan kebenaran Firman. Sebab Allah juga adalah Allah yang berpikir, Dialah pemikir terbesar (The Biggest Thinker). Sehingga kita harus berusaha memikirkan kebenaran sebagaimana cara Allah berpikir (to think after God thinks), itu baru manusia rohani. Kita bersyukur rasio diberikan kepada kita, tidak kepada binatang seperti anjing, kucing dan gajah.
Kemudian, hal yang pertama. Yang harus kita sadari adalah karena Allah Tritunggal adalah Allah yang benar maka kita harus mempelajari dan mengajarkannya dengan benar. Kedua, waktu kita mempelajarinya ingat dan sadarlah saat ini juga, pada detik ini juga kita sedang belajar dari Dia yang sedang mengawasi serta memimpin kita. Ini tidak sama ketika kita membaca tulisan-tulisan para ilmuan atau filsuf agung di dalam sejarah. Kita bukan belajar tentang Dia, tetapi mempelajari Dia dan Dia sedang berada untuk mengajar kita (Allah bukan sekedar objek penyelidikan kita melainkan subjek). Ketiga, sekali lagi doktrin ini sulit karena melampaui rasio, tapi bukan berarti kontra-rasional, doktrin ini supra-rasional. Tetapi kita jangan seperti orang di dalam kebudayaan Gerika yang memiliki Sistem Tertutup (close system) kepada wahyu Allah, tapi biarlah kita menjadi orang yang terbuka (open system) kepada Wahyu Allah seperti orang di dalam kebudayaan Ibrani. Mereka adalah bangsa yang mendengar sehingga memperoleh iman. Jadi, sekali lagi kita harus dengan rendah hati dalam mempelajari doktrin ini dan kita harus mengakui di hadapan Allah bahwa tidak seorangpun di dalam dunia ini yang dapat menjelaskan segala sesuatu kecuali terbuka kepada Sang Pencipta. Dengan terbuka kepada sang Pencipta, barulah kita bisa memandang segala sesuatu dengan tepat karena kita melihat segala sesuatu melalui mata Tuhan.
*Pembahasan*
Perdebatan tentang dogma gereja dan doktrin Alkitab memang sejak dari dulu sampai sekarang terus terjadi. Para pemikir, para teolog dan para sarjana sejak berabad-abad yang silam sudah melontarkan bermacam-macam pandangan mereka tentang berbagai konsep dan doktrin Alkitab, khususnya tentang Tritunggal. Ada yang pro dan ada juga yang kontra di antara mereka. Bahkan di abad ini pun ternyata pemahaman orang-orang, termasuk orang yang katanya Kristen, masih banyak yang simpang siur, meskipun argumen-argumen mereka sepertinya akademis dan very learned, tapi terkadang pemahaman mereka tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Mereka pandai mengutip ayat Alkitab di sana sini, tetapi sayang penafsirannya terkadang meleset dari sasaran. Saya melihat ternyata fenomena ini pun terjadi di antara para blogger di SABDAspace ini. Mengaku diri sarjana tetapi apa yang disampaikan membuat orang lain malah bingung dan dikacaukan. Yang sangat menyedihkan adalah sudah tahu salah tetapi ngotot dan kekeh jumekeh. Dan yang paling kasian lagi adalah mereka yang sebenarnya berada pada posisi yang salah tetapi belum sadar akan kesalahannya, malah semakin gencar menjual “dagangannya” kepada orang lain baik di “pasar klewer” ini maupun di “pasar” lainnya. Dan saya yakin mereka yang tidak banyak belajar pasti bisa terpengaruh. Namun berbahagialah mereka yang sungguh-sungguh memegang Firman Tuhan yang sejati dan tidak mudah diombang-ambingkan. Kita melihat sebelum Abad Pertengahan, Gereja di Timur dan di Barat mempunyai pengertian yang sangat berbeda dalam doktrin Allah Tritunggal ini. Filsafat-filsafat Gerika sangat mempengaruhi gereja-gereja di timur (Yunani Ortodoks), sedangkan pikiran-pikiran Latin sangat mempengaruhi gereja di Barat (Khatolik). Akibatnya timbullah semacam dua pandangan yang ekstrim terhadap doktrin Allah Tritunggal ini. Pandangan yang pertama menganggap adanya tiga allah, sedangkan pandangan kedua menganggap hanya ada satu allah yang menyatakan diri dalam tiga keadaan yang berbeda.
Konsep dan bentuk Allah Tritunggal ada dalam salah satu ayat yang penting di Perjanjian lama, yaitu di dalam Ulangan 6:4 yang oleh orang Yahudi disebut sebagai ayat Syamma (Ayat Mas). Di sana Allah berkata Israel melalui Nabi Musa “Hei, Israel dengarlah Allahmu (bentuk jamak/elohim) adalah Allah yang Esa (tunggal)” Bagaimana kita bisa Allah Tritunggal? Tiga tetapi satu, satu tetapi tiga. Jika dipaksa kita bisa gila untuk mengertinya. Memang tidak ada analoginya, tidak ada rasionalisasi yang cukup untuk menjelaskan Tritunggal. Waktu saya masih SMA sekitar kelas II, ada teman saya yang Muslim yang bertanya kepada saya begini, “Kok bisa ya orang Kristen punya Tuhan yang beranak dan percaya kepada ajaran Trinitas, kamu bisa jelaskan ga kepada saya kenapa Tuhan kalian itu tiga tetapi juga satu?” Dia tambahkan lagi “bukankah 1+1+1=3, kok tiga bisa satu lagi, gimana dong?” Lalu saya diam sejenak dan mencoba mengingat-ingat khotbah pendeta-pendeta yang pernah saya dengar di mimbar, dan buku yang say yang ada menyinggung tentang Allah Tritunggal. Ironisnya pada waktu saya mulai masuk SMA iman saya mengalami kemunduran yang luar biasa, saya sempat lebih dari setahun tidak ke gereja. Salah satu alasannya mungkin karena kecewa kepada teman-teman Kristen saya yang tidak bisa dijadikan teladan, dan juga khotbah para pendeta yang kurang meyakinkan saya ditambah kesaksian hidup mereka yang tidak sepenuhnya seperti yang dituntut Firman Tuhan. Dan kalau sekarang saya pikir-pikir ternyata jawaban saya itu ngawur dan tidak meyakinkan, serta tidak sesuai dengan ajaran Tritunggal di Alkitab. Pada waktu itu saya jawab begini, “Menurut yang saya dengar dan ketahui dari pendeta-pendeta yang berkhotbah sich, Tuhan kami itu bukan tiga, tetapi satu saja, cuman Dia menyatakan diri dalam tiga bentuk, pertama sebagai Bapa, kemudian Dia turun ke dunia menjadi Yesus Kristus dan setelah Dia naik ke surga Dia menjadi Roh Kudus. Dia tetap Tuhan yang satu/Esa” Lalu saya beranalogi lagi untuk teman saya yang Muslim itu, “Con\ba kamu bayangkan manusia itu kan punya tiga unsur: tubuh, jiwa dan roh, saya tanya dia lagi, apakah kamu itu tiga manusia karena kamu memiliki tubuh, jiwa dan roh?” Dia jawab, “tidak”. Nah, begitulah Tritunggal menurut kami. Kemudian dia tidak bertanya lagi, kurang tahu apakah dia Cuma punya modal pertanyaan segitu atau dia malah bingung dengan jawaban saya itu, dan kemudiaan dia Cuma mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “O…begitu ya? Ya udah ga apa-apa kita beda agama, yang penting kita tetap teman. Begitu katanya. “Ya”, saya bilang.
Setelah saya duduk di bangku kuliah dan baru sekitar 2 tahun yang lalu setelah saya bertemu dengan seorang saudara di salah satu perseketuan di kota saya, dan ketika saya mempelajari teologi, mendengarkan kaset khotbah hamba Tuhan yang saya kagumi di generasio ini dan dari buku-buku teologi sitematika dan buku-buku rohani yang dimiliki, saudara yang saya kenal itu, saya menyadari bahwa jawaban saya itu ternyata salah. Bahkan jawaban saya itu tanpa saya sadari ternyata mewakili ajaran Sabelius yang hidup pada abad kedua, yang dikenal dengan Sabelianisme. Ternyata ini ajaran bidat yang mirip dengan Patripachianisme (Bapa ikut sengsara di kayu salib). Tetapi Tritunggal Alkitab setelah saya pelajari bukan seperti Sabelianisme atau Patripachianisme. Itu bukan konsep Tritunggal, tetapi Tritopeng, Triperanan atau Trifungsi.
Begitu juga dengan banyak ajaran dari para pengkhotbah di Indonesia, sehingga tidak sedikit juga orang Kristen yang terpengaruh sehingga ketika ditanya tentang Allah Tritunggal terkadang mereka, kalau tidak diam dan pura-pura tahu, memberikan analogi-analogi seperti berikut ini. Ada yang menggambarkan Allah Tritunggal seperti Matahari, Sinarnya, dan Panasnya. Itulah Allah Tritunggal, kata mereka. Analogi ini (mirip dengan konsep Plato) dianggap cara yang terbaik oleh banyak orang untuk mejelaskan Tritunggal. Namun, saya berkata ilustrasi itu tidak mencakup Analogi Allah Tritunggal. Sebab sinar matahari bukanlah matahari, kehangatan matahari atau energinya bukanlah matahari. Tetapi di dalam analogi ini memang memiliki signifikansi tersendiri (bdk Ibrani 1:3 dan Yoh 1:18). Ada juga yang berpendapat bahwa Allah Tritunggal itu seperti gambaran Air, Uap dan Es. Mereka berkata (mungkin ahli kimia kalia ya, hehe…). Jika air didinginkan ia menjadi es, kalau dipanaskan menjadi uap. Ketiga unsur itu tidak sama tetapi ketiganya memiliki kode kimia yang sama yaitu H2O. Itulah Tritunggal. Analaogi seperti ini juga sembarangan, makanya saya sering bilang kepada teman-teman saya sebelum mengajar orang lain itu, tolong banyak belajar terlebih dahulu. Di dalam analogi tentang Air, Uap dan Es itu hanya memaparkan sebagian saja dari pengertian Tritunggal, hanya menunjukkan kesamaan esensinya saja, tetapi air bisa jadi es, es bisa jadi uap sedangkan dalam Tritunggal Alkitab, Bapa tidak bisa jadi Yesus, dan Yesus tidak bisa jadi Roh Kudus, Roh Kudus tidak bisa jadi Bapa atau Anak. Bapa adalah Bapa, anak adalah anak, dan Roh Kudus adalah Roh Kudus, tidak bisa ditukar-tukar. Tidak habis dengan semua anologi di atas ada lagi yang beranalogi seperti saya dulu menjawab pertanyaan salah seorang teman saya yang Muslim, yaitu tentang tubuh, jiwa dan roh, di dalam satu diri manusia . Inilah Tritunggal. Cara inipun tidak bisa menjelaskan kesulitan Tritunggal. Bagaimana kita bisa memisahkan tubuh, jiwa dan roh? Jika kita paksakan, maka jiwa/roh manusia bukanlah manusia, tubuh manusia bukanlah manusia itu sendiri.
Lalu ada lagi yang beranalogi tentang Bapa, Sopir dan Direktur. Mereka mengatakan tiga fungsi itu di dalam seorang diri. Di rumah ia sebagai bapa, di luar ia menjadi sopir dan di kantor ia adalah seorang direktur perusahaan. Analogi ini pun sama sekali salah. Sebab Allah Bapa tidak pernah menjadi Allah Anak, Allah anak tidak pernah menjadi Allah Roh Kudus dan Allah Roh Kudus bukanlah Allah Bapa. Konsep yang tidak beres seperti di atas harus dikoreksi di seluruh Indonesia.
Kalau semua analogi dan usaha yang dilakukan di atas tidak berhasil adakah cara lain yang bisa menjelaskan Tritunggal? Saya katakan di depan memang tidak ada rasionalisasi yang memadai untuk menguraikan Tritunggal, maka benar, bahwa doktrin ini tidak gampang, tapi bukan kontradiksi. Saya mengutip pendapatnya Pdt. Dr. Stephen Tong untuk menjelaskan Tritunggal tapi memang inipun bukan jawaban yang paling tuntas, masih ada yang perlu ditanyakan. Pak Tong memakai relasi ganti analogi. Beliau berkata di dalam seminarnya tentang Tritunggal yang beliau bahas selama kurang lebih 6 jam bahwa orang Kristen hanya punya satu Kitab Suci, yaitu Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi jika orang orang Kristen hanya memiliki satu Kitab, bagaimana semua orang Kristen membacanya, bukankah harus antri? Jawabanya adalah tidak perlu, kita bisa masing-masing membeli satu kitab. Aapakah di sini orang Kristen jadi punya banyak kitab? TIDAK. Tetap hanya ada satu kitab, tetapi kitab saya bukan kitab kamu, dan kitab kamu bukan kitab dia. Tetapi kita semua hanya punya satu kitab. Waktu saya minta anda dan dia untuk buka Injil Yoh 1:1 maka di kitab anda, saya dan dia tercatat bunyi Firman Tuhan yang sama yaitu: “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Kita akan membaca firman yang sama”. Pada gambaran ini Pak Tong memberikan suatu gambaran yang lebih tepat dari analogi dan perumpamaan-perumpamaan sebelumnnya, tetapi ini bukan analogi, hanya merupakan relasi. Adanya volume dan esensi. Tapi tetap gambaran inipun tidak bisa tuntas menjelaskan Tritunggal, tetap ada kelemahaman dan menimbulkan pertanyaan lagi, yaitu mengapa harus berhenti pada tiga? Bukankah bisa empat, bisa lima atau lebih banyak lagi? Tetapi Allah Tritunggal hanya berhenti sampai tiga, tidak bisa dikurangi atau ditambah. Angka tiga menjadi angka eklusif untuk Allah Tritunggal. Di sinilah misterinya. Jangan Allah selalu dimengerti dengan konsep 1+1+1=3. Tidak bolehkah kita mengertinya dengan 1×1x1=1? Ada juga yang mencoba 1 ~1~1= ~. Tapi kesulitannya adalah yang tak terhingga tidak perlu ditambah lagi dengan apapun yang lain. Sekali lagi tidak ada rumus matematisnya dan tidak ada pendekatan rasional atau analogi tertentu yang bisa mengupas Ketritunggalan Allah yang begitu agung itu. Mungkin sampai ke dalam kekekalan pun ini akan menjadi misteri. Tapi satu hal yang harus kita yakini bahwa Allah Tritunggal itu benar adanya. Ia adalah Allah yang Esa yang terdiri dari tiga Oknum (Bapa, Anak dan Roh Kudus). Ia adalah allah yang transenden. Sekarang kita masuk ke dalam pembahasan tentang konsep Keesaan Allah.
Allah Yang Esa
Dari manakah konsep Tritunggal itu berasal? Apakah Tritunggal merupakan konsep Gerika? Konsep filsafat abad pertama hingga keempat? Apakah hasil kesimpulan Bapa-Bapa Gereja? Atau ini merupakan konsep yang murni berasal dari kitab suci (Alkitab)? Silakan anda pelajari dan selidiki konsep-konsep filsafat yang penting dan paling klasik mulai dari Thales, Socrates, Plato, dan Aritoteles. Adakah konsep Tritunggal di dalam filsafat mereka? Saya yakin anda tidak akan menemukannya. Karena pada jaman itu bahkan sebelum masa Socrates, orang-orang percaya dan berbakti kepada dewa-dewa. Artinya mereka percaya kepada lebih dari satu dewa atau allah. Orang yang pertama di dalam sejarah Gerika yang mencetuskan bahwa dia percaya kepada Allah yang tertinggi dan Allah yang satu-satunya yang sejati adalah Socrates. Dialah orang pertama di dalam jamannya yang mencetuskan pernyataan itu, bahwa dia percaya pada satu Allah yang tertinggi. Demikian juga Allah menurut konsep Plato, meskipun konsepnya mirip, tetapi itu bukanlah konsep Tritunggal yang asli seperti yang dimaksudkan oleh Alkitab. Plato mengatakan bahwa Allah itu seperti suatu terang, lalu ada cahaya yang keluar darinya dan ada hangat yang berada di dalamnya. Ketiganya itu adalah satu. Namun apa yang dipikirkan oleh Socrates dan Plato ini baru merupakan semacam Wahyu Umum. Karena Wahyu Umum berdasarkan Roma 2:19-20 sudah diberikan oleh Allah kepada setiap ciptaan-Nya, baik Kristen maupun bukan. Tapi karena distorsi dosa di dalam diri manusia sehingga pengertian akan Allah yang sejati telah menjadi kabur dan tidak murni lagi. Karena Wahyu Umum tidak cukup, makanya Allah memberikan Wahyu Khusus kepada umat-Nya supaya kita bisa mengenal siapa Allah yang sejati itu.
Memang istilah Tritunggal pertama kali dicetuskan oleh seorang yang bernama Tertulianus sekalipun perkembangan doktrin Tritunggal pada waktu itu belum sempurna, tetapi Tertulianus sudah mencapai keadaan yang sangat sehat. Sebelum dia ada seorang yang bernam Origen dari Aleksandri Utara Mesir. Dia mengakui Tritunggal tapi agaknya menurut dia Yesus Kristus sedikit lebih rendah daripada Bapa. Tapi Tertulianus sudah memberekan pandangan Origen itu. Dan ada lagi seorang tokoh bernama Athanasius yang turut membela doktrin ini, bahkan sebagai akibatnya ia pernah 5 kali dikucilkan oleh gereja. Pada waktu itu ada 2 kekuatan yang tidak seimbang di gereja. Mayoritas golongan percaya Yesus lebih rendah dari Bapa (dipengaruhi oleh sabelianisme dan Arianisme). Sehingga Athansius harus melawan mayoritas. Tahun 325 peperangan doktrin ini dihentikan dengan menghasilkan keputusan besar, dimana Athanasius yang ditentang oleh golongan mayoritas akhirnya memenangkan perdebatan. Tapi sayang keputusan ini diambil terlalu tergesa-gesa dan Kaisar Romawi yang bernama Konstantin (yang telah menjadi Kristen) memihak pada Athanasius sehingga perdebatan itu berakhir. Namun sebenarnya kebenaran teologi tidak perlu ditolong oleh kuasa politik, tetapi seharusnya memperoleh pengertian yang diberikan oleh Roh Kudus. Itulah sebabnya Athanasius dan rivalnya menyatakan ketidakpuasannya mereka karena kemengan itu diberikan oleh forum (Kaisar) kepadanya Athanasius. Doktrin Allah Tritunggal setelah beberapa puluh tahun masa Athanasius itu, barulah bisa diterima oleh gereja dengan baik
Konsep Allah Yang Esa, pertama merupakan sumbangsih terbesar dari orang-orang Ibrani kepada dunia. Orang-orang Ibrani (Israel) berbeda dengan semua bangsa di dunia tentang Allah yang mereka sembah. Mereka mengatakan bahwa Allah Israel adalah Allah seluruh alam semesta. Bagi saya ini adalah suatu konsep yang sangat besar dan penting karena menerobos semua konsep agama. Allah adalah Allah yang menghakimi seluruh bumi (Kej 18;25). Allah yang Esa itu bersifat universal dan supra-alamiah. Allah yang Esa itu adalah Allah yang harus dihormati dengan segenap hidup kita. Di Kitab Perjanjian Lama ada satu ayat kunci atau disebut sebagai “Ayat Syamma”, Ayat Mas untuk mengerti seluruh Taurat, yaitu Ulangan 6:4-5 yang berbunyi: Dengarlah, hai Israel: Tuan itu Allah kita, Tuhan itu Esa!
Konsep Allah Yang Esa, kedua merupakan pernyataan Allah yang serius, sehingga Ia menuntut sesuatu dari setiap orang yang menerima Wahyu Khusus ini. Artinya adalah kita harus serius bersembah sujud hanya kepada-Nya, tidak boleh ada allah lain di hadapan-Nya. Inilah konsep yang luar biasa yang membedakannya dari konsep agama.
Konsep Allah Yang Esa, ketiga merupakan konsep dasar untuk mengerti sifat Allah yang transenden (melampaui segala sesuatu), kudus, mutlak, sempurna dan kekal.
GOD IS ONLY ONE. Alla itu Esa adanya. Kalau Allah itu Esa, bagaimana kita bisa percaya kalau di dalam Keesaan Allah itu terdapat tiga Pribadi? Apakah di dalam keesaan-Nya ketiga Pribadi itu tidak bertentangan? Bagaimana kita bisa percaya bahwa ketiga di dalam Ketritunggalan Allah itu tetap adalah Allah Yang Esa? Di dalam satu ada tiga dan di dalam tiga tetap mempunyai Keesaan; bagaimana hal ini dijelaskan? Satu hal yang penting, yaitu kita sebaiknya jangan mengerti konsep ini dengan konsep yang terikat oleh hukum matematika atau hukum logika manusia. Allah bukanlah refleksi dari pikiran manusia tentang yang supra-alamiah. Tetapi Allah adalah Allah yang transenden. Ia tidak terikat oleh hukum apa pun termasuk hukum logika yang ada di dunia ini. Ia di atas rasio manusia dan melampaui segala sesuatu kita. God beyonds everything.
Ajaran Tritunggal merupakan Wahyu Allah yang diberikan kepada manusia secara progresif. Artinya Tuhan memberikan Wahyu kepada manusia secara progresif atau bersifat semakin maju, makin lama makin jelas (Progressive Revelation).
Kepercayaan yang benar adalah kepercayaan kepada satu Allah yang mempunyai tiga Pribadi, bukan kepada tiga allah. Pengertian yang keliru tentang Allah Tritunggal ini bisa menyebabkan orang jatuh ke dua kutub ekstrim yang salah: (1) Monoteisme yang percaya kepada satu Pribadi Allah dan tidak menerima konsep Oknum Allah yang lebih dari satu; (2) Politeisme yang percaya kepada tiga allah yang tidak mungkin Esa, tidak mungkin mempunyai substansi yang sama. Kedua pandangan ini SESAT dan merusak pengenalan kita terhadap Allah yang benar.
Karena itulah untuk mencegah konsep yang salah Tuhan terlebih dahulu menegakkan konsep dasar: Allah itu Esa. Ia adalah Allah satu-satunya. Konsep Tritunggal sudah diwahyukan sejak mula sekali, sejak di permulaan kitab Kejadian.
Sekarang kita mau melihat istilah yang mengindikasikan Keesaan Allah. Di dalam Kej 1:26, 3:22, 11:7, dan Yes 6:8, Allah memakai kata ganti “Kita” untuk menyebut diri-Nya sendiri, bukan “Saya”. Ada yang berani menafsirkan Kita di sini menunjukkan perundingan antara Allah dan malaikat. Benarkah begitu? Ini sama sekali salah! Sebab Allah tidak pernah bersama-sama malaikat menciptakan manusia. Bahkan malaikat sendiri diciptakan oleh Allah (Yehezkiel 1:5-14, 9:3, 10:1-22). Mencipta adalah pekerjaan Allah sendiri. Kita di dalam Kej 1:26 ingin menunjukkan bahwa itu adalah perundingan di antara pribadi-Pribadi yang berada di dalam Diri Allah Yang Esa. Di sini doktrin Tritunggal sudah dinyatakan meskipun dalam bentuk yang tidak jelas.
Kemudian sebutan Elohim bagi Allah. Kata Elohim merupaka kata yang bermakna jamak, seperti yang pernah saya tuliskan di beberapa komentar saya bahwa bahasa Ibrani adalah bahasa yang unik, yang mempunyai keajaiban tersendiri. Tuhan begitu teliti memilih bahasa untuk dijadikan-Nya sebagai media wahyu-Nya. Dalam bahasa Ibrani untuk menjelaskan jumlah benda dikenal tiga kata yaitu Singular (tunggal), Dual (ganda) dan Plural (jamak). Nah di dalam Alkitab sebutan TUHAN selalu muncul dalam bentuk jamak. Memang kata jamak bisa berarti lebih dari tiga, tetapi setiap kali Alkitab menyebut tentang TUHAN sering ucapan itu muncul diulangi tiga kali (Bil 6:24-26, Yes 6:3). Orang Israel juga punya kebiasaan menyebut Bait TUHAN tiga kali (Yer 7:4).
Namun ada juga yang membantah bahwa penggunaan Kita merupakan sesuatu yang umum di dalam pembentukan bahasa-bahasa di Timur Tengah dalam menyebut Tuhan sebagai (majestic plural). Hal itu memang benar namun tidak berarti bahwa kita menyangkal Allah telah menyatakan diri dengan cara yang berbeda dari cara-cara bangsa lain menyebut illah atau dewa-dewa mereka. Kitab kejadian yang ditulis oleh Musa muncul jauh sebelum kebiasaan orang-orang di Timur Tengah dalam menyebut sesembahan mereka dengan bentuk plural (jamak) itu.
Di dalam Alkitab, Allah menyatakan diri sebagai Allah yang berkarya. Ada begitu banyak karya Allah, namun ada tiga karya yang sangat besar sehingga hanya Allah sendiri yang bisa mengerjakannya. Ketiga karya itu adalah Mencipta (Creator), Menebus (Redeemer) dan Mewahyu (Revealer). Allah sebagai Pencipta, Penebus dan Pewahyu inilah yang menyebut dirinya dengan sebutan Kita, bahwa Ia adalah Allah yang lebih dari satu Pribadi. Kalau jamak itu bisa berarti lebih dari satu, dua dan tiga, mengapa Alkitab hanya berhenti pada tiga pribadi? Mengapa bukan empat, lima dan seterusnya? Ini memang tersembunyi dan tidak ada jawaban. Tetapi selain ketiga Pribadi ini yang dinyatakan di dalam Wahyu Progresif, tidak ada pribadi yang lainnya lagi. Angka tiga menjadi angka eksklusif dan sempurna dari diri Allah. Namun, satu hal yang harus diperhatikan bahwa di dalam ayat-ayat yang saya sebutkan di atas, yaitu bentuk predikat (kata kerja) yang mengikuti sebutan Allah selalu memakai kata kerja untuk bentuk tunggal. Biasanya subjek berbentuk jamak diikuti predikat yang berbentuk jamak juga, dan kalau subjek berbentuk tunggal maka predikat atau kata kerjanya diikuti oleh bentuk tunggal pula. Tapi di sini Alkitab mencatat Elohim (bentuk jamak dari El) mengerjakan sesuatu, selalu dengan kata kerja atau predikat tunggal.
Sebelum kita masuk lebih jauh tentang pembahasan ketiga Pribadi dalam Allah Tritunggal ini, saya mengajak kita terlebih dahulu melihat bagaimana Allah yang kita sembah itu dikatakan sebagai Allah yang Esa namun yang berpribadi. Apa syarat sesuatu bisa disebut sebagai suatu pribadi (oknum)? Seperti yang pernah saya tulis di beberapa komentar saya di blog blogger yang lain, tapi di sini saya akan pertegas lagi, bahwa ada tiga unsur yang terdapat di dalam sesuatu yang disebut pribadi, yaitu (1) Unsur Rasio [bisa berpikir, mempunyai pengertian akan kebenaran]; (2) Unsur Emosi [bisa mencintai, membenci, sedih, berduka, sukacita dsb]; (3) Unsur Kemauan [memiliki kebebasan untuk bertindak menurut kemauan yang ada]. Dengan demikian saya mau ajukan satu pertanyaan, khususnya kepada mereka yang menentang Allah tidak berpribadi, Apakah Bapa, Anak dan Roh Kudus tidak memiliki tiga unsur yang saya sebutkan di atas? Kalau Allah tidak berpribadi mana mungkin Dia bisa melakukan poin-poin dari ketiga unsur di atas. Kita juga manusia dicipta oleh Allah sebagai manusia yang berpribadi, bahkan natur kita dicipta sesuai peta dan teladan Allah. Allah Tritunggal adalah Allah Yang Esa yang terdiri dari Tiga Pribadi atau di dalam satu Esensi diri Allah, ada tiga pribadi.
Saat Yesus dibaptis di sungai Yordan, Ia menunjukan kepribadian-Nya pada saat yang sama dan bermunculan bersama-sama dengan Roh Kudus turun ke atas Anak, dan Bapa berfirman dengan lantang penuh kasih. Saat penciptaan, dimana Bapa mencipta, Anak berfirman, dan Roh Kudus yang memulihkan (melayang-layang) sempurna. Saat Pencurahan Pentakosta, dimana Bapa mengutus, Anak yang memberikan Roh Kudus, dan Roh Kudus tercurah pada murid-murid Yesus yang ada di atas loteng. Saat Yesus berada di atas gunung, setelah Ia meneladani manusia dengan berdoa, Ia menunjukkan kemuliaan-Nya dan menampakkan kepribadian-Nya dengan wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang, kemudian Roh Kudus turun, dan awan yang terang menaungi 3 orang murid Yesus. Bapa dari dalam awan itu memperdengarkan suara-Nya dan berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
Allah Tritunggal adalah Allah yang tidak terbatas, yang melampaui segala sesuatu. Ia adalah Allah yang tidak ada bandingnya. Memang di seluruh Alkitab baik dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, istilah Allah Tritunggal tidak terdapat di sana. Namun ajaran Tritunggal terdapat di Alkitab mulai kejadian samapai Wahyu. Jadi, meskipun istilahnya tidak ada bukan berarti konsepnya tidak ada. Sebaliknya meskipun istilah ada tapi kalau salah ditafsirkan menjadi bukan kebenaran Alkitab (Firman Tuhan). Di Perjanjian baru Para Rasul sangat menghayati pengertian akan Wahyu yang diberikan kepada mereka tentang Tritunggal ini, sekalipun mereka mengalami dan menghayatinya secara tidak sadar dan tidak menguraikannya secara istilah. Hal ini nampak dalam tulisan-tulisan mereka seperti dalam I Pet 1:2, dan yang paling jelas adalah di dalam DOA berkat yang Rasul Paulus berikan kepada jemaat-jemaat, yang sekarang dijadikan standar oleh pendeta di seluruh dunia, yaitu di dalam II Kor 13:13.
Allah Tritunggal adalah Allah yang saling huni, artinya Allah yang memiliki Kepribadian Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah sederajat, setingkat, setaraf, sehati, setujuan, tidak terpisahkan, dan berjalan bersama-sama. Kepribadian Allah dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus (ke-tritunggal-an Allah) tidaklah pernah sama dengan manusia yang memiliki dua kepribadian, dimana tiap kepribadian tidak bisa berjalan bersama-sama dalam saat yang sama, sedangkan Allah kita berbeda.
Allah Bapa (Oknum Pertama)
Konsep Kristen menyebut Allah sebagai Bapa mungkin tidak menjadi suatu soal yang terlalu sulit diterima oleh agama lain (walaupun mereka tetap menentangnya, kok Tuhan ada Bapa-Nya?), dibanding dengan konsep menyebut Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan juga sebagai Tuhan-Juru Selamat manusia. Karena itu saya tidak akan terlalu berpanjang lebar menulis tentang Pribadi atau Oknum Pertama dari Allah Tritunggal ini yang ada di Alkitab orang Kristen. Saya akan menguraikan cukup panjang lebar pada bagian pembahasan tentang Pribadi atau Oknum Kedua dari Allah Tritunggal, Yesus Kristus.
Di catatan Perjanjian Lama ada lebih dari 40 kali Allah menampakkan diri kepada para nabi dan penulis kitab-kitab Perjanjian Lama. Silakan baca kisah di Kejadian 2:15-3:21). Kemudian Abraham berjumpa dengan Tuhan (kej 12:6-7 dan Kej 18). Tuhan menampakkan diri kepada Ishak (kej 26:1-6), Yakub bergumul dengan Allah di sungai Yabok (Kej 32:22-32), Musa bercakap-cakap dengan Allah di gunung Horeb (Kel 3:1-4:17), Yosua bertemu Tuahn (Yos 5:13-15) dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain. Di perjanjian Lama tercatat bahwa Allah menampakkan diri kepada manusia lebih dari 40 kali. Namun di sisi lain Alkitab juga mengatakan tidak seorangpun yang pernah melihat Allah karena Allah memang tidak bisa dilihat (Yoh 1:18a). Apakah itu berarti yang dilihat oleh orang-orang di Perjanjian Lama adalah bohong dan khayalan seperti yang banyak ditafsirkan oleh para psikolog modern dan para penentang Alkitab, termasuk para ateis? Jawabannya adalah pada waktu di dalam Perjanjian Lama dikatakan Allah menampakkan diri sebenarnya itu adalah cara Tuhan menampakkan diri kepada manusia dengan cara yang disebut dengan cara antropomorfi (Yunani: anthopos=manusia, morphe=bentuk). Maksudnya Allah menyatakan diri kepada mata manusia dalam rupa atau bentuk manusia atau dalam hal yang bisa dilihat oleh manusia. Istilah yang dipakai di ayat-ayat Perjanjian Lama itu biasanya memakai kata Utusan/Malaikat Allah. Lalu siapa sebenarnya yang dilihat oleh orang-orang di perjanjian lama itu jika kita adukan dengan Yoh 1:18a? Sebenarnya yang menampakkan diri kepada mereka itu bukan pribadi Allah Bapa, tetapi Utusan Tuhan (The Messenger of God). Bapa memang tidak pernah turun ke bumi, bahkan kemungkinan Pribadi Kedua (Yesus Kristus) lah yang sebenarnya yang pernah menampakkan diri secara sementara di peristiwa-peristiwa di Perjanjian Lama itu; inilah yang dimaksud dengan antropomorfi. Antropomorfi tidak sama dengan Inkarnasi. Di dalam inkarnasi-Nya Yesus betul-betul bersalut dengan daging dan darah, betul-betul dilahirkan melalui anak dara Maria dan hidup di tengah-tengah manusia, sehingga Ia disebut Immanuel yang berarti Allah beserta kita (Mat 1:23). Jadi, orang-orang di Perjanjain Lama sebenarnya sudah melihat Kristus dan ini artinya tidak bertentangan dengan kalimat yang mengatakan bahwa tak seorangpun pernah melihat Allah (Yoh 1:18a), karena memang Allah tidak bisa dilihat. Ia berada di tempat dan di tahkta-Nya yang tak bisa dinampak oleh mata jasmani manusia, tetapi Anak Tunggal yang ada di pangkuan Bapa lah yang menyatakan-Nya. Maksudnya adalah Allah Bapa (Pribadi Pertama) tidak pernah menyatakan diri dalam bentuk fisik sehingga tidak pernah dilihat oleh mata fisik manusia. Tetapi Allah Anak pernah turun ke dalam dunia menyatakan siapa Allah (Bapa) itu kepada umat manusia. Puji Tuhan! Kita bersyukur dan memuji HALELUYA kepada Tuhan sebab Dia pernah turun ke dalam dunia untuk menebus dosa kita sehingga kita bisa kembali mengenal siapa Allah (Bapa) yang sejati di dalam Yesus Kristus itu.
Kesimpulan:
Allah Bapa adalah Pribadi Pertama di dalam Allah Tritunggal. Ia dikenal sebagai Bapa Pencipta. Allah Bapa tidak pernah berinkarnasi (jelma menjadi manusia). Dia memiliki akal budi, perasaan dan kehendak (syarat sesuatu disebut Pribadi atau oknum). Bapa tidak pernah menjadi Anak dan Roh Kudus. Allah Bapa (Kepribadian Bapa) tidak pernah lebih tinggi atau lebih rendah daripada Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah Bapa setara dengan Allah Anak (Yesus Kristus) dan Allah Roh Kudus karena Ketiga Pribadi itu adalah Allah yang Esa itu sendiri (1 Taw 29:11) Allah Bapa adalah Allah yang menjadi sumber segala sesuatu. Ia adalah Allah yang transenden dan tidak terbatas. Jadi, Allah Bapa adalah sebagai Bapa yang memelihara, yang memberikan kasih seorang Bapa Sejati yang sangat mesra, begitu penyayang dan begitu tertib penuh ketegasan (disiplin). Bapa Sorgawi tidak pernah sama dengan para bapa dunia ini dalam hal kasih dan karakter yang tidak dapat terbandingi dengan kasih dan karakter Bapa Sorgawi. Allah sebagai Bapa Sorgawi merupakan Bapa yang sempurna dari segala bapa (bapak-bapak atau para ayah) dunia ini yang adalah gambaran dan rupa (duplikat dan bayangan) dari Sang Bapa Sorgawi yang murni. Amin!
Allah Anak (Oknum Kedua)
Konsep Kristus sebagai Anak Allah sulit diterima oleh agama lain, termasuk yang muncul setelah Kekristenan. Karena mereka menganggap Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Mereka menganggap keempat injil yang mencatat Kristus adalah Anak Allah sebagai penyelewengan dan mereka mengutip ayat-ayat di Alquran untuk mendukung fitnahan/tafsiran mereka itu. Sebelum lebih jauh lagi ijinkan saya bersaksi sedikit di sini untuk mempertegas lagi blog kesaksian saya sebelumnya di luar topik ini. Saya ikut “agama” Kristen sejak kelas 1 SMP. Sebelumnya latar belakang kami adalah agama suku. Konsep Tuhan punya anak pun begitu sulit pada awalnya saya terima. Bahkan ada keluarga dan kerabat saya yang mengatakan bahwa Maria itu pasti hamil di luar nikah. Kalau Yesus Anak Tuhan kok bisa? Masa Tuhan bersetubuh dengan manusia? Itulah pandangan sempit, naïf dan klasik yang dituduhkan keluarga dan beberapa kerabat saya tentang Yesus. Namun pada waktu saya di SMP itu, saya termasuk yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan gereja. Ada teman saya yang sering membawa saya ikut kebaktian-kebaktian, tapi ironisnya saya dengar beritanya pada tahun 2008 ini, teman saya yang dulunya sering membimbing saya mengenal Tuhan, kini malah sebaliknya tidak sungguh beriman lagi kepada Kristus. Saya kaget dan menangis mendengar hal itu. Itu mengingatkan saya akan peristiwa pada waktu saya SMP yang rajin ke gereja itu. Tetapi ketika saya mulai duduk di bangku SMA, dimana saya tinggal di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam, sehingga sedikit banyak saya tahu pandangan-pandangan mereka. Berita buruknya adalah saya hampir terpengaruh dan mengikuti mereka dan iman saya goncang luar biasa. Kemudian pada waktu saya di SMA itu saya sendiri juga menjadi orang yang berbalik melawan Alkitab sehingga saya tidak melawan teman-teman saya yang beragama lain yang sering bertanya kepada saya tentang Pokok-Pokok Kekristenan. Saya hanya menjelaskan seadanya. Saya sering baca buku-buku mereka, termasuk dialog-dialog teologis. Saya selalu mencoba untuk menemukan buku-buku perbandingan agama. Dan keyakinan saya pada waktu itu akan Alkitab makin luntur sehingga saya berkeyakinan semakin kuat bahwa Alkitab tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit yang ada di dunia ini, termasuk serangan Alquran. Dan ketika saya sampai duduk di bangku kuliah di kota ini pun sampai beberapa semester, saya berkata di dalam diri saya yang paling dalam bahwa saya mungkin tidak bisa jadi Kristen karena saya masih belum menemukan kebenaran-kebenaran yang kuat di dalam Alkitab. Saya malah sering mendebat teman-teman saya yang Kristen dan juga beberapa hamba Tuhan.
Namun sekarang saya bersyukur kepada Allah Tritunggal, Allah yang begitu Agung dan satu-satunya yang benar di bawah kolong langit ini yang saya yakini, sebagaimana tulisan saya di blog KESAKSIAN saya, bahwa sejak kurang lebih dua tahun yang lalu, oleh kuasa gerakan yang ajaib dari Roh Kudus saya sudah dibawa kembali untuk mengenal Sang Bapa dan masuk ke dalam kerajaan Allah dengan mengakui Anak-Nya (Yesus Kristus) sebagai Tuhan - Juru selamat saya pribadi (Yoh 4:16). Buku-buku ajaran Kristen yang berbasis reformed injili dan Hamba Tuhan yang seperti Pdt. Dr. Stephen Tong, dan Pdt. Budi Asali, M.Div dan Ir. Herlianto, M. Div juga memiliki andil dalam pertobatan saya untuk kembali kepada Kristus melalui buku-buku, artikel-artikel dan khotbah mereka. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan karena mengijinkan saya berkenalan dengan teologi reformed dan bertemu dengan hamba-hamba-Nya itu meskipun saya secara pribadi tidak mengenal mereka secara dekat, dan mereka pun juga tidak. Tapi saya bersyukur sekali kepada Tuhan ada hamba-Nya yang luar biasa itu, khususnya pak Stephen Tong. Memang itu merupakan pergumulan yang luar biasa dan tidak mudah bagi saya untuk memutuskan menyerahkan hidup saya kepada Tuhan Yesus Kristus. Saya bisa percaya kepada-Nya bukan karena semata-mata pekerjaan para hamba Tuhan itu, tapi saya yakin sekali karena Allah yang sudah memberikan anugerah-Nya kepada saya untuk menjadi umat-Nya. Saya juga percaya kepada Tuhan Yesus Kristus bukan karena ingin kaya berlimpah harta atau berkat-berkat jasmani (karena memang hal itu dicari setiap bangsa di duni ini), tapi saya percaya kepada-Nya sekali lagi karena Roh Kudus yang memampukan dan menyadarkan saya untuk melihat KEBENARAN-KEBENARAN yang ada pada Yesus Kristus di dalam Alkitab orang Kristen yang ternyata baru saya sadari begitu kuat dan luar biasa. Dan sekarang saya berusaha untuk terus mengikut jejak kaki-Nya meskipun saya tidak secara khusus dipanggil untuk menjadi pendeta atau hamba Tuhan yang full time melayani jemaat di gereja. Tapi paling tidak saya bisa bersaksi kepada lingkungan di sekitar saya, tempat saya kuliah dan kepada orang-orang yang saya kasihi yang sampai saat ini belum percaya kepada Tuhan (bahkan salah seorang saudara saya telah beriman kepada iman yang lain, karena alsan tertentu. Saya sedih sekali, tapi saya serahkan saja kepada Tuhan dan saya berkeyakinan bahwa barang siapa yang dipilih-Nya pasti juga akan disempurnakan-Nya. Umat-Nya tidak akan pernah kehilangan keselamatan-Nya karena saya percaya akan doktrin predestinasi Tuhan Allah).
Baiklah, sekarang kembali ke masalah tafsiran para penentang Alkitab tadi yang mengatakan bahwa Alkitab orang Kristen sudah diselewengkan, diubah dan sebagainya. konsep Kristen. Allah memang tidak menikah dengan seorang perempuan sehingga melahirkan Yesus Kristus. Istilah atau konsep Allah memperanakkan Kristus sebenarnya sudah muncul sejak di Perjanjian Lama. Silakan baca di Kis 20:30; 2 Pet 2:1; dan Mat 24:24-25 ) saya tidak sempat lagi sertakan kalimat-kalmatnya karena tulisan ini sudah cukup panjang. Apakah masih ada yang bertahan untuk membacanya? Baiklah sekarang kita masuk pembahasan tentang apa artinya Oknum kedua Allah Tritunggal, Yesus Kristus dilahirkan Hari ini di Maz 2:7. Apa artinya “Engkau telah Kuperanakkan (Kulahirkan) pada hari ini” di dalam Maz 2:7? Ada juga ayat yang menunjukkan konsep tentang Anak Allah di Amsal 30:4. Allah adalah Allah yang kekal, melampaui batasan waktu; Dia tidak perlu waktu, tapi bukan tidak memiliki waktu, sebaliknya Dialah pencipta waktu sehingga waktu tidak mengikat-Nya. Oleh karena itu hari ini di dalam Maz 2:7 itu berarti hari ini di dalam kekekalan, Yesus dilahirkan oleh Bapa; ini adalah kelahiran kekekalan yang selalu bersifat sekarang, yang melampaui proses waktu. Sedangkan istilah dilahirkan menunjukkan Dia bukan diciptakan. Sebutan Anak Allah Yang Tunggal bagi Yesus mengindikasikan bahwa Dia satu-satunya yang dilahirkan, BUKAN dicipta. Yesus adalah satu-satunya Pribadi yang pernah hadir di dalam sejarah umat manusia tanpa melalui ciptaan. Adam ada karena dicipta oleh Allah meskipun ia tak berbapa dan beribu, tetapi Yesus ada karena Ia ada. Secara Ilahi Yesus Kristus mempunyai Bapa, tetapi tak mempunyai ibu, sedangkan secara jasmani Ia tak mempunyai bapa, tetapi mempunyai ibu (Maria). Jadi Dia seperti Melkisedek. Baik Gnostiksisme, Arianisme, Saksi Yehowa maupun Witness Lee (penerus Watchman Nee di Tiongkok, ajaran Watchman Nee dan Witness Lee ada di kota saya, dan saya mempunyai beberapa teman yang ikut gereja mereka) mereka percaya bahwa Yesus adalah ciptaan Allah. Khususnya saksi Yehowa yang mengatakan bahwa Yesus bukan Allah Yang Mahatinggi; Dia bukan Allah Yang Kekal; Dia adalah Allah di bawah Allah, sehingga Dia tidak Mahakuasa. Menurut mereka meskipun Yesus menciptakan segala sesuatu, tapi Dia bukan Allah Yang Mahakuasa. Dan Para Saksi Yehova berani sekali dengan mengubah dan menterjemahkan sebutan Allah disertai kata sandang tak tentu di dalam Yoh 1:1 menjadi seorang allah, Firman itu adalah seorang allah. (Ini adalah suatu jawaban kepada para Saksi Yehowa dan mereka-mereka yang ada di SABDAspace ini yang mengatakan Yesus dicipta oleh Allah). Yesus memang bukan ciptaan karena Dia sendiri adalah Allah itu sendiri, bagaimana Allah menciptakan Allah. Karena kalau begitu lebih dari satu Allah dong, sedangkan orang Kristen mengakui Allah itu Esa. Jadi tolong rendah hati lah dan belajar lagi bagi mereka yang mengatakan Yesus dicipta. Itu bidat, sekte atau ajaran yang sesat. Istilah Anak Tunggal Bapa itu juga membedakan Yesus Kristus dari Roh Kudus, meskipun Roh Kudus juga bukan dicipta karena. Dia adalah Allah sendiri. Roh Kudus tidak dilahirkan, tetapi keluar dari Bapa (proceed) dan Anak. Sekali lagi Maz 2:7 mengutarakan kelahiran kekal dari Yesus Kristus, tetapi dalam proses sejarah hal itu dibuktikan pada waktu Dia bangkit. Meskipun ditinjau dari sudut kemanusiaan-Nya dikatakan Allah Bapa yang membangkitakan Dia (kis 2:32, 3:15, 13:33-35, 17:31), tapi ditinjau dari sudut keilahian-Nya Dia adalah Allah Yang Hidup (The self-defendant-God atau The self-existent-God)). Yesus berkata, “Akulah Kebangkitan dan Hidup” (Yoh 11:25 bdk Yoh 5:19-29). Jadi, sekali lagi Yesus adalah Allah yang mempunyai sumber hidup dari diri-Nya sendiri. Yesus Kristus juga adalah manusia. Ini disaksikan-Nya sendiri (Mat 8:20; 16:13) dan juga oleh orang-orang (mrk 6:3; Yoh 7:27; 19:5). Namun demikian Yesus Kristus adalah Allah juga, sehingga Ia setara dengan Alla (Bapa). Di dalam Maz 97:7; Ibrani 1:6; 1 Raw 29:11; dan Why 5:12 Yesus berlayak untuk disembah. Ia juga layak dipercaya atau diimani (Maz 2:12; 1 Pet 2:6; Yer 17:5,7; Yoh 14:1), menerima segala hormat (Yoh 5:23), berkuasa membangkitkan yang mati (Yoh 5:21; 6:40, 54). Kemudian Bidat Saksi Yehowa menafsirkan dengan keliru lagi Filipi 2:5-7. Mereka mengatakan kalau Yesus sendiri tidak menakui diri-Nya setara dengan Allah. Padahal maksud ayat –ayat itu adalah Yesus memang setara dengan Allah tetapi Ia tidak mempertahankan itu dan dengan rela Dia datang ke dunia bersalut darah dan daging sehingga Ia dijadikan setara dengan dengan kita. Waw, betapa agungnya kasih-Nya itu pada kita. Siapa sich kita kok sampai sebegitunya Allah terhadap kita? Karena kita diciptakan segambar dengan-Nya dan menjadi ojek kasih-Nya, manusia menjadi mahkluk ciptaan-Nya yang penting. Kita dicipta oleh-Nya dan untuk-Nya pula.
Jadi, konsep Anak Allah (Yesus Kristus) sudah dinubuatkan dalam banyak ayat di Perjanjian Lama. Namun saat ini ingin membahas salah satu ayat nubuatan tentang Yesus Kristus di dalam Mikha 5:1. Dimana di sana disebutkan bahwa Ia yang akan bangkit dari Betlehem Efrata (Kota kelahiran Yesus) mempunyai permulaan sudah sejak purbakala (Ibrani: Arche), dari kekekalan. Jadi, ini berarti Yesus Kristus yang dilahirkan sebagai manusia mempunyai sifat ilahi, sebab Dia sudah ada sejak dalam kekekalan. Di dalam Yesaya 9:6 Yesus mendapatkan 5 predikat yang menunjukkan bahwa Dia bukan manusia biasa; tetapi Dia mempunyai sifat Ilahi.
1. Yesus disebut Ajaib (bdk Hakim-Hakim 13: 18). Di dalam bahasa Inggris “Wonderful” sedangkan dalam Ibrani akar kata untuk sebutan ini adalah “Pala”.
2. Yesus disebut Penasehat, menunjukkan bahwa Dia adalah Pribadi yang maha bijak, yang menjadi Sumber Bijaksana (bdk Yesaya 28:29). Di dalam bahasa Inggris untuk sebutan ini memakai “Counsellor”.
3. Yesus disebut Allah Yang Perkasa, menunjukkan bahwa Dia adalah Pribadi yang berkuasa. Di dalam bahasa Inggris untuk sebutan ini memakai “The Mighty God”. Ayat ini dikutip oleh Bidat Saksi Yehowah dan menafsirkannya dengan sembarangan untuk menyangkal bahwa Yesus adalah Allah. Mereka berkata bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa Yesus adalah Allah Yang Maha Kuasa (The Almighty God). Memang benar di ayat ini sebutan untuk Yesus adalah “The Mighty God” (Allah Yang Perkasa/Allah Yang Kuasa). Namun, ini karena di dalam ayat ini dikatakan bahwa Yesus menjadi bayi, hingga terbatas. Maksudnya ayat ini melukiskan inkarnasi-Nya dimana tadinya Dia adalah Allah yang tidak terbatas membatasi kuasa-Nya dan menjelma menjadi manusia (The Incarnated God), bahkan menjadi seorang bayi. Melalui Inkarnasi Kristus masuk ke dalam keterbatasan, sehingga manusia pada umumnya tidak melihat Kemahakuasaan-Nya secara nyata; hanya kadang-kadang saja Kemahakuasaan-Nya nampak di dalam tindakan-tindakan-Nya seperti meyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan sebagainya. Tetapi di dalam Kekekalan-Nya Yesus tidak terbatas (Cob abaca Yoh 6:62). Kita harus mengerti Kristus di dalam periode inkarnasi-Nya dan juga di dalam Kekekalan-Nya. Di dalam Periode inkarnasi-Nya memang Yesus terbatas (membatasi diri-Nya), bukan saja di dalam kemahakuasan-Nya, tetapi juga di dalam kesempurnaan-Nya, perkataan-Nya, bahasa-Nya, kemauan-nya dan pengetahuan-Nya, sehingga Ia pernah berkata kepada seorang pemuda yang memanggil-Nya dengan sebutan Guru yang baik, Ia menjawab, “Mengapa engkau katakan Aku baik, hanya allah yang baik. Yesus juga pernah mengatakan bahwa Bapa lebih dari pada diri-Nya, tentang hari kiamat malaikat tidak tahu, Anak pun tidak tahu, hanya Bapa yang tahu. Apakah Yesus benar-benar tidak maha besar dan tidak maha tahu? Sekali lagi di sini Yesus membatasi diri-Nya di dalam periode inkarnasi-Nya. Inilah paradoks yang sering disalahmengerti dan dianggap kontradiksi oleh orang-orang yang tidak sungguh-sungguh rendah hati belajar tentang kebenaran. Mengaku ahli, kaum terpelajar, cendekiawan, teolog tetapi tidak tuntas mengerti kebenaran seperti ini. Saya katakana Alkitab adalah sumber segala kebenaran. Barang siapa yang rendah hati takluk di bawah pengertian Alkitab, di bawah pimpinan Roh Kudus maka niscaya mereka akan terhindar dari konflik-konflik yang tak berkesudahan. Alkitab cukup untuk menjawab segala macam kesulitan di seluruh alam semesta ini, jika kita sungguh-sungguh belajar dan meneylidikinya dengan rendah hati. The Bible completes over all.
4. Yesus disebut Bapa (yang) kekal. Ini adalah satu-satunya ayat di dalam Alkitab dimana Yesus disebut sebagai Bapa. Tetapi ini bukan berarti bahwa Ia adalah Pribadi Pertama (Allah Bapa) karena seluruh Alkitab mengajarkan Yesus Kristus diutus oleh Bapa, jadi Yesus tidak sama dengan Bapa. Di sini Yesus di sebut sebagai Bapa atau Bapa Kekekalan untuk menunjukkan menunjukkan bahwa Dia adalah Sumber dari segala sesuatu. Di dalam bahasa Inggris untuk sebutan ini memakai “The Everlasting Father”.
5. Yesus disebut Putera Raja damai. Ini menunjukkan bahwa Dia adalah Sumber Damai yang sejati, yang memberikan damai yang sesungguhnya kepada dunia. Tanpa Yesus tidak ada perdamaian sejati di dunia ini. Di dalam bahasa Inggris untuk sebutan ini memakai “The Prince of Peace”.
Yesaya 9:6 yang saya jabarkan di atas menunjukkan sifat-sifat ilahi Yesus Kristus, Dia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi dan Kudus (Luk 1:32-35). Dia adalah Tuhan dan Juru Selamat. Jadi, kenapa kita mengakui dan percaya bahwa Yesus Kristus itu Tuhan? Karena Alkitab menyaksikan bahwa Dia memang bersifat ilahi seperti yang terdapat dalam Yes 9:6 di atas. Selain itu yang lebih menggembirakan lagi adalah pengakuan yang keluar dari Yesus kristus sendiri (Yoh 8:56-59 bdk Mat 22:23-32). Yesus bereksistenasi melampaui proses waktu. Dia adalah Allah yang transenden, yang tidak digeser oleh waktu. Dia ada sebelum segala sesuatu ada, di ayat itu Yesus mengatakan bahwa Dia ada bahkan sebelum Abraham ada (Before Abraham was, Jesus is). Di Yoh 8:56-59 itu merupakan suatu diskusi Kristologis yang sangat penting antara Kristus yang berinkarnasi, dengan mereka yang menganggap diri mengenal Alkitab. Dan di Lukas 20:41-44 dan Filipi 2:9-11 Yesus kristus memberikan suatu rangsangan, inspirasi untuk mencerahkan orang-orang dengan iluminasi yang sangat besar, yaitu “Tahukah, bahwa Aku adalah Allah?” Inilah yang saya sebut sebagai Wahyu Progresif, dimana Allah menyatakan diri yang makin lama makin jelas dan memberikan suatu petunuk kepada realita yang akan datang. Seharusnya kita juga demikian bisa memandang Yesus dengan iman dan pengertian terhadap-Nya yang melampaui / menerobos batas sifat kemanusiaan-Nya yang bertubuh fisik. Orang liberal mengenal Yesus Kristus hanya dari Betlehem saebagai titik awal sampai ke Golgota sebagai titik akhir. Sehingga mereka hanya melihat Yesus sebagai moralis yang agung, seorang pemimpin agama yang besar, pahlawan yang berkorban yang dapat dijadikan teladan segala jaman. Pengertian seperti ini tidak cukup. Kita harus memiliki pandangan yang melampaui itu semua sampai ke dalam kekekalan, karena Ia adalah Allah itu sendiri.
Injil Yohanes memiliki prinsip Kristologi yang paling penting dan tajam di dalam seluruh Alkitab. Ayat yang sudah sangat terkenal namun singkat berkut ini, yaitu Yoh 1:1-3, mengandung arti yang demikian dalam dan mulia. Pada waktu Firman itu keluar, berarti ada yang menjadi Sumber dan ada Yang keluar dari Sumber itu. Firman keluar dari Allah; sebelum keluar Firman itu bersama-sama dengan Allah di dalam kekekalan, dan Firman itu juga adalah Allah. Firman itu adalah kristus, sebab itu Kristus bersifat ilahi. Kristus bersama-sama dengan Allah. Lo, apa itu berarti ada dua Allah? Bukan! Di sini yang Allah adalah esensi/hakekat (sifat dasar) Nya, tetapi di sini memang kita melihat ada dua Pribadi, tetapi bukan dua Allah. Pengertian di Yoh 1:1 melampau batas tempat. Allah (Bapa) menyatakan diri-Nya melalui Firman (Yesus Kristus) yang dikeluarkan-Nya, dan Firman yang keluar menjadi buah Wahyu-Nya (Roh Kudus) sehingga yang mendengar Firman menerima Wahyu (Penyataan Allah). Firman itu dikeluarkan dengan perantaraan Roh Kudus, seperti kita berkata-kata melalui nafas. Roh Kudus adalah Pewahyu Firman Allah dalam bentuk kata-kata sebagaimana Alkitab mengatakannya.
Kesimpulan:
Allah Anak (Yesus Kristus) adalah Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal. Yesus Kristus adalah Allah dan juga manusia. Dia memiliki akal budi, perasaan dan kehendak (syarat sesuatu disebut Pribadi atau oknum). Anak tidak pernah menjadi Bapa dan Roh Kudus. Anak (Kepribadian Yesus Kristus) tidak pernah lebih tinggi atau lebih rendah daripada Allah Bapa dan Allah Roh Kudus, kecuali dalam periode inkarnasi-Nya dimana sebagai Anak Dia membatas diri-Nya. Yesus Kristus setara dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus karena Ketiga Pribadi itu adalah Allah yang Esa itu sendiri (Maz 97:7; Why 5:12). Jadi, Allah Anak adalah Allah sebagai teladan dengan Ia merendahkan diri-Nya dalam rupa manusia dan mengenakan nama Yesus yang adalah Kristus (Allah yang berinkarnasi atau Allah yang datang sebagai manusia), taat pada semua hukum yang telah Ia tetapkan, mati di kayu salib, dikuburkan, lalu bangkit pada hari yang ketiga, dan naik ke sorga dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Ia adalah teladan iman sejati dan sumber kehidupan bagi orang Kristen. Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang terbesar dengan menjadikan Anak-Nya mati di kayu salib. Ini adalah berita Injil yang adalah kekuatan Allah. Alkitab menyatakan bahwa (Yesus Kristus) merupakan Anak sulung Allah dari semua anak-anak Allah maksudnya adalah bahwa Anak pun merupakan “Sahabat Sejati” yang rela mengorbankan Nyawa-Nya dan tidak menyayangkannya sama sekali untuk manusia dapat diterima sebagai anak-anak Allah.
Allah Roh Kudus (Oknum Ketiga)
Ada banyak pengertian yang salah mengenai identitas Roh Kudus. Ada beberapa yang menganggap Roh Kudus sebagai suatu kuasa mistis. Yang lainnya memandang Roh Kudus sebagai semacam kuasa yang Allah berikan kepada para pengikut Kristus. Apa yang Alkitab katakan mengenai identitas Roh Kudus? Secara sederhana – Alkitab mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Allah. Fakta bahwa Roh Kudus adalah Allah dapat dilihat dengan jelas dalam banyak ayat-ayat Alkitab, termasuk Kisah Rasul 5:3-4. Dalam ayat ini Petrus mengkonfrontir Ananias yang berbohong kepada Roh Kudus dan memberitahu dia bahwa Ananias bukan “mendustai manusia tetapi mendustai Allah.” Ini adalah merupakan sebuah pernyataan yang jelas bahwa berbohong kepada Roh Kudus adalah berbohong kepada Allah. Kita juga mengetahui bahwa Roh Kudus adalah Allah karena Dia memiliki atribut-atribut atau karakteristik-karakteristik Allah. Contoh bahwa Roh Kudus mahahadir dapat dilihat dalam Mazmur 139:7-8: “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau.” Kemudian di dalam 1 Korintus 2:10 kita menemukan kemahatahuan dari Roh Kudus. “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.” Kita mengetahui bahwa Roh Kudus adalah suatu Pribadi karena Dia memiliki akal budi, perasaan dan kehendak. Roh Kudus berpikir dan mengetahui (1 Korintus 2:10). Roh Kudus dapat berduka (Efesus 4:30). Roh Kudus berdoa syafaat bagi kita (Roma 8:26-27). Roh Kudus membuat keputusan sesuai dengan kehendakNya (1 Korintus 12:7-11). Roh Kudus adalah Allah, “Pribadi” ketiga dari Tritunggal.
Kesimpulan:
Allah Roh Kudus adalah Pribadi Ketiga di dalam Allah Tritunggal. Ia memiliki akal budi, perasaan dan kehendak (syarat sesuatu disebut Pribadi atau oknum). Roh Kudus tidak pernah menjadi Bapa dan Anak. Allah Roh Kudus (Kepribadian Roh Kudus) tidak pernah lebih tinggi atau lebih rendah daripada Allah Bapa dan Allah Anak. Allah Roh Kudus setara dengan Allah Bapa dan Allah Anak karena Ketiga Pribadi itu adalah Allah yang Esa itu sendiri (Kel 17:7; Kis 5:3-4; Yes 6:3,8-10). Jadi, sebagai Allah, Roh Kudus dapat betul-betul berfungsi sebagaimana yang tertulis di dalam injil Yohanes 14:16, 26; 15:26. Dia adalah Allah sebagai Pembimbing, Pendamping, Penolong, Penyerta, dan Penghibur yang tidak terlihat, namun berada dalam hati setiap manusia yang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan hidup di dalam-Nya. Roh Kudus bukanlah tenaga aktif. Roh Kudus bukanlah kebijaksanaan (pikiran) tertinggi dari seluruh alam jagad kosmik. Roh Kudus bukanlah manusia tokoh pendiri suatu agama baru. Roh Kudus tidak pernah berbau hal yang mistik. Memang benar bahwa Allah itu maha kuasa, tetapi Roh Kudus itu bukan sekedar kuasa atau kekuatan, tetapi Roh Kudus adalah Allah sendiri, sebab Allah itu Roh adanya. Dengan demikian Roh Kudus adalah Pribadi Allah itu sendiri dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Allah.
*Kesimpulan dan Penutup*
Doktrin Allah Tritunggal merupakan Doktrin yang sangat penting di dalam Kekristenan. Doktrin ini menjadi doktrin yang mutlak dibutuhkan di dalam beriman (an absolute necessity doctrine in our faith). Doktrin Allah Tritunggal bukan doktrin yang mudah untuk dipahami. Tetapi yang sulit tidak berarti kontradiktif. Kalau sulit tidak berarti bahwa doktrin ini tidak boleh dipelajari atau diajarkan. Kita harus menjadi orang yang rasionil bukan rasionalis. Sehingga hendaknya kita menaklukan seluruh rasio kita di bawah kuasa kebenaran dan kedaulatan-Nya yang Mahatinggi.
Doktrin Tritunggal jika disalahmengerti akan menimbulkan 2 pandangan ekstrim:
1. Percaya akan tiga allah (triteisme)
2. Percaya akan satu allah yang memakai 3 topeng (sabelianisme)
Kedua ajaran tersebut bukan ajaran Kristen. Karena tidak sesuai dengan Tritungga Alkitab. Sampai saat ini baik Yudaisme (agama Yahudi sekarang), Islam, Unitarian, Saksi Yehova tidak bisa menerima Doktrin Tritunggal Alkitab ini. Jadi, apakah tritunggal itu? Allah Tritunggal adalah Allah yang unik. Konsep Tritunggal hanya ada di dalam Perjanjian Lama dan perjanjian Baru. Di luar Alkitab tidak ada kemungkinan manusia mempunyai pengertian mengenai Tritunggal. Doktrin Allah Tritunggal merupakan doktrin Kristen yang monoteistik (Tapi bukan Monoteisme ekstrim) bukan doktrin yang bersifat teistik (Triteisme) atau politeistik (Politeisme). Allah Tritunggal adalah Allah Yang Esa yang mempunyai Tiga Pribadi (Oknum): (1) Allah Bapa, (2) Allah Anak (Yesus Kristus), dan (3) Allah Roh Kudus. Tiga Pribadi itu bukan tiga Allah, dan satu Allah tidak berarti satu Pribadi. Ketiga Pribadi ini mempunyai sifat dasar atau esensi (Ousia dalam bahasa Yunani) yang sama, yaitu Allah. Barang siapa yang tidak percaya Allah itu adalah Allah Tritunggal, maka ia tidak berhak percaya dan mengakui Allah itu kasih adanya, sebab jika Allah itu monoteistik ekstrim tetapi bukan Tritunggal yang berpribadi 3, siapakah yang menjadi objek kasih-Nya sebelum segala sesuatu diciptkan, pada waktu Allah di dalam kekekalan-Nya? Allah harus Tritunggal karena dikatakan di Alkitab bahwa di antara Ketiga Pribadi itu saling mengasihi, sehingga di dalam kekekalan sebelum segala sesuatu (ruang dan waktu) diciptakan-Nya, Allah tidak menjadi Allah yang sepi, tetapi saling mengasihi di antara Pribadi-Pribadi Tritumgggal itu. Karena itu di dalam agama apapun di luar kekristenan tidak ada ungkapan Allah itu Kasih (God is Love), sebab mereka tidak mampu menggabungkan Allah yang tunggal dengan Allah yang kasih dan kekal. Jadi hanya di dalam Allah Tritunggal, Allah adalah Kasih. Karena itu ia menuntut kita untuk melakukan perintah-Nya di Ulangan 6:5.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Biarlah segala kemuliaan kita dikembalikan hanya kepada Allah Tritunggal (Soli DEO Gloria). Tuhan Memberkati, amin!
Thanx and GBU by Samuel Rudi Desfortin
Reference:
Book of God the Trinity by Rev. Dr. Stephen Tong
Small Book of Bible Concordance
Other Chrstian Literatures
This blog has been posted in www.sabdaspace.org