Samuel’s Blog

Just another Friendster Blogs weblog

WITH GOD WE CAN (A Reflection for the Old & New Year)

Posted by desfortin on December 31, 2008

(Renungan Rohani Akhir Tahun 2008 dan Menyongsong Tahun Baru 2009)

Oleh:
Desfortin

Tanpa terasa tahun 2008 akan segera berakhir dan menjadi tahun yang lama, dan dalam beberapa menit lagi kita akan menyongsong dan beranjak ke tahun yang baru, 2009. Maka seperti biasa berbagai pesta pun digelar, ada yang berkumpul di rumah dengan pesta keluarga sambil nonton bareng, ada yang mengadakan ibadah-ibadah di gereja dan persekutuan, ada juga yang kumpul bareng teman-temannya dengan membuat pesta sederhana dan sebagainya, namun biasanya mayoritas orang-orang tumpah ruah ke jalan dan berada di lokasi-lokasi tertentu untuk menghadiri kemeriahan acara menyambut tahun baru 2009. Dan tradisi meniup terompet dan meledakkan petasan atau pesta kembang api tetap menjadi tradisi dalam merayakan tahun baru khususnya di Indonesia, dan suara letupannya akan terdengar tepat pukul 00:00 tengah malah nanti. Di Palangka Raya sendiri, tempat dimana saya tinggal sekarang, pusat acara untuk merayakan kemeriahan tahun baru ini sedang digelar di bundaran besar. Setelah berdoa secara khusus sekitar pukul 22:30 malam ini, maka kemudian mungkin saya akan datang sekedar untuk melihat keramaian dan menyaksikan pesta kembang api yang akan digelar tepat pukul 00:00 tengah malam ini di bundaran besar (ada the Titans katanya, padahal saya bukan “band musik mania”, hehe….).
Sebentar lagi Tahun 2008 akan berlalu. Tentunya banyak perasaan, pengalaman, kenangan, jejak dan realita yang sudah kita lalui dan alami di tahun 2008 ini, ada suka, senang, ceria maupun duka, sedih, dan lara. Tahun 2008 bagi saya adalah tahun yang luar biasa. Ada banyak pengalaman atau kesan yang saya rasakan selama 12 bulan sejak tanggal 1 Januari 2008 yang silam. Pengalaman pertama yang menyenangkan bagi saya di tahun ini adalah saya bisa menggarap skripsi saya dan bisa seminar dengan nilai yang sangat memuaskan. Pengalaman kedua yang menyenangkan dan juga sangat berkesan adalah bahwa di tahun 2008 ini pula aku mengenal beberapa milis diskusi rohani seperti SABdaspace (Komunitas Blogger Kristiani) dan AKU PERCAYA (Diskusi Kristen Internasional) serta bergabung menjadi anggota beberapa waktu yang lalu. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan, karena melaluinya saya merasakan dampak yang luar biasa terhadap pemahaman iman Kristen saya. Melalui SABDAspace saya semakin rindu untuk mempelajari Firman Tuhan lebih mendalam dan serius lagi. Saya sungguh-sungguh merasakan dampaknya. Terimakasih saya ucapkan kepada kawan-kawan di komunitas itu, khususnya di SS, yang pertama kepada Ko Hai Hai, seorang blogger Tionghoa Kristen yang sudah memberikan inspirasi kepada saya melalui tulisan-tulisannya yang sangat luar biasa memberkati saya (So nice to know you Ko, I hope we can be friend n hopefully someday, I don’t know when, we can meet each other, karena KOPDAR kalian bulan Januari 2009 tahun depan itu bakal saya lewatkan). Kemudian terima kasih kepada blogger-blogger yang lain yang juga memberikan inspirasi kepada saya, seperti Dede Wijaya (blogger yang khas dengan teologi Fundamentalisnya, lawan diskusi saya juga cuma memang sekarang agak jarang saya ladani, karena saya lagi mempersiapkan tulisan untuk menanggapi tulisannya khususnya tentang 43 poin kritiknya terhadap gereja dan hamba Tuhan di Indonesia itu, kalau sudang matang n siap mungkin baru saya posting, hehe …sori anak kecil mencoba berani), kemudian terima kasih kepada Erick (Blogger yang menurut saya paling banyak pakai Bhs. Inggrisnya n pernah protes gaya saya nulis, dan saya suka n terkadang ladani juga, see ya next time bro/sis?? Hehe …), Jesus Freaks (Mr. Asking for me, cool bro, ciri khas lo itu lo yang suka bikin jlimet n nanya terus, SS jadi berwarna gito lo, hehe…) Petrus Wijayanto (lawan debat saya, seru bung debat dengan anda, membuat saya semakin menyelidiki Alkitab tentang nama YHWH yang anda bawa dan ajarkan di SS ini, meskipun kita beda pendapat n ga pernah saling ketemu n terkadang ada gemesnya juga karena masing-masing kekeh jumekeh, tapi tetap persaudaraan di dalam Tuhan kita jaga, hehe …), terima kasih Bintang7, Awam (anda ga jauh beda dengan Pw, lawan debat saya, dan perdebatan kita bisa dilanjutkan tahun depan, hehe ….), terima kasih buat yang lain yang ga bisa saya disebutin satu per satu: Dennis S, REF, DeTa, Sandra Aulia, SF, dll. Pokoknya seru berdiskusi dan berbagi dengan kalian semua. Once again thanx n Happy New Year for you all.
Namun di tengah perasaan senang saya itu, saya juga ada sedikit merasa kesepian karena sejak perayaan Natal beberapa waktu yang lalu sampai sekarang saya tidak pulkam alias tidak bisa bertemu Ortu dan keluarga atau orang-orang yang saya cintai yang tinggal jauh dari kota ini, di daerah asli saya. Perayaan Natal dan Tahun Baru kali ini saya rayakan tanpa mereka. Sedih juga sich, tapi tahun depan we will gather again. Saya di sini hanya bisa bergabung dengan teman-teman saya yang lain dalam merayakan natal maupun tahun baru ini. Namun, saya bersyukur kepada Tuhan, Dia senantiasa menuntun saya dalam melewati hari-hari saya di sini, khususnya ketika sedang berdiskusi di SABDAspace ini. Thanx God, I let your joy and peace always reign in my heart.
Suatu renungan bagi kita bahwa di tahun 2008 ini juga mungkin sudah banyak keberhasilan dan kesuksesan yang kita gapai, yang kita raih baik dari segi materi maupun non materi. Namun, kegagalan pun nampaknya tidak terlepas dari kehidupan kita baik dari segi hidup berbangsa dan bernegara kita. Mengapa demikian? Semuanya itu memberikan kita suatu peringatan dan pelajaran, bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna, yang selalu sukses tanpa kegagalan. Tapi kita adalah orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Secara nasional, nampaknya sudah banyak kemelut dan permasalahan yang di hadapi oleh negara kita Indonesia ini, dan pemerintah sudah dengan segala daya upaya berusaha memikirkan dan memperjuangkan nasib negara tercinta ini. Secara internasional, di penghujung tahun 2008 ini kita juga mendengar, membaca dan menonton berita di media massa, baik di radio, surat kabar maupun di televisi (meskipun ini sebenarnya kasus yang sudah sejak lama dan belum berakhir) bahwa di belahan dunia lain situasi keamanan tidak menentu dan kondusif, sehingga rakyat nampaknya tidak bisa sepenuhnya merasakan dan mengalami kedamaian. Ya, itulah kasus Israel vs Palestina yang nampaknya memang tidak pernah berujung, mungkin sampai dunia ini kiamat ketika Kristus datang kembali sebagai Hakim Yang Adil. Dalam beberapa waktu terakhir ini kita mengetahui bahwa kasus di antara kedua negara tersebut semakin memanas, bahkan lebih parah lagi korban jiwa yang ditimbulkannya. Dan menurut beberapa sumber di media massa bahwa tentara Israel sampai saat ini sudah menewaskan rakyat Palestina lebih dari 300 orang (mungkin > lagi). Suatu jumlah yang tidak sedikit akibat dari aksi kekerasan yang katanya membabi buta itu. Negara-negara lain di dunia khususnya Islam marah besar dan mengutuk aksi Israel yang brutal ini. Mereka mengatakan ini sebagai kebiadaban dari Israel terhadap kemanusiaan. Ini memang melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional. Saya sendiri tidak mau membela Israel, juga tidak pro Palestina. Benarkah Israel yang harus selalu menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam hal ini? Mengapa hanya Israel yang selalu dituduh sebagai penyebab kekerasan di Timur Tengah? Kenapa kita tidak bisa berpikir kristis dan netral tanpa memihak satu kubu tertentu? Bukankah dikabarkan juga bahwa Israel melakukan serangan itu untuk membalas serangan kelompok Hamas di daerah Gaza? Namun yang kemudian menjadi korban adalah banyak dari rakyat biasa, yang tidak terlibat langsung dengan pihak yang bertikai, dimana orang-orang non Kristen berkata bahwa mereka yang menjadi korban kebiadaban Israel itu sebagai orang yang tak berdosa. Benarkah itu? Benarkah mereka itu manusia yang tidak berdosa? Apa arti kesucian itu sebenarnya? Sejak dulu negara-negara di Timur Tengah, khususnya Israel dan Negara-negara Islam memang selalu bertikai, dan nampaknya sukar untuk diselesaikan. Bahkan PBB pun, yang katanya Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas membela perdamaian dunia dan HAM internasional, tidak mampu memperdamaikan Timur Tengah. Apakah PBB sudah memperdamaikan dunia? Omong Kosong. Bahkan PBB yang menjadi dasarnya sampai sekarang adalah tulisan pemikiran / ide dari seorang Filsuf bernama Imanuel Kant. Imanuel Kant dulu waktu dia hidup pernah menulis satu makalah yang berjudul Toward Eternal Peace (Menuju Perdamaian Abadi). Tulisannya inilah yang mempengaruhi PBB sampai sekarang. Bisakah dunia ini berdamai? Bukankah makin hari situasi di belahan bumi yang lain pertikaian dan konflik menjadi hal yang tidak asing lagi untuk didengar dan disaksikan? Inikah yang disebut mencari perdamaian? Kenapa semakin berkonflik? Bahkan situasi di Israel dan Palestina sekarang semakin ganas. Suasananya begitu tidak kondusif. Inilah suasana perang, suasana dimana kedamaian nampaknya jauh dari mereka. Dan orang-orang Muslim khususnya sangat membela Palestina. Mereka begitu benci dengan Zionisme Israel, sehingga kata-kata kafir dan mengutuk pun berhamburan dilontarkan dari mulut mereka yang mengaku agamais dan membela agama mereka. Kelompok Muslim di Indonesia pun tidak mau kalah dan mau bersimpati katanya dengan saudara-saudara mereka yang Muslim di sana, meskipun orang-orang Kristen juga banyak tinggal di Palestina dan ikut menjadi korban oleh pihak yang bertikai di Timur Tengah itu. Hari ini 31 Desember 2008, di Indonesia beberapa kelompok dan organisasi Muslim turun ke jalan-jalan berorasi memprotes dan mengutuk tindakan Israel itu dan mereka juga menyerukan agar umat Muslim di seluruh dunia bersatu padu melawan kebengisan dan kebiadaban Israel ini. Benarkah cara ini akan menyelesaikan masalah? Bukankah ini akan semakin memperburuk keadaan dan sehingga nantinya akan mengancam stabilitas negara? Benarkah cara menyelesaikan masalah seperti ini, dimana kejahatan dibalas dengan kejahatan, darah dibalas dengan darah? Apakah itu bukan tindakan yang provokatif yang akan semakin menyulut api amarah? Dan kalau kita khalaf apa yang akan terjadi? Bukankah kemungkinan tindakan membabi buta serta membunuh orang lain dengan mengatasnamakan agama pun bisa terjadi? Bisakah dibenarkan tindakan seperti itu.
Nampaknya dunia belum sadar juga. Mereka meraba-raba, mencari-cari kedamaian yang sejati tetapi sayangnya mereka tidak menemukan sumber damai yang tepat. Dunia angkuh dengan dengan segala sistemnya. Gejala apakah ini? Apa yang salah? Pertikaian antara Israel dan Palestina bukan semata-mata masalah agama (agama Yahudi vs Islam), tetapi juga politik dan kepentingan lain. Namun memang semuanya campur baur jadi satu, sehingga terkadang sulit dibedakan. Yang saya sesalkan adalah mereka orang Islam yang sok tahu, sok simpatik dan sok solider dengan Palestina hanya gara-gara mereka beragama sama dengan mereka maka membela Palestina dan mengutuk Israel mati-matian. Lalu di manakah keadilan itu? Lebih menyedihkan lagi mereka yang menamakan diri Kristen, tapi juga membela Palestina dan membenci Israel. Tapi saya melihatnya sebagai orang Kristen bahwa apa yang dilakukan oleh kedua negara yang bertikai adalah sama-sama buruknya, sama-sama bobroknya. Kenapa? Karena kedua negara itu sama-sama keras kepala. Masing-masing ingin mempertahankan kepentingannya. Masing-masing ingin unjuk gigi. Apakah akan ada solusi ketika kekerasan dibalas dengan kekerasan, darah dibalas dengan darah? Bukankah cara itu adalah cara yang menunjukkan bahwa mereka sangat jauh dari Tuhan? Bisakah dibenarkan ajaran yang membunuh demi agama dan membom diri itu sebagai ajaran yang akan mendapatkan puji-pujian dari Tuhan? Ternyata benarlah nubuat di Alkitab bahwa kelak akan ada orang-orang yang menghalalkan segala cara dengan membunuh dan membakar namun dengan mengatasnamakan Tuhan atau membela Tuhan dan agama mereka.
Adakah damai yang sejati itu? Kalau ada dimanakah damai yang sejati itu? Siapakah orang yang bisa memberikan damai itu? Dan bagaimanakah cara memperolehnya? Jawababnya adalah ADA. Damai itu ada di dalam Tuhan yang sejati. Alkitab berkata di Mika 5: 1 bahwa ada seorang utusan dari sorga seorang yang bukan dari dunia ini, yang namanya disebutkan orang Penasehat Ajaib dan Raja Damai (the Prince of Peace). Siapakah dia yang pernah dinubuatkan oleh nabi ribuan tahun yang lalu. Dialah Yesus Kristus, Anak Allah, Firman Allah yang jelma menjadi manusia. Ia adalah Allah sendiri yang turun ke dunia yang berinkarnasi bersalut darah dan daging untuk menebus dosa umat-Nya dan memberikan damai yang sejati ke dalam hati manusia serta hidup yang kekal. Hanya di dalam Yesus Kristus kedamaian sejati itu nyata. Hanya di dalam Dialah kita bisa diselamatkan (Kis 4:12; Yoh 14:6). Karena itu marilah kita merenungkan kembali hidup kita selama ini, khususnya selama tahun 2008 yang segera akan kita tinggalkan dan dalam beberapa menit lagi kita akan beralih ke tahun 2009. Biarlah kita berkontemplasi sejenak secara pribadi sambil menaikan doa kepada Bapa Sorgawi di dalam nama Yesus Kristus dan merefleksikan iman kita di hadapan-Nya sambil berkata, “Tuhan apa yang sudah aku lakukan di tahun 2008 ini baik untuk-Mu maupun lingkungan di sekitarku? Ampunilah aku jikalau selama ini aku hidup tidak memuliakan-Mu dan biarlah di tahun yang baru, tahun 2009 aku akan memiliki hati dan semangat yang baru serta lebih lagi setia kepada-Mu dan melakukan perkara-perkara bersama-Mu. Aku yakin hanya bersama Engkau Tuhan aku bisa, Amin.”
Apa harapan kita di tahun 2009? Akankah tahun depan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya? Apakah tantangan dan segala kesulitan hidup akan berkurang? Bagaimana dengan situasi politik tahun depan, di mana pada tanggal 9 April 2009 pesta demokrasi kembali digelar? Apakah kita akan mendapatkan pemimpin yang ideal yang sesuai dengan harapan kita? Bagaimana situasi ekonomi kita tahun depan? Bagaimana dengan krisis keuangan global yang melanda kita sampai saat ini? Siapakah orang yang mampu menjadi jaminan untuk menyelesaikannya? Yakinkah anda kalau Amerika yang katanya Negara adikuasa itu, yang menguasai segala bidang termasuk perekonomian dimana pada tahun 2008 ini Barack Obama, Presiden Amerika yang terpilih itu mampu mengatasi kesulitan ekonomi global ini? Banyak orang berharap Obama mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada. Saya tidak apriori, kita memang harus memiliki optimisme. Tetapi juga kita harus menyadari dan bertanya siapakah dia, dia bisa jamin? Bukankah dia juga manusia biasa yang tentunya punya kelebihan dan kekurangan? Apakah sikap kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus dalam menghadapi semuanya itu?
Saya percaya bahwa Tahun 2009 adalah tahun yang penuh harapan, namun juga tahun dimana kita harus senantiasa waspada dan berserah selalu kepada Tuhan. Segala pergumulan hidup pasti ada dan mungkin saja akan lebih sulit dan kompleks. Kita harus senantiasa awas. Bahkan menurut beberapa analisa baik oleh para tokoh tertentu maupun media massa bahwa tahun depan adalah adalah tahun wasdapa, tahun di mana tantangan demi tantangan akan terus ada. Krisis global nampaknya akan semakin melanda di pertengahan tahun 2009 nanti. Kita mungkin tidak dapat pungkiri kenyataan itu. Tapi sebagai orang yang beriman kita tentunya harus optimis semoga Tuhan senantiasa beserta bangsa kita. Kita yang tinggal di negeri ini tentunya kita tidak menginginkan hidup kita lebih terpuruk lagi. Kita tahu krisis finansial global yang sedang melanda dunia saat ini dimana kita Indonesia juga terkena imbasnya membuat rakyat begitu susah. Sekali lagi saya bertanya apa yang seharusnya kita lakukan dalam menghadapi situasi ini, khususnya kita sebagai orang percaya? Apakah ketika dunia begitu menakutkan kita juga harus takut? Apakah ketika situasi di sekitar kita tidak menentu, maka kita juga menjadi tidak memiliki kepastian? Apakah di tengah dunia yang semakin hari semakin tua dan usang ini, maka kita juga menjadi orang yang usang dan tak berpengharapan? Apakah ketika masyarakat di sekitar kita yang begitu khawatir akan permasalahan hidup yang semakin kompleks, maka kita juga ikut khawatir dan tidak mampu menjadi terang yang bercahaya yang menerangi dan memepengaruhi lingkungan di sekitar kita? Apakah jadinya kalau kita menjadi orang Kristen yang tidak berbeda dengan dunia ini?
Di tengah situasi yang sulit dan rumit seperti sekarang ini kita sebagai orang Kristen harus berbeda dan memberi warna yang indah bagi lingkungan, stidaknya lingkungan yang terdekat dengan kita. Nilai-nilai keimanan kita kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi harus kita tingkatkan serta kokohkan. Berita Injil harus terus dikumandangkan untuk menerangi hati manusia yang belum percaya kepadanya. Firman Tuhan harus mampu mengubah manusia yang bebal dank keras hatinya. Kita sebagai gereja harus menjadi mercusuar yang menerangi jaman ini. Situasi dan kondisi yang sulit dan memperihatinkan memang tidak bisa kita hindari. Tapi yang penting adalah bagaimana kita menyikapi setiap situasi dan kondisi permasalahn yang ada itu dengan hati yang yang arif dan bijak serta berserah terus kepada Tuhan. Karena manusia tidak mampu dengan kekuatannya sendiri melakukan perkara-perkara besar dan ajaib, tetapi hanya bersama Tuhanlah kita mampu untuk melakukannya dan memberikan yang terbaik. Meskipun badai dan gelombang menerpa, tetapi biarlah sukacita dan damai sejahtera Kristus Tuhan kita terus memerintah di dalam hati dan bersama Dia kita pasti bisa (with God we can). Dengan demikian maka kita menjadi umat Tuhan yang memuliakan-Nya di dalam segi kehidupan kita. Amin.

Goodbye 2008
(Selamat Tinggal Tahun yang Lama, 2008)
And
Welcome 2009
(Selamat Datang Tahun yang Baru, 2009)

Semoga segala angan, impian, harapan, dan cita-cita kita, sungguh-sungguh kita pertaruhkan ke dalam tangan Tuhan yang Maha Kuasa. Janganlah muluk-muluk dan terlalu pesimis terhadap situasi yang ada, meski kita tahu dan menyadari dunia ini sedang lenyap dengan segala ketidakpastiannya. Tetapi optimislah! Harapkanlah yang terbaik dari-Nya, serahkanlah segalanya kepada Tuhan, lakukanlah bagian kita, niscaya Tuhan tidak akan tinggalkan kita, Ia akan memberkati kita dan memimpin kita. Sebab hanya bersama Tuhan Yesus kita bisa melalui semuanya (With Lord Jesus, we can). Amin!

*HAPPY NEW YEAR*
1 JANUARY 2009

Posted in Uncategorized | No Comments »

CHRIST, THE POOR BABY BORN OF CHRISTMAS

Posted by desfortin on December 24, 2008

CHRISTMAS REFLECTION

Orang-orang Majus dari Timur (Matius 2:1-12)

Dentang dan denting lonceng Natal bergema dan lagu-lagu pujian natal berkumandang di seluruh negeri menyambut sang bayi natal. Berjuta-juta umat Tuhan pergi berbondong-bondong beribadah ke gereja masing-masing hari ini bersama keluarga, sanak saudara dan kerabat serta handai taulan. Ya, hari ini adalah 25 Desember 2008, umat Kristiani di seluruh dunia bersukacita menyambut dan merayakan kembali peristiwa ± 2008 tahun yang lalu (bukan persis seperti hari ini). Suatu peristiwa natal (kelahiran) yang ajaib, yang kejadiannya sudah dinubuatkan ratusan tahun sebelumnya, dimana seorang putra akan lahir di sebuah kota yang kecil dan mungil, Betlehem (Mikha 5:1). Hari ini secara khusus kembali peristiwa 20 abad lebih tahun yang lalu itu dikenang dan dimeriahkan. Siapakah pribadi yang kemudian dikenal, dibanggakan, dipuji dan disembah serta yang kelahirannya dirayakkan oleh orang Kristen hari ini di seluruh dunia? Siapakah sosok yang biasanya dimeriahkan dengan pesta pora, baju baru, celana baru, pakaian yang baru dan semarak yang begitu ramai dan riuh rendah setiap tahun pada bulan Desember ini? Dialah Yesus Kristus, seorang yang paling berpengaruh di seluruh dunia. Dia adalah Raja, Juru Selamat dan Tuhan bagi orang yang percaya. Namun sudahkah kita mengerti bagaimana peristiwa natal-Nya yang asli?
Pertanyaan ini tidak bermaksud melarang orang untuk merayakan natal dengan cara-cara seperti yang saya sebutkan di atas. Yang saya maksudkan adalah, sudahkah kita mengerti berita natal yang sesungguhnya, berita natal yang asli di mana kasih Allah hadir ke dalam hidup manusia untuk membawa manusia kembali kepada-Nya, untuk merenungkan ulang apa berita penting yang dibawa oleh Kristus dari Bapa Sorgawi kepada dunia? Kenapa Ia datang untuk umat-Nya? Apakah karya terbesar dari pada Kristus selama Ia hidup di dalam dunia? Siapakah Kristus yang sesungguhnya? Bukankah di antara seluruh pendiri agama Ia adalah yang paling pendek umur-Nya? Musa 120 tahun, Abraham 175 tahun, Sakyamuni 80 tahun, Konfusius 72 tahun, Lao Zte 80 tahun lebih dan Muhammad ± 62 atau 63 tahun, tetapi Yesus adalah yang umurnya paling pendek, hanya ± 3,5 tahun. Siapa yang bisa mempengaruhi dunia dengan karya hanya sekitar tiga setengah tahun itu? Di antara jenius-jenius di dalam dunia ini, jenius yang paling sedikit yang pernah ditimbulkan di dalam sejarah adalah jenius-jenius di dalam agama. Jenius-jenius agama jauh lebih sedikit dari pada jenius-jenius seni, jauh lebih sedikit dari pada jenius filsafat, jenius-jenius di dalam dunia musik/komponis, jenius-jenius di dalam budaya (budayawan), militer dan lain sebagainya. Tetapi Yesus Kristus selama ± 3,5 tahun itu belum pernah mengatakan Ia datang untuk mendirikan satu agama; Ia belum pernah melakukan seperti yang banyak dilakukan oleh pemimpin-pemimpin agama yang berpuluh-puluh tahun memberitakan apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. Tetapi Yesus Kristus matinya mati malang. Semua pendiri agama matinya mati mulia, mati ketika mereka cukup umur, tutup usia pada waktu mereka sudah tua. Tetapi Yesus Kristus, Ia dipaku di atas kayu salib. Selama Ia hidup sekitar tiga setengah tahun itu, Ia belum pernah menciptakan sebuah lagu Kristen; belum pernah menulis sebuah buku Kristen; belum pernah mendirikan suatu tentara Kristen; belum pernah mendirikan satu buah partai Kristen; belum pernah membuka sebuah bank Kristen; dan belum pernah mendirikan sebuah sekolah Kristen. Sepertinya Ia mati dengan keadaan yang sangat-sangat gagal, dan tidak memiliki kemuliaan sama sekali. Ia dihukum, ditelanjangi, dihina, dicaci maki, dan dipaku di atas kayu salib di bukit Golgota mengalirkan darah. Namun akhirnya sebelum Ia menghembuskan nafas, Ia berkata bukan gagal, tetapi, “Genaplah” (Tetelestai ). (bdk Yoh 19:30)
Siapakah Kristus, yang menjadi Bayi Natal yang kita rayakan hari ini? Apakah kita sudah merenungkan poin-poin ini? Siapakah Dia yang sesungguhnya? Alkitab mengatakan Dia adalah Raja di atas segala raja. Namun di antara waktu Dia lahir sampai Dia mati belum pernah tercantum di dalam Kitab Suci Ia pernah duduk di atas tahkta; belum pernah Ia datang untuk menjadi raja. Benarkah Yesus raja? Benarkah Ia pernah menjadi raja? Di dalam sejarah Israel dan keempat Kitab Injil belum pernah tercantum orang memanggil Dia raja. Memang pernah satu kali tercatat di dalam Injil orang ingin menjadikan Dia raja, yaitu di dalam Yohanes 6:1-71 pada waktu Yesus memberikan mujizat dengan 5 potong roti, dua ekor ikan mengenyangkan lebih dari 5 ribu orang (tetapi tidak menutup kemungkinan yang hadir pada waktu itu ± 12 ribu orang [5 ribu orang laki-laki, mungkin 5 ribu orang perempuan, dan seribu atau 2 ribu anak-anak] ) di mana keesokannya orang-orang ketika mereka menyeberang ingin menjadikan Ia raja. Tetapi Yesus tolak. Ia mundur, menjauhkan diri dan naik ke bukit, berdoa semalam suntuk di hadapan Tuhan Allah.
Tahukah saudara mengapa orang-orang itu ingin menjadikan Ia raja? Yesus mengatakan bahwa mereka mencari Dia bukan karena mereka ingin melihat mujizat, tapi karena mereka makan roti itu dan kenyang. Para pengkhotbah dan orang-orang penganut teologi sukses (Prosperous Gospel) di jaman ini mengadakan kebaktian dengan beribu-ribu orang mau mujizat, kesembuhan dan berkat-berkat. Tetapi Yesus berkata, “Kau bukan cari Aku karena mujizat, tapi karena kau makan roti itu dan kenyang. Ingatlah, jangan bersandar kepada roti itu, karena bagaimanapun hebatnya makanan dari dunia ini semuanya adalah makanan yang fana dan semua orang akan mati. Musa, nenek moyangmu, turunkah manna dari sorga tetapi semuanya pada akhirnya toh mati juga. Sekarang, engkau mencari makanan yang kekal yang turun dari sorga yaitu Aku Roti Hidup yang turun dari sorga. Makanlah dari dagingKu dan minumlah dari darahKu (bdk Yoh 6:26-48). Ketika mendengar pernyataan Yesus itu mereka semua tercengang dan terkejut karena itu melawan agama Yahudi. Bukankah Musa mengatakan tidak boleh minum darah. Darah binatang pun tidak boleh diminum, mengapa Yesus berani mengatakan demikian. Mereka bahkan menuduh dan menganggapnya orang yang liar, orang yang tidak mengerti kitab, orang yang mengajar ajaran/sekte baru yang berlainan dengan ajaran Musa, orang yang akan merusak agama Yahudi. Mereka mengatakan khotbah-Nya terlalu sulit untuk didengar. Doktrin-Nya tidak masuk akal dan lain sebagainya. Perkataan Yesus itu membuat mereka tidak tahan dan akhirnya meninggalkan-Nya. Bukankah di jaman seperti sekarang ini juga demikian, banyak orang yang tidak terlalu suka pengajaran-pengajaran atau doktrin-doktrin yang sulit, tapi tahunya yang simple, yang praktis saja, tapi tidak mau belajar sungguh-sungguh Firman Tuhan, teologi dan doktrin Alkitab? Jaman inilah jaman dimana manusia lebih suka mendengar sesuatu yang cocok dengan telinganya. Tuhan yang cocok dengan kita itu, Tuhan apa? Adakah Tuhan harus menyesuaikan diri-Nya dengan keinginan kita? Mungkin yang lebih cocok adalah hantu.
Maka kita melihat dari sekitar 12 ribu orang yang awalnya mengikuti Yesus pada waktu itu, akhirnya selama tidak lebih dari beberapa hari, khususnya yang tercatat di pasal 6 akhir, sisa 12 orang saja. Apakah itu berarti Yesus tidak sukses? Dia pengkhotbah atau hamba Tuhan yang gagal, yang makin hari memiliki pendengar yang makin sedikit? Di jaman ini juga banyak orang yang salah menilai tentang pertumbuhan gereja (church growth). Mereka menganggap gereja yang maju adalah gereja yang banyak pengikutnya, yang pengkhotbahnya memiliki pendengar yang semakin banyak. Itu adalah gereja yang makmur dan diberkati oleh Tuhan. Benarkah itu? Kalau kita hanya melihat perkembangan dari sudut dan fenomena seperti ini, berarti kita belum benar-benar mengerti tentang mengapa kita bergereja. Tuhan Yesus pada waktu itu juga pernah melihat Ia memiliki pengikut 12 ribu orang tapi tidak lama kemudian sisa 12 orang saja. Dan Ia berkata kepada 12 orang murid-Nya yang masih bersama-Nya pada waktu itu, “Engkau pergi juga kah?”(Bdk Yoh 6:67). Kasian sekali. Seolah-olah Dia takut murid-murid-Nya pergi. Seolah-olah Dia takut gereja akan hancur karena memiliki pengikut yang tidak banyak. Sebenarnya dalam terjemahan aslinya (bahasa Gerika) kata-kata Yesus itu boleh diterjemahkan, “Engkau pergi juga lah!” “Silakan pergi! Mengapa Engkau mencari Aku? Engkau cari Aku karena makanan, kesembuhan, mujizat, ketentraman, kesuksesan dan berkat-berkat jasmani? Engkau cari Aku hanya untuk memperalat Aku memenuhi semua kebutuhanmu?, Silakan pergi!” Pada waktu itu salah seorang murid-Nya, Petrus mewakili seluruh orang Kristen yang sejati dari abad ke abad memberi jawaban yang tepat, “Kepada siapa kami pergi dan harus mengikut, selain kepada Engkau karena Engkau memiliki Firman yang hidup? Karena Engkau memiliki Firman yang hidup maka kami tidak pergi dan tetap berada di sini” (Bdk Yoh 6:68). Inilah jawaban yang luar biasa dari mulut seorang Petrus yang harus menjadi renungan kita orang Kristen di jaman ini, khususnya pada Natal tahun ini, bahwa kita datang kepada Kristus karena Firman-Nya. Tidak ada yang lebih menyenangkan dan memuaskan hati Tuhan Yesus dari orang yang datang dan mengikut-Nya karena orang itu mengerti akan Firman-Nya. Sekarang perhatikan di jaman ini berapa banyak orang Kristen yang datang dan mengikut Tuhan yang hanya ingin kaya, sukses, jujur dan menjadi orang yang tendanya selalu ingin diperkembangkan. Berapa banyak orang yang mengerti kebenaran dan keunggulan Firman-Nya dari seluruh keunggulan yang ada di seluruh dunia ini? Perhatikan buku “Doa Yabez” yang terjual 1.000.200 jilid dalam beberapa tahun saja, tetapi “Doa Bapa Kami” tidak ada yang mengajar. Inilah gambaran manusia yang sudah jatuh di dalam dosa yang kecenderungannya hanya mencari profit (keuntungan) tetapi tidak tahu isi hatinya Tuhan. Saya sendiri sangat sedih melihat kenyataan ini, di tempat saya melayani, di gereja dan di persekutuan-persekutuan, kebanyakan dari mereka memiliki kecenderungan seperti di atas. Kalau ada KKR yang besar, khususnya yang diadakan oleh mereka-mereka penganut teologi sukses, yang selalu memberitakan mujizat-mujizat dan kesembuhan ilahi tetapi yang tidak mengerti inti dari pemberitaan injil, maka banyak orang yang berbondong-bondong datang, tetapi kalau ada acara seminar-seminar, PA dan khotbah dari hamba Tuhan mengenai doktrin dan prinsip-prinsip Alkitab yang penting mereka enggan untuk berpartisipasi. Sikap seperti inikah yang akan menjadikan kita sebagai orang yang akan dikenan oleh Tuhan. Apakah sikap seperti ini yang akan membuat kita beriman kuat? Buku Novel dan Film Da Vinci Code yang ditulis oleh Dan Brown beberapa tahun yang lalu sudah mempengaruhi orang-orang di seluruh dunia termasuk orang Kristen, tetapi sayangnya banyak orang yang terkecoh dan tertipu oleh buku dan film fiktif karangan Dan Brown itu, bahkan mereka-mereka yang katanya Kristen juga kandas iman mereka ketika mengetahui dan mempelajari karangan Dan Brown yang sukses di pasaran ini, khususnya bukunya yang terjual di dalam 3 tahun, lebih dari 70 juta jilid (the most successful literature achievement for sale). Sejak jaman Adam sampai sekarang belum ada yang melampaui kesuksesan penjualan buku Dan Brown ini di pasaran, bahkan biaya pembuatan film The Passion of the Christ yang disutradarai oleh Mel Gibson pun masih kalah 3 kali di bawahnya. Buku yang dianggap luar biasa oleh banyak orang, namun buku yang luar biasa juga menghina Alkitab dan Yesus Kristus. Kalau kita baca di internet tentang kumpulan respon orang-orang terhadap karya Dan Brown ini, mulai profesor, mahasiswa sampai orang biasa, kita melihat banyak orang yang menganggap diri pintar, berpendidikan tinggi dan akademis namun sayang respon-respon mereka itu menunjukkan mereka yang masih mudah ditipu oleh ajaran-ajaran yang tidak beres. Demikian juga dengan isu temuan makam Yesus dan keluarganya oleh para arkeolog di Talpiot, juga menghebohkan dunia, khususnya juga orang Kristen di Indonesia, bahkan ada seorang pendeta bergelar doktor yang melayani di salah satu gereja di Jakarta dan pengajar di STT, yang berani memberikan respon di Koran Kompas dengan mengatakan kebangkitan Yesus itu hanyalah metafora saja.
Itu semua contoh di atas memberi tahu kepada kita tentang sebagian dari banyak gangguan terhadap inti kekristenan yang terjadi, disamping banyaknya ajaran dan bidat-bidat yang kontra terhadap doktrin sejati Alkitab. Kenapa semua itu terjadi? Itulah bukti dimana manusia tidak sungguh-sungguh belajar kebenaran Firman dengan ketat dan doktrin tidak diajarkan dengan sehat serta mendalam di mimbar-mimbar gereja sehingga kemudian menciptakan orang-orang yang tidak puas dan liar yang semaunya sendiri menafsirkan Alkitab, tapi tidak sungguh-sungguh belajar dengan rendah hati tentang teologi yang benar. Saya mengatakan ini dengan tegas karena saya tidak ingin kita tidak sungguh-sungguh belajar dalam melayani Tuhan. Saya paling menentang mereka yang berani menulis, mengajar dan berkhotbah tentang doktrin Alkitab namun dengan cara-cara dan doktrin yang menyimpang dari Alkitab. Perkataan ini keluar dari hati saya yang paling dalam, karena saya tidak ingin melihat kita menjadi orang Kristen yang sembarangan, sedikit belajar tetapi berani banyak mengajar dan berkhotbah tanpa mengerti konsep adil dan kasih Allah. Orang yang tidak mengerti konsep Adil dan Kasih Allah bukanlah orang yang bisa dipakai oleh Tuhan secara luar biasa memberitakan kebenaran-Nya. Saya, di dalam hal ini juga tidak bermaksud bahwa kita harus menjadi orang yang sempurna dulu baru bisa melayani Tuhan. Siapa yang sempurna dan layak yang bisa melayani-Nya? Saya juga bukan orang yang sempurna. Sejak saya duduk di bangku SMA sampai saya kuliah sampai beberapa tahun, mungkin tak ada orang yang tahu, kalau saya sendiri juga orang yang paling melawan Alkitab dan berdosa. Waktu saya kuliah saya sering ke gereja saja dan mengikuti persekutuan, namun saya sering memandang mereka yang berkhotbah di mimbar dengan pandangan yang sinis dan menghina, apalagi mereka yang tidak belajar baik-baik namun berani berkoar-koar di atas mimbar dengan suara keras, saya sangat menghina mereka, namun sekali lagi tak seorangpun tahu dosa saya ini, hanya saya sendiri dan Tuhan yang menyelidiki hati setiap orang. Namun saya juga di dalam hati saya tidak ada damai sejahtera yang sejati dan saya terus tidak takluk kepada Firman-Nya di Alkitab sehingga akhirnya dosa demi dosa saya lakukan. Dan akhirnya Tuhan memukul saya dengan suatu peristiwa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, suatu peristiwa yang mengingatkan dan menyadarkan saya bahwa saya harus sungguh-sungguh melayani Tuhan. Dari peristiwa itulah kemudian saya disadarkan oleh Tuhan, sehingga saya kemudian bertobat dan kembali menjalani hari-hari saya untuk mencintai-Nya dengan lebih sungguh lagi. Apa arti semua ini? Itu berarti memang manusia bagaimanapun hebatnya pasti ada ketidaksempurnaannya, kekhilafannya, ada salah dan dosanya. Saya pun pernah jatuh ke dalam dosa. Tapi yang saya maksudkan di sini adalah kita jangan hanya bisa menhakimi diri apalagi orang lain dengan selalu memandangnya rendah, tapi yang saya maksudkan adalah kita tidak terus menerus tinggal di dalam dosa itu. Tetapi kita harus bangkit dan kembali kepada Tuhan serta memuliakan-Nya, dengan menyerahkan seluruh hidup kita kepada pimpinan-Nya, kemudian belajar dengan sungguh-sungguh kebenaran-Nya di dalam Alkitab, sebagai satu-satunya standar kebenaran yang paling sahih di alam semesta ini.
Kembali ke masalah perkataan Petrus di dalam Yohanes pasal 6 ayat 68 itu. Petrus memberikan jawaban yang tepat dan membawa kita kembali kepada Tuhan dengan pengertian itu, bahwa kita datang kepada Kristus karena Firman yang hidup. Beranjak dari peristiwa mujizat 5 roti 2 ikan itulah orang-orang ingin menjadikan Yesus raja mereka. Itulah satu-satunya kali Yesus mungkin menjadi raja. Tapi sekali lagi Yesus tidak menerimanya. Sebab Ia menjadi Raja bukan karena diangkat tapi adalah Raja yang berkuasa yang menguasai segala raja-raja di dunia ini. Namun, selama Dia lahir sampai dalam kurun waktu 3 tahun lebih itu sebelum kematian-Nya, siapakah orang Israel, yang katanya mengerti taurat, yang tahu Yesus adalah Raja? Silakan selidiki Alkitab, tak seorang Israel pun tahu Dia Raja, bahkan semua murid-Nya pun tidak tahu. Pada waktu Yesus lahir, yang tahu Dia adalah Raja adalah 3 orang Majus (bukan Israel), dan pada waktu menjelang kematian-Nya, yang tahu Dia Raja adalah seorang perampok yang bertobat yang sama-sama disalib bersama-Nya. Inilah 2 kali orang tahu Dia Raja. Orang Majus adalah orang yang menyelidiki ke kitab-kitab dan bintang-bintang. Pada waktu itu mereka mendapat suatu Wahyu Umum dari Tuhan tentang Mesias yang akan akan dilahirkan. Inilah suatu gambaran di mana Tuhan bisa memakai siapa saja termasuk orang yang di luar gereja untuk menyatakan rencana-Nya. Bukankah kita juga melihat di jaman ini, banyak orang yang katanya Kristen tapi paling berani menghina dan melecehkan kitab suci, bahkan orang yang di luar mungkin lebih menghormati Alkitab dari mereka yang sering berbicara tentang Alkitab tapi yang sembarangan mengertinya. Orang-orang Majus itu melalui suatu bintang yang Tuhan letakkan di atas langit yang bergerak menuju tempat di mana Mesias akan dilahirkan, mereka mengikutinya sampai bintang itu berhenti tepat di atas bayi Yesus Kristus yang lahir di sebuah kandang domba yang hina, yang dibungkus dengan lampin di dalam palungan. Kemudian mereka mempersembahkan Emas, Kemenyan, dan Mur di hadapan bayi Yesus Kristus. Ini adalah membuktikan tentang Yesus Kristus yang mempunyai jabatan sebagai Imam, Nabi dan Raja. Namun rahasia ini baru tersimpan selama 1500 tahun sejak itu sampai abad ke 16, dimana seorang tokoh, juga seorang teolog yang besar ketika ia menulis buku tentang Institutes of the Christian Religion. Orang itu bernama Yohanes Calvin, seorang reformator dan menjadi akar teologi refomed sampai sekarang. Inilah teologi reformed injili yang dari seluruh ajaran teologi menemukan prinsip yang paling nuklir dari Alkitab.
Sebelum kelahiran Mesias pada waktu itu, orang Majus datang ke Yerusalem dan bertemu raja menyampaikan berita nubuat akan lahirnya seorang Mesias-Penyelamat Israel. Herodes yang memerintah sebagai raja Israel pada waktu itu terkejut dan merasa ingin mengetahuinya. Makanya kemudian ia meminta orang Majus itu dan para imam serta ahli taurat Yahudi untuk menyelidiki tentang anak itu supaya ia juga datang menyembah-Nya. Padahal Herodes adalah raja yang licik. Ia sebenarnya ingin membunuh bayi itu, karena ia merasa takut posisinya digeser oleh Yesus yang dikatakan akan menjadi raja dan penyelamat Israel itu. Padahal Yesus bukan lah Raja yang seperti dibayangkan oleh orang-orang Israel dan juga Herodes pada waktu itu. Herodes berkata, “Hei, engkau teolog-teolog dan imam, cari dan selidikilah kitab suci, dimana bayi Mesias itu dilahirkan supaya aku juga ikut menyembahnya”. Para imam dan ahli taurat terkejut mendengar itu, ternyata mereka tidak sadar Mesias sudah dilahirkan. Karena itu celakalah para teolog dan orang-orang yang katanya melayani Tuhan tapi tidak tahu saatnya Tuhan. Celakalah pendeta dan orang yang sekolah teologi yang bisa bermain-main secara akademik dan yang tahunya dapat gelar tapi tidak tahu saatnya Tuhan. Banyak sekolah teologia yang meluluskan mahasiswa atau pendeta atau pengkhotbah seperti ini. Lalu orang Majus itu, setelah mendapat peringatan dalam mimpi oleh Tuhan, tidak kembali ke Herodes, tetapi mereka pulang ke negeri mereka melalui jalan lain. Setelah merasa dipermainkan maka selanjutnya Herodes melakukan pembantaian terhadap anak-anak di Betlehem, yaitu anak-anak yang berumur 2 tahun ke bawah (Bdk Mat 2:16-18).
Selain itu, kenapa Herodes menyuruh mereka mencari bayi Yesus Kristus itu? Kenapa ia merasa takut? Karena ia mengetahui posisinya yang tidak sah menjadi raja pada waktu itu, karena ia bukan orang Israel. Ia orang Edom. Seharusnya yang bisa jadi raja Israel adalah orang Israel asli atau keturunan Yehuda. Tetapi kenapa ia bisa jadi raja Israel pada waktu itu? Karena ia diangkat oleh suatu pemerintahan dunia yang bernama pemerintah kerajaan Romawi. Melalui suatu goof (cara yang ilegal) ia mendapatkan kuasa kerajaannya. Dan cara satu-satunya supaya ia tetap bertahan jadi raja adalah dia dirikan sebuah bait Allah untuk orang Israel untuk menyuap mereka. Melalui cara seperti inilah ia bisa memperalat agama. Semua pemimpin politik dan diktator yang besar yang pernah ditimbulkan di dalam sejarah punya pikiran seperti Herodes ini, dimana politik dipakainya untuk memperalat agama. Dengan cara seperti ini pula sejarah terus mengulanginya dan Alkitab menyingkapkannya. Inilah luar biasa Alkitab kita ini yang memberi pengertian kepada orang yang rendah hati mau belajar dan takluk kepada-Nya untuk menelanjangi segala ideologi dunia dan kebobrokan manusia. Dunia ini kacau sekali. Perhatikan sejarah dunia, khususnya Indonesia saja dalam hal ini, mulai dari presiden yang pertama sampai presiden kita yang dipilih dengan cara-cara demokrasi, namun akhirnya rakyat juga menyesal memilih pemimpin salah. Takluk kepada Tuhan tidak mau, ambil kuasa mau turunkan mereka yang berkuasa di atas tahkta pemerintahan tidak bisa, akhirnya penyesalan menjadi bagian yang tak bisa dihindari.
Semua pemimpin politik yang kurang ajar, yang tidak takut kepada Tuhan Allah, seperti Mao Zedong dan Stallin, juga berprinsip dan berperan seperti jiwanya Herodes ini yang memperalat agama dengan kekuasaan politik mereka. Demikian juga mereka-mereka para pemegang ateisme, rasionalisme, materialisme, psikolog modern, para komunisme dan isme-isme yang sombong yang sering menghina dan melawan Alkitab (A. Adler/Boultille, Ludwig Feuerbach, Sigmund Freud, Darwin, Karl Marx, Thomas Henry Huxley dll), mereka semuanya satu per satu disingkirkan oleh Tuhan dari panggung sejarah, tetapi kerajaan Tuhan terus berjaya sampai selama-lamnya. Napoleon Bonoparte, seorang kaisar Prancis dan juga pemimpin militer yang besar, pada waktu dia sadar namun sudah dibuang dan ditawan di pulau St. Helena setelah ia kehilangan kuasa, ia pernah mengungkapkan suatu kalimat dengan suatu makna penyesalan yang luar biasa, dia berkata, “sejarah, sejarah, selama beribu-ribu tahun menghasilkan orang-orang agung dan pemimpin militer yang besar di dalam sejarah (Hannibal, Aleksander the Great, Genghis Khan, Charlemagne) sampai saya (Napoleon Bonoparte), kami pernah mempunyai ambisi mendirikan suatu wilayah, kami pernah menjajah puluhan negara, kami pernah menjelajah ribuan kilometer dan mempunyai berjuta-juta prajurit, namun pada akhirnya kuasa kami juga akan hancur dan mati, dan sejarah akan melupakan kami. Hanya seorang yang tidak pernah memiliki militer, tak pernah punya senjata, namun kerajaannya sampai selama-lamanya …..” Orang tanya dia, “Siapakah itu?” Napoleon menjawab, “Dia adalah seorang yang ada di dalam kitab suci, seorang dari Nazaret, Yesus Kristus”. Kalimat itu benar. Yesus adalah Raja yang betul-betul Raja, yang paling berkuasa, yang paling besar, tetapi manusia tidak melihat dan tidak sadar. Tidak insaf. Apa sebabnya? Karena orang melihat Dia tidak mempunyai tampang dan fenomena raja. Dia terlalu papa. Dia terlalu miskin. Bukankah seorang raja seharusnya duduk di istana? “Yesus tidak”. Raja seharusnya lahir di istana, “Yesus tidak”. Raja seharusnya mempunyai jubah yang mahal, mempunyai jenderal dan prajurit yang besar sekali, “Yesus tidak pernah memilikinya”. Raja seharusnya punya wilayah (teritori) yang besar yang dijajah, “Yesus tidak ada”. Maka siapa yang tahu Dia Raja? Siapa yang mengerti Yesus Raja dan siapa yang akan mengakui Dia Raja karena Ia waktu lahir sampai Ia mati begitu miskin dan papa? Namun begitu, kita melihat Yesus terus mengajar tentang kerajaan Allah, kerajaan Allah, dan kerajaan Allah. (Kerajaan Sorga) selama ± 3,5 tahun itu. Apa berita penting dan karya terbesar-Nya? Bukan membebaskan orang, memperdamaikan dunia dan memperkaya orang miskin serta menurunkan orang kaya (seperti yang didengungkan oleh teolog-teolog liberal). Juga bukan makna yang tertulis di dalam Yoh 3:16 (ayat terkenal yang sering didengungkan oleh kaum injili untuk menunjukkan itulah karya terbesar Kristus). Karya terbesar Yesus Kristus juga bukan seperti yang diungkapkan oleh golongan tertentu (Khatolik), dimana menjadikan gereja sebagai kepala dari semua negara sehingga negara di bawah gereja. Tetapi mari kita sungguh-sungguh kembali dan mengerti Alkitab, bahwa karya terbesar Yesus Kristus adalah Ia datang untuk memberitakan Kerajaan Allah (reformed theology). Kerajaan Allah berarti dimana kuasa Allah berada di hati manusia yang beriman dan takluk serta menyerahkan diri kepada Dia, menjadi pengikut yang setia (bdk di Matius). Selama Ia hidup di dunia Yesus terus memberitakan injil kerjaan, kerajaan, kerajaan Allah, sampai Dia mati di atas kayu salib, semua murid tidak mengerti apa yang dikhotbahkan oleh-Nya. Ini membuktikan terlalu banyak orang yang mengikut Tuhan Yesus Kristus, tetapi juga yang tidak mengerti isi hati Tuhan, karena di dalam hati mereka sudah dijajah oleh suatu konsep yang terlebih dahulu. Mereka maunya menjadi kaya, berkuasa dan sukses. Tetapi Yesus tidak bicara kalau Ia datang untuk mendirikan kerajaan Israel. Ia datang untuk mendirikan Kerajaan Surga. Namun semua orang pada waktu itu buta dan tidak sadar. Lalu kemudian Yesus sedih dan dipaku di atas kayu salib. Tiga hari kemudian Dia bangkit. Dia merasa semua murid-Nya tidak beres. Dia harus kumpulkan lagi, dan Alkitab mencatat Dia tambah 40 hari lagi untuk bicara tentang kerajaan Allah. Repeat. Ini adalah her, pelajaran tambahan (additional Lesson). Karena sudah 3, 5 tahun belajar teologi belum lulus. Secara akademik sudah tahu banyak, tetapi secara pengertian Firman Tuhan sama sekali KOSONG! Yesus Kristus melihat murid-murid-Nya yang begitu lamban, begitu tidak sadar, sehingga dalam pelajaran tambahan selama 40 hari itu, Dia hanya bicara satu hal, yaitu Kerajaan Allah, Kerajaan Allah, Kerajaan Allah, sampai pada saatnya Ia harus kembali ke sorga, pada hari terakhir dari 40 hari itu murid-murid-Nya pada waktu menanya satu sekali lagi,”Sekarangkah Engkau akan membangunkan Kerajaan Israel?”(Bdk Kis 1:6). Wah, kasian sekali. Sudah 3,5 tahun bersama-Nya ditambah lagi her 40 hari tapi mereka tetap bertanya tentang kerajaan Israel. Yesus jawab, “Kapan kerajaan Israel dibangun harinya tak ada yang tahu, tetapi ketahuilah jikalau Roh Kudus turun atas kamu, kamu akan mendapatkan kuasa untuk mengabarkan injil dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi orang akan mendengarkan injil kembali kepadaKu”. (Bdk Luk 24:49 dan Kis 1:7-8) Berarti memang tidak ada yang tahu Yesus adalah Raja di dalam kerajaan. They only wanted Him to be king of Israel. Yesus kecewa dan pergi kembali ke sorga (bdk Luk 24:19-26, 50-51 dan Kis 1:6-8).
Namun selain pada waktu Dia lahir, dimana orang Majus tahu Dia adalah Raja, saat Dia akan mati di kayu salib di Golgota ada 2 orang yang mengenal-Nya, satu adalah seorang perampok yang bertobat yang percaya Dia Raja, dan satu lagi seorang kepala dari 100 tentara Romawi yang kemudian mengakui-Nya sebagai Anak Allah. Perampok yang bertobat itu berkata, “Ingatlah aku, pada waktu Engkau menjadi Raja” Yesus juga menjawab bukan hari itu tetapi hari ini juga, you’ll be with Me in the Kingdom of Paradise, “(bdk Luk 23:42-43). Kepala tentara itu mengatakan, “Lihatlah, Dia sebelum menghembuskan nafas terakhir berteriak “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Aku serahkan Nyawa-Ku” lalu Ia mati” Kepala tentara itu geleng kepala dan terus berkata, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah” (bdk Luk 23:46-47; Mark 15:39). Tahukah anda mengapa perampok tahu Yesus Raja tetapi Imam tidak tahu? Tahukah anda kenapa kepala tentara Romawi itu tahu Yesus Anak Allah, Imam tidak tahu. Bukankah Pilatus Tanya, “Kau raja Yahudikah?”(Bdk Yoh 18:33) dan Imam Besar Tanya, “Kau Anak Allahkah?” (Bdk Mark 14:61 dan Mat 26:63). Why do these two kinds of person ask Him? Do they really want to know? They are asking not for the answer, they are asking because they are asking. Mereka bertanya bukan mau jawaban, tapi mereka bertanya hanya karena mereka ingin bertanya, bukan mau jawaban. Seperti kebanyakan orang pada jaman ini yang datang kepada Tuhan bukan mau Firman, tapi hanya mau Tuhan dengar dia, bukan sebaliknya. Kenapa pertanyaan Imam Besar itu tidak memakai pertanyaan Pilatus dan kenapa Pilatus tidak tanya pakai pertanyaan Imam Besar itu? TIDAK MUNGKIN! Karena di dalam pikiran Pilatus, dia tidak perduli Allah ada Anak atau tidak dan Allah punya berapa anak, ia tidak perduli, yang ia perduli adalah kalau Yahudi ada raja baru, berarti itu akan mengancam kedudukannya karena raja baru itu pasti tidak akan mengakui Herodes yang diangkat Romawi itu. Dan jikalau Yesus jawab Dia adalah Raja Yahudi, maka Pilatus bisa membunuh Yesus dengan sah. Tetapi sebaliknya bagi Imam Besar, ia tidak mungkin tanya apakah Yesus Raja Yahudi atau bukan, yang mau diketahuinya adalah apakah Yesus Anak Allah dari Yang maha Tinggi atau bukan. Karena di dalam Alkitab Allah itu Esa adanya. Jikalau Yesus berani mengatakan Dia Anak Allah, berarti ini akan merusakkan agama Yahudi, yang akan menghancurkan tradisi Musa dan Perjanjian Lama dan Ia akan dianggap mendirikan suatu sekte yang berlainan dengan teologi yang sudah diterima selama ini. Yesus yang biasanya tidak jawab, sehingga Pilatus berkata lagi, “Tahu tidak, Aku berhak mematikan Engkau, dan juga berhak melepaskan Engkau”, kemudian Ia (Yesus) baru jawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau bukan kuasa dari BapaKu yang di sorga, engkau tidak berhak apapun mengerjakan sesuatu di atas diriKu”. “Engkau raja Yahudikah?” Yesus jawab, “Ya, kau yang katakan Aku raja, Aku lah Raja ……” tetapi Yesus memberikan keterangan lebih lanjut, “….. tetapi KerajaanKu bukan dari dunia ini. Jikalau kerajaanKu dari dunia ini maka bawahanku tidak akan mungkin membiarkan Aku diserahkan seperti ini, akan tetapi kerajaan-Ku bukan dari sini” (bdk Yoh 18:36). Kerajaan Yesus bukan dari dunia ini. Itu berarti Dia tidak berusaha untuk melawan Pilatus. Yesus tidak akan berjiwa politik untuk merampas pemerintahan yang ada. Dia memang Raja karena He was born to be King and came purposedly to this world to bear the witness for the trurh (bdk Yoh 18:37). The truth? Are You bearing witness for the the truth? Apa itu kebenaran? Di dalam pikiran Pilatus selama beratus-ratus tahun orang Gerika mencari kebenaran melalui filsafat tidak pernah dapat jawaban, tapi baru hari itu dia mengakui dia tidak tahu apa itu kebenaran.
Is Jesus King? Yes, He is. He is the King of all kings. Namun tidak ada yang tahu, kecuali pada saat Dia lahir 3 orang majus dari Timur dan pada saat menjelang kematian-Nya, satu orang perampok yang bertobat. Awalnya perampok ini dan kawan di sebelahnya juga mengolok-olok Yesus (even the robbers are mocking at Him. Bdk Mat 27:44). Tetapi Yesus tidak peduli dengan segala penghinaan orang-orang di sekitar salib pada waktu itu (Mat 27:39-44). Dia hanya perduli apakah kehendak Bapa-Nya sudah dijalankan-Nya atau belum. Mungkin kalau kita diejek-ejek atau dihina seperti Yesus itu di tengah terik matahari yang begitu menyengat kulit, kalau disuruh turun mungkin kita langsung turun dan menampar semua orang yang mengejek itu, minta Tuhan yang matikan mereka semua, kuburkan hari ini, kemudian naik lagi ke salib. Tapi itulah bedanya Yesus dengan manusia biasa. Meskipun dihina Ia tidak membalasnya, namun malah mendoakan, “Bapa ampunilah mereka sebab apa yang mereka perbuat, mereka tidak tahu” (Luk 23:34).
Berapa banyak orang yang mengerti makna natal yang sesungguhnya saat ini? Jaman ini adalah jaman di mana banyak orang yang tidak mengerti isi hati Tuhan. Saya memperhatikan sejak tanggal 1 Desember tahun 2008 ini, khususnya di kota saya ini, dalam banyak perayaan natal dan berita natal yang disampaikan di atas mimbar, berita natal yang sejati itu sudah mulai hilang. Kebanyakan para pengkhotbah hanya memberitakan Kristus yang penuh kasih mesra, yang moralis, tokoh yang agung di dalam sejarah, yang akan memberikan berkat-berkat-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, namun tidak memberitakan siapa di balik sosok-Nya yang begitu menderita, yang begitu miskin, yang sepertinya tidak mempunyai kemuliaan sama sekali, yang lahir di palungan karena tak ada tempat yang mau menyambut-Nya. Banyak orang tidak mengerti siapa Dia di atas semuanya itu. Seharusnya pengertian kita tentang Dia melampaui pengertian peristiwa Yesus sejarah itu, yaitu Dia adalah Allah sendiri. Allah yang jelma menjadi manusia, Allah yang turun ke dunia bersalut darah dan daging untuk menebus dosa umat manusia. Inilah suatu konsep inkarnasi Allah yang paradoks (bukan kontradiktif) yang sulit diterima oleh orang-orang di luar kitab suci. Namun ini pula suatu kebenaran yang agung yang pernah terjadi di dalam sejarah, bahwa Allah sendiri pernah datang mengunjungi umat-Nya di dalam dunia dengan membatas dirinya jelma menjadi manusia dan pernah menjadi natal 20 abad lebih tahun yang lalu, suatu peristiwa natal yang ajaib, dimana seorang perawan mengandung dan melahirkan seorang bayi yang bernama Yesus yang juga Kristus bagi umat-Nya. Siapa yang mengerti konsep ini dengan benar? Bukankah hanya di hari Natal seperti ini hanya sedikit orang yang mengerti makna penginjilan, namun sibuk dengan segala keramaian dan kerlap-kerlip lampu natal. Kebanyakan orang (Mostly people) hanya mementingkan keramaian natal itu, di mana pesta-pora digelar dan lebih ditonjolkan. Tapi sudahkah kita mengerti Kristus yang lahir sebagai bayi natal yang begitu miskin? Sudahkan kita mengerti dan kenapa kita beriman kepada-Nya meskipun melihat kemiskinan yang ada pada-Nya? Memang tidak ada salahnya juga kita merayakan natal dengan segala kemeriahan, kalau kita mampu, kenapa tidak, toh memang segala berkat Dia yang berikan. Tapi yang saya maksudkan dan tekankan di sini adalah esensi natal itu yang sesungguhnya, yaitu menerima Dia di dalam hati dan hidup kita bukan berdasarkan berkat-berkat jasmani. Apakah kita beriman kepada-Nya hanya karena Ia memberkati kita? Bagaimana jika kita tidak selalu diberikan berkat dan kesuksesasan oleh-Nya? Masihkan kita bisa beriman kepada-Nya meskipun melihat fenomena kelahiran-Nya sebagai bayi natal yang begitu miskin dan kematian-Nya yang begitu menderita? Inilah yang harus kita renungkan bersama. Barang siapa meskipun melihat kemiskinan dan kepapaan Yesus pada waktu Ia dilahirkan sampai Dia mati tetapi tetap beriman kepada-Nya berarti Roh Kudus sungguh-sungguh bekerja di dalam hatinya. Dan biarlah di dalam suasana natal tahun ini kita sekalian sungguh-sungguh merenungkan inti natal di dalam iman kekristenan kita dan bagi yang belum terima Dia biarlah hari ini saudara membuka diri dan menerima Kristus lahir di dalam hati saudara. Berdoalah kepada-Nya secara pribadi dan undang Dia masuk dalam hidupmu. MERRY CHRISTMAS 25 DECEMBER 2008. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua. AMIN.

Kasih Allah Turun Atas kita

2008 tahun yang silam
Seorang bayi miskin
lahir di kandang hina
2008 tahun kemudian
Natal-Nya
Kembali dirayakan
Pujian dan hormat
serta
Penyembahan diterima-Nya
Siapakah Dia?
Ia adalah seorang Pribadi
Selama hidup Ia dihina
kemudian disalib
Tetapi setelah mati
Ia diakui
Yang terbesar
di seluruh dunia
oleh siapa?
Umat-Nya
Apa sebabnya?
Bukan karena:
Kaya,
Gelar, dan
Kuasa
Tetapi karena:
Ia adalah Kalam Allah,
Sang Anak,
Mesias,
tetapi
Ia adalah Allah itu sendiri
Sang Firman-Nya yang berinkarnasi
Untuk menyatakan Kasih-Nya atas kita.
Selamat Natal
25 Desember 2008

Posted in artikel | No Comments »

LEARNING THEOLOGY WITH THE RIGHT CONCEPT AND UNDERSTANDING

Posted by desfortin on December 19, 2008

Blog ini sebagai blog lanjutan dari blog sebelumnya yang berjudul Pentingnya Belajar Teologi. Kali ini saya akan menulis tentang berdiskusi tentang teologi tetapi disertai oleh pengertian yang sehat dan benar serta dengan konsep ADIL dan KASIH.

Saya sering mengatakan kepada teman-teman saya agar kita terlebih dahulu banyak belajar sebelum mengajar orang lain, supaya tidak menyesatkan. Banyak mendengar dulu sebelum berbuat. Jangan banyak bicara dulu kalau tidak mengerti. Jangan mengajar orang lain dulu apalagi dengan suara keras dan lantang berkoar-koar di mimbar seperti banyak pendeta jaman sekarang yang terlalu berani berkhotbah tapi tidak berani mempertanggungjawabkan ajaran mereka. Saya sangat mengkritik dan tidak tidak menghargai mereka yang mengajar dengan sembarangan, tahu sedikit sudah berani berkhotbah. Bagi saya itu adalah kesombongan, bukan rendah hati. Saya akui, saya adalah orang yang keras. Saya bukan tipe orang yang mudah berkompromi. Jikalau “iya” katakan IYA, jikalau “tidak” katakana TIDAK.
Di tengah-tangah kesibukan saya sebagai seorang mahasiswa, saya masih menyempatkan diri melayani Tuhan di gereja dan persekutuan di daerah saya. Dan saya selalu mengatakan hal dan prinsip ini. Selain itu, saya juga menggunakan waktu-waktu luang saya berkiprah di weblog-weblog rohani, salah satunya seperti www.sabdapsace.org untuk menulis dan berbagi. Saya merasa banyak manfaat yang saya rasakan ketika bergabung di weblog-weblog rohani tersebut. Melalui semuanya itu saya juga menemukan berbagai karakter dalam berdiskusi, mulai dari yang biasa, santai, keras, tegas, gamblang, ngotot / kekeh jumekeh, “sembarangan” (blogger asing) sampai yang paling pintar. Pokoknya luar biasa. Selanjutnya, dalam hal-hal rohani dan teologi saya hanya menganggap diri saya sebagai orang yang membutuhkan pertolongan Tuhan setiap saat. Karena tanpa Dia apa yang saya bisa tulis dan paparkan tidak ada artinya. Di SABDAspace ada seorang blogger yang bertanya kepada saya tentang berapa kali saya sudah baca Alkitab tuntas dari Kejadian sampai Wahyu, mohon maaf saya pikir di sini saya tidak perlu menyampaikan berapa kali saya sudah membacanya. Biarlah saya dan Tuhan saja yang mengetahuinya, itu tidak terlalu penting. Banyak atau sedikitnya seseorang membaca Alkitab tidak menjamin seseorang itu hebat atau qualified jikalau itu tidak didukung oleh KEGIATAN atau PEMAHAMAN YANG BENAR / SEJATI. Di Roma 10:2 menunjukkan tentang orang-orang yang giat belajar dan melayani, namun tanpa didukung oleh kegiatan dan pengertian yang benar. Mereka adalah orang yang paling kasian. Saya sering temui ini pada teman-teman di sekitar saya yang mengaku diri Kristen, sudah baca Alkitab berkali-kali, tetapi saya melihat kegiatan mereka tidak diimbangi oleh pengertian yang benar. Teologi mereka tidak disertai dengan pengertian yang benar. What a pity they are. Di Roma 10:2 itu yang lengkapnya berbunyi demikian,”Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar”. Rasul Paulus melihat orang-orang Israel yang giat, menggebu-gebu, berapi-api, sungguh-sungguh panas, mereka rajin, mereka menuntut. Tetapi celaka, kalimat kedua berkata, mereka tidak menurut pengertian yang sejati. Betul apa yang dikatakan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong di salah satu khotbahnya (yang kemudian ditranskrip menjadi sebuah artikel) beliau mengatakan apa artinya beragama dengan berapi-api, tetapi tidak memiliki teologi yang benar? Beragama dengan sungguh-sungguh giat, tetapi tidak ada pengertian dan yang benar. Mereka meskipun baca Kitab tapi tidak mempunyai pengertian Kitab yang betul-betul BETUL, hanya menggebu-gebu saja. Bukankah di dalam zaman ini kita melihat banyak orang Kristen seperti ini? Mengikuti semua persekutuan, kalau berdoa, sampai kursi mejanya dipukul-pukul olehnya. Berdoa mati-matian, menggebu-gebu, berapi-api, tetapi kalau mendengarkan doanya, tidak terdapat pengertian yang benar. Inilah yang dimaksudkan di sini. They are zealous, but their zeal is not based on true knowledge; mereka begitu berapi-api, begitu menggebu-gebu, bahkan begitu giat dan begitu ekstrim, tetapi tidak mempunyai pengertian yang sesungguhnya. Namun pertanyaannya harus dibalikkan lagi, banyak orang mempunyai pengertian yang sungguh-sungguh, mempunyai teologi yang benar, tapi berada di dalam lemari es. Inilah dua macam kecelakaan Kekristenan yang disebutkan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, yaitu ada orang Kristen yang memiliki teologi yang benar, memiliki doktrin Reformed, tetapi kalau dijamah, 40 derajat di bawah nol. Ada orang Kristen yang pintar, yang teologinya bagus, hebat dalam pengetahuan Alkitab, tetapi nol, dingin seperti es. Manusia es yang berjalan jalan. Kalau ke gereja, matanya melihat sini sana, ditanya apa saja, jawabannya benar tetapi tidak hangat, tidak ada persahabatan, tidak ada kasih, tidak ada api yang sungguh-sungguh, tidak ada cahaya yang sungguh-sungguh. Sebaliknya, ada orang yang apinya sungguh-sungguh, tetapi pengertiannya salah, teologinya ngawur alias tidak benar (fenomena ini juga terjadi di tempat dimana saya sering berdiskusi. Ada beberapa blogger yang ngotot dan kekeh jumekeh dengan pengertian mereka), Alkitab diselewengkan. Kedua macam orang itu tidak beres adanya, tidak memuaskan hati Tuhan. Itulah sebabnya kita perlu menegakkan satu semangat, di mana teologi ditegakkan dan api Roh Kudus tetap berada di dalamnya. Saya sangat kagum dengan Pdt. Dr. Stephen Tong ketika beliau memaksudkan kedua hal ini, namun sayangnya banyak orang yang salah tanggap dan apriori dengan ajaran beliau, bahkan ada yang tega memfitnahnya dengan membabi buta, (tulisan komentar orang-orang tentang beliau bisa diakses dengan cepat di salah satu blognya Pak Hai Hai di www.sabdaspace.org dimana di sana Pak Hai Hai me-link-nya), mungkin kalau beliau sudah tidak ada lagi di dunia ini orang baru sadar dan kembali kepada Tuhan, orang baru mulai melihat ini penting. Ya, memang inilah yang seharusnya ada dalam Kekristenan. Pemahaman Alkitab yang benar dan teologi yang orthodoks dan penjelasan yang setia dan ditaruh dalam semangat pelayanan yang berapi-api. Mengapa gereja-gereja yang ajarannya kurang beres begitu berkembang dan begitu banyak orang yang hadir? Karena manusia bukan hanya memerlukan doktrin yang benar tetapi juga memerlukan kehangatan. Mengapa gereja-gereja tua, yang mempunyai teologi dan sejarah yang begitu kuat, justru makin lama makin kosong? Karena gereja yang begitu tua, yang begitu megah, yang mempunyai tradisi yang begitu panjang itu tidak ada api, tidak ada kesungguhan, tidak ada friendship, tidak ada keramahan, tidak ada cinta kasih, tidak ada persaudaraan, tetapi yang ada hanyalah kebanggaan, ini adalah gereja besar, kami sudah berdiri sekian ratus tahun. Tetapi gereja-gereja itu sudah mau mati karena tidak pernah membangun ibadah, tidak pernah membangun semangat penginjilan. Selain Reformed juga harus injili. Fenomena dua arus ekstrim ini terjadi di gereja-gereja di tempat saya tinggal (Kalimantan), tentunya tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah lain. Kita sudah melihat dua macam gereja: yang dingin tetapi rapi, yang panas tetapi gila. Sekali lagi saya tidak menentang orang yang banyak melayani di persekutuan ini, di persekutuan itu, di gereja ini dan di gereja itu. Saya juga tidak memandang rendah orang-orang yang banyak atau berkali-kali baca Alkitab. Itu bagus sebenarnya. Kita harus tamat baca Alkitab dari Kejadian sampai wahyu? Kenapa? Itu untuk menunjukkan kita serius mempelajari dan menyelidiki kebenaran. Karena Alkitab boleh dikatakan sebagai surat cinta Tuhan yang diberikan kepada kita. Kita tidak boleh malas dalam mempelajari Alkitab. Jangan hanya suka pada bagian tertentu saja dari Alkitab, karena Alkitab seluruhnya adalah Firman Tuhan yang diilhamkan oleh Roh Kudus. Saya kagum dan salut dengan orang-orang yang sudah baca Alkitab tuntas dari Kejadian sampai Wahyu. Dr. John Sung selama masa hidupnya sebelum beliau meninggal dunia, beliau sudah selesai baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu lebih dari 40 kali. Pdt. Dr. Stephen Tong, seorang hamba Tuhan dari GRII yang paling saya kagumi dan hormati di bawah kolong langit pada zaman ini, sudah baca Alkitab tuntas berpuluh-puluh kali. Demikian juga tokoh-tokoh dan para teolog yang lain seperti Dr. John Calvin, Martin Luther, Prof. Louis berkhof, Dr. Martyn Lloyd Jones. Saya kagum pada mereka semua. Namun kekaguman saya pada mereka bukan dikarenakan banyaknya mereka baca Kitab Suci, tapi karena semangat, kekonsistenan, kegiatan yang dibarengi dengan pengertian yang benar, sehat dan mendalam, serta keunggulan pengajaran mereka yang mempengaruhi sejarah, sehingga banyak orang diberkati melalui karya-karya mereka. Saya mungkin tidak bisa dan tak akan pernah seperti mereka, karena saya adalah diri saya sendiri, dan mereka adalah diri mereka sendiri yang dicipta Tuhan dengan kemungkinan dan kapasitas yang berbeda-beda. I like to be my self. Be yourself! Jadilah dirimu sendiri sebagaimana engkau ada. Taklukanlah diri kepada otoritas Allah dan isilah anugerah Tuhan yang diberikan-Nya di dalam diri kita masing-masing. Para tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas, mereka sudah membuktikan kepada dunia bahwa mereka memiliki keunggulan dan bisa untuk dijadikan teladan. Meskipun kesempurnaan bukan milik mereka sepenuhnya. So, kenapa kita tidak belajar dari mereka?
Kenapa saya mau meladani perdebatan-perdebatan dan perbedaan pendapat atau perdebatan? Pertama, karena saya merasa diri saya kurang sehingga saya merasa perlu belajar, belajar dan belajar serta mau diajar. Kedua, karena banyaknya pendapat yang simpang siur, dan kekeh jumekeh. Ketiga, karena saya ingin berbagi dan saling membangun iman. Selanjutnya, karena saya merasa perlu untuk menyampaikan kebenaran yang Tuhan anugerahkan kepada saya demi kemuliaan-Nya. Kalau saya masa bodoh atau acuh tak acuh berarti saya tidak menjalankan amanat yang diberikan Tuhan kepada saya untuk membawa orang-orang kepada pengertian yang benar, sebagaimana yang dituntut oleh Alkitab. Saya akui, terkadang saya merasa gemas namun juga kasian dengan mereka yang kekeh jumekeh dengan argument-argumen mereka yang keliru itu. Karena itu selama masih ada nafas saya tidak mau tinggal diam atau berkompromi dengan pemahaman-pemahaman atau ajaran-ajaran yang menyimpang, yang tidak sungguh-sungguh kembali dan berdasar pada Alkitab, sebagai satu-satunya standar kebenaran yang mutlak dan tak terbantahkan. Bagi saya Alkitab itu buku yang luar biasa. Alkitab mampu dan cukup untuk menjawab segala kemelut hidup dan permasalahan-permasalan lain yang terjadi di dunia ini. Saya setuju dengan Samuel Johnsen, meskipun dia hanya seorang pujangga yang berasal dari Inggris, yang mengatakan bahwa satu-satunya buku yang disebut buku adalah Kitab Suci (Alkitab). Namun ucapannya ini keluar dari mulutnya ketika dia sudah di ambang kematian (sekarat), bahkan sebelum mati dia sempat memarahi orang-orang di sekitarnya ketika dia meminta mereka untuk mengambilakan Alkitab untuknya. Dia mengatakan, “Stupid! The Only Book is the Bible” (“Goblok! Satu-satunya Buku itu cuma satu, yaitu Alkitab”). Dia sendiri adalah seorang pujangga yang menulis banyak buku, namun pada akhirnya ia juga harus mengakui bahwa yang disebut buku itu cuma satu, yaitu Kitab Suci (Alkitab). Buku-buku yang lain itu hanyalah coretan-coretan manusia yang tidak memberikan pengharapan. Perkataan itu benar. Alkitab adalah satu-satunya buku pengharapan umat manusia. Karena di dalam Alkitab terdapat Firman Tuhan yang sangat berkuasa yang mampu memberikan hidup dan pengharapan bagi setiap jiwa manusia. Berbahagialah mereka yang serius dan dengan ketat mempelajarinya. Di dalam diskusi atau tulisan saya, saya berusaha dengan meminta pertolongan Roh Kudus agar saya bisa memberikan pengertian yang benar kepada orang-orang agar sungguh-sungguh belajar dan meneliti Alkitab dengan serius dan ketat. Meskipun saya akui saya juga terkadang bisa keliru. Saya juga tidak luput dari kesalahan. Saya bukan manusia super atau malaikat apalagi Tuhan. Sekali lagi saya hanya menganggap diri saya sebagai orang yang perlu diisi terus oleh kebenaran. Saya merasa perlu belajar, belajar dan belajar serta mau diajar (*KEEP ON LEARNING AND BE TEACHABLE ABOUT THE TRUTH*). Demikian juga dengan orang-orang yang sering berdebat termasuk, khususnya bagi mereka yang kekeh jumekeh, saya mengharapkan agar apa yang kita sampaikan di sini sungguh-sungguh dipertanggungjawabkan baik di hadapan Allah dan manusia. Karena Firman Tuhan berkata, “Awasilah dirimu dan ajaranmu karena dengan demikian engkau akan meyelamatkan dirimu dan orang-orang yang mendengar ajaranmu” (Bdk. 1 Tim 4:16). Saya mengharapkan agar kita juga memegang satu prinsip dan motivasi berdiskusi yang sehat dalam konsep ADIL dan KASIH untuk bertumbuh dan saling membangun iman demi kemuliaan Tuhan, bukan untuk saling menjatuhkan, pamer argumen, atau semata-mata unjuk kebolehan. ITU SALAH. Jangan kita sambil berdebat sambil mencuri kemuliaan Tuhan. Tapi biarlah setiap kita pada akhirnya mengembalikan segala kemuliaan hanya kepada Tuhan Allah Tritunggal (Soli DEO Gloria). Janganlah berdiskusi sehingga membuat orang lain semakin kacau dengan argumen-argumen kita yang kelihatan akademis, tapi sebenarnya ngawur dan jauh dari kebenaran Alkitab. Memang hal-hal negatif dan pengertian yang melenceng dari kebenaran yang sesungguhnya tak bisa kita selalu bendung dan halangi, itu pasti selalu ada dan menjadi khasanah di dunia ini. Tapi yang saya maksudkan adalah paling tidak kita awali dulu diri kita dengan memiliki motivasi mengasihi orang lain untuk saling membangun dan menguatkan iman orang lain.
Dan yang paling penting adalah kita memiliki kegiatan dan pengertian yang benar serta sehat tentang Alkitab sehingga ketika berdiskusi, kita bukan menyampaikan semata-mata teori kita sendiri. Pada Akhirnya biarlah segala pemahaman kita itu sungguh-sungguh berdasar pada pengetahuan dan pengertian yang benar dari Alkitab, yang pada gilirannya itu semua demi kemuliaan Allah.

Semoga tulisan ini berguna bagi kita semua. Soli Deo Gloria
(segala kemuliaan hanya bagi Tuhan). Amin!

By Samuel Rudi Desfortin di P. Raya.
Tulisan ini pernah di posting di http://www.sabdaspace.org oleh penulis yang sama
(*LET’S KEEP ON LEARNING AND BE TEACHABLE ABOUT THE TRUTH*)

Posted in artikel, reformed | No Comments »

CHRISTIAN MONOTHEISM vs POLYTHEISM (THE DOCTRINE OF THE TRIUNE GOD)

Posted by desfortin on December 19, 2008

DOKTRIN ALLAH TRITUNGGAL

*Pendahuluan*

Tulisan ini cukup panjang, sehingga para pembaca akan memerlukan beberapa waktu untuk membacanya karena saya sengaja tidak membaginya ke dalam blog-blog yang terpisah (saya pikir tidak ada bedanya jika dipisah, cuma mungkin kalau terpisah pembaca tidak dituntut membacanya habis sekali duduk, dan tidak terkesan membosankan). Tetapi, ini merupakan satu tema pembahasan yang terangkum menjadi satu. Peringatan, bagi mereka yang malas membaca dan alergi dengan tulisan yang panjang, yang selalu ingin praktis dan tak ingin buang waktu banyak, lebih baik tidak perlu dilanjutkan membaca tulisan ini. Tetapi saya berkata berbahagialah mereka yang mau dengan rendah hati, mau diajar dan dipenuhi terus oleh kebenaran. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semuanya. Saya harap tidak bosan dan para pembaca tetap mau terus belajar, belajar dan belajar.
Tulisan ini saya ketik dengan tangan saya sendiri selama berjam-jam. Kenapa saya mau menghabiskan waktu berjam-jam untuk ini? Karena saya percaya akan pentingnya doktrin ini diajarkan kepada mereka yang membutuhkan. Tulisan ini secara khusus saya posting Pertama, untuk saudara-saudara seiman (orang Kristen) yang rindu dan cinta kepada Firman Tuhan, khususnya dalam mengerti doktrin Tritunggal ini. Kedua, ditujukan untuk mereka yang sungguh-sungguh mau mencari kebenaran (ex. siapa saja). Ketiga, tulisan ini ditujukan kepada para bidat-bidat Kristen (ex.Unitarian, Saksi Yehova, Sabelianisme dll), dan juga kepada ajaran-ajaran yang menentang Allah Tritunggal (ex. Isme-Isme dan Agama tertentu).
Allah Tritunggal tidak mungkin dimengerti seluruhnya oleh rasio manusia yang terbatas ini, sedangkan Allah adalah yang tidak terbatas. Doktrin ini memang sulit alias tidak mudah dipahami, sama dengan memahami doktrin predestinasi. Karena itu kita harus memiliki sikap yang benar untuk mempelajari doktrin ini. Saya juga ada merasa gentar ketika membahas topik ini secara khusus, karena siapa tahu apa yang saya tulis malah berlainan dengan kehendak-Nya, dan saya berdoa semoga saya bisa menyatakan kebenaran-Nya dengan tepat. Jadi, doktrin ini sekali lagi bukan doktrin yang sepele. Dan kalau ada yang berani mengatakan doktrin Tritunggal itu mudah, silakan tunjukkan kepada saya dimana letak kemudahannya, mungkin saya bisa belajar dari anda, tapi jangan-jangan anda hanya asal bicara dan sok tahu alias sombong. Saya sendiri mengakui doktrin ini memamg tidak gampang untuk dijelaskan, bahkan saya dengan segala daya upaya, sambil memohon pertolongan-Nya menjelaskan doktrin ini di blog ini dengan uraian yang tidak singkat. Pdt. Dr. Stephen Tong pun pernah membikin seminar tentang topik ini dan memerlukan waktu sekitar 6 jam untuk membahas doktrin Allah Tritunggal dengan pengertian dari Alkitab yang begitu limpahnya.
Mengapa Kebenaran doktrin ini sulit dimengerti dengan tuntas? Pertama, karena kebenaran ini bersifat wahyu. Kedua, kebenaran ini adalah Kebenaran Sang Pencipta. Ketiga, karena doktrin ini merupakan doktrin tentang Yang ESA. Tetapi betapapun sulitnya doktrin ini tidak berarti kita tidak perlu menjelaskan, tidak berarti kita tidak perlu percaya dan tidak berarti kita memahaminya tanpa otak (tanpa proses pemikiran). Memang, orang Kristen bukanlah orang yang rasionalis tetapi orang Kristen adalah orang yang harus rasionil. Rasio tetap dipakai tetapi bukan diper-ilah. Pengetahuan Firman tidak mungkin dicapai oleh otak secara keseluruhan, tetapi kita harus memakai otak kita semaksimal mungkin untuk mengerti Firman Tuhan dan jangan kita berdalih hanya bersandar kepada Roh Kudus, tetapi tidak pakai otak, itu seperti babi alias binatang yang tidak berpikir. Orang yang rohani adalah orang yang memakai otak dan mensinkronisasikan rasionya dengan kebenaran Firman. Sebab Allah juga adalah Allah yang berpikir, Dialah pemikir terbesar (The Biggest Thinker). Sehingga kita harus berusaha memikirkan kebenaran sebagaimana cara Allah berpikir (to think after God thinks), itu baru manusia rohani. Kita bersyukur rasio diberikan kepada kita, tidak kepada binatang seperti anjing, kucing dan gajah.
Kemudian, hal yang pertama. Yang harus kita sadari adalah karena Allah Tritunggal adalah Allah yang benar maka kita harus mempelajari dan mengajarkannya dengan benar. Kedua, waktu kita mempelajarinya ingat dan sadarlah saat ini juga, pada detik ini juga kita sedang belajar dari Dia yang sedang mengawasi serta memimpin kita. Ini tidak sama ketika kita membaca tulisan-tulisan para ilmuan atau filsuf agung di dalam sejarah. Kita bukan belajar tentang Dia, tetapi mempelajari Dia dan Dia sedang berada untuk mengajar kita (Allah bukan sekedar objek penyelidikan kita melainkan subjek). Ketiga, sekali lagi doktrin ini sulit karena melampaui rasio, tapi bukan berarti kontra-rasional, doktrin ini supra-rasional. Tetapi kita jangan seperti orang di dalam kebudayaan Gerika yang memiliki Sistem Tertutup (close system) kepada wahyu Allah, tapi biarlah kita menjadi orang yang terbuka (open system) kepada Wahyu Allah seperti orang di dalam kebudayaan Ibrani. Mereka adalah bangsa yang mendengar sehingga memperoleh iman. Jadi, sekali lagi kita harus dengan rendah hati dalam mempelajari doktrin ini dan kita harus mengakui di hadapan Allah bahwa tidak seorangpun di dalam dunia ini yang dapat menjelaskan segala sesuatu kecuali terbuka kepada Sang Pencipta. Dengan terbuka kepada sang Pencipta, barulah kita bisa memandang segala sesuatu dengan tepat karena kita melihat segala sesuatu melalui mata Tuhan.

*Pembahasan*

Perdebatan tentang dogma gereja dan doktrin Alkitab memang sejak dari dulu sampai sekarang terus terjadi. Para pemikir, para teolog dan para sarjana sejak berabad-abad yang silam sudah melontarkan bermacam-macam pandangan mereka tentang berbagai konsep dan doktrin Alkitab, khususnya tentang Tritunggal. Ada yang pro dan ada juga yang kontra di antara mereka. Bahkan di abad ini pun ternyata pemahaman orang-orang, termasuk orang yang katanya Kristen, masih banyak yang simpang siur, meskipun argumen-argumen mereka sepertinya akademis dan very learned, tapi terkadang pemahaman mereka tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Mereka pandai mengutip ayat Alkitab di sana sini, tetapi sayang penafsirannya terkadang meleset dari sasaran. Saya melihat ternyata fenomena ini pun terjadi di antara para blogger di SABDAspace ini. Mengaku diri sarjana tetapi apa yang disampaikan membuat orang lain malah bingung dan dikacaukan. Yang sangat menyedihkan adalah sudah tahu salah tetapi ngotot dan kekeh jumekeh. Dan yang paling kasian lagi adalah mereka yang sebenarnya berada pada posisi yang salah tetapi belum sadar akan kesalahannya, malah semakin gencar menjual “dagangannya” kepada orang lain baik di “pasar klewer” ini maupun di “pasar” lainnya. Dan saya yakin mereka yang tidak banyak belajar pasti bisa terpengaruh. Namun berbahagialah mereka yang sungguh-sungguh memegang Firman Tuhan yang sejati dan tidak mudah diombang-ambingkan. Kita melihat sebelum Abad Pertengahan, Gereja di Timur dan di Barat mempunyai pengertian yang sangat berbeda dalam doktrin Allah Tritunggal ini. Filsafat-filsafat Gerika sangat mempengaruhi gereja-gereja di timur (Yunani Ortodoks), sedangkan pikiran-pikiran Latin sangat mempengaruhi gereja di Barat (Khatolik). Akibatnya timbullah semacam dua pandangan yang ekstrim terhadap doktrin Allah Tritunggal ini. Pandangan yang pertama menganggap adanya tiga allah, sedangkan pandangan kedua menganggap hanya ada satu allah yang menyatakan diri dalam tiga keadaan yang berbeda.

Konsep dan bentuk Allah Tritunggal ada dalam salah satu ayat yang penting di Perjanjian lama, yaitu di dalam Ulangan 6:4 yang oleh orang Yahudi disebut sebagai ayat Syamma (Ayat Mas). Di sana Allah berkata Israel melalui Nabi Musa “Hei, Israel dengarlah Allahmu (bentuk jamak/elohim) adalah Allah yang Esa (tunggal)” Bagaimana kita bisa Allah Tritunggal? Tiga tetapi satu, satu tetapi tiga. Jika dipaksa kita bisa gila untuk mengertinya. Memang tidak ada analoginya, tidak ada rasionalisasi yang cukup untuk menjelaskan Tritunggal. Waktu saya masih SMA sekitar kelas II, ada teman saya yang Muslim yang bertanya kepada saya begini, “Kok bisa ya orang Kristen punya Tuhan yang beranak dan percaya kepada ajaran Trinitas, kamu bisa jelaskan ga kepada saya kenapa Tuhan kalian itu tiga tetapi juga satu?” Dia tambahkan lagi “bukankah 1+1+1=3, kok tiga bisa satu lagi, gimana dong?” Lalu saya diam sejenak dan mencoba mengingat-ingat khotbah pendeta-pendeta yang pernah saya dengar di mimbar, dan buku yang say yang ada menyinggung tentang Allah Tritunggal. Ironisnya pada waktu saya mulai masuk SMA iman saya mengalami kemunduran yang luar biasa, saya sempat lebih dari setahun tidak ke gereja. Salah satu alasannya mungkin karena kecewa kepada teman-teman Kristen saya yang tidak bisa dijadikan teladan, dan juga khotbah para pendeta yang kurang meyakinkan saya ditambah kesaksian hidup mereka yang tidak sepenuhnya seperti yang dituntut Firman Tuhan. Dan kalau sekarang saya pikir-pikir ternyata jawaban saya itu ngawur dan tidak meyakinkan, serta tidak sesuai dengan ajaran Tritunggal di Alkitab. Pada waktu itu saya jawab begini, “Menurut yang saya dengar dan ketahui dari pendeta-pendeta yang berkhotbah sich, Tuhan kami itu bukan tiga, tetapi satu saja, cuman Dia menyatakan diri dalam tiga bentuk, pertama sebagai Bapa, kemudian Dia turun ke dunia menjadi Yesus Kristus dan setelah Dia naik ke surga Dia menjadi Roh Kudus. Dia tetap Tuhan yang satu/Esa” Lalu saya beranalogi lagi untuk teman saya yang Muslim itu, “Con\ba kamu bayangkan manusia itu kan punya tiga unsur: tubuh, jiwa dan roh, saya tanya dia lagi, apakah kamu itu tiga manusia karena kamu memiliki tubuh, jiwa dan roh?” Dia jawab, “tidak”. Nah, begitulah Tritunggal menurut kami. Kemudian dia tidak bertanya lagi, kurang tahu apakah dia Cuma punya modal pertanyaan segitu atau dia malah bingung dengan jawaban saya itu, dan kemudiaan dia Cuma mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “O…begitu ya? Ya udah ga apa-apa kita beda agama, yang penting kita tetap teman. Begitu katanya. “Ya”, saya bilang.
Setelah saya duduk di bangku kuliah dan baru sekitar 2 tahun yang lalu setelah saya bertemu dengan seorang saudara di salah satu perseketuan di kota saya, dan ketika saya mempelajari teologi, mendengarkan kaset khotbah hamba Tuhan yang saya kagumi di generasio ini dan dari buku-buku teologi sitematika dan buku-buku rohani yang dimiliki, saudara yang saya kenal itu, saya menyadari bahwa jawaban saya itu ternyata salah. Bahkan jawaban saya itu tanpa saya sadari ternyata mewakili ajaran Sabelius yang hidup pada abad kedua, yang dikenal dengan Sabelianisme. Ternyata ini ajaran bidat yang mirip dengan Patripachianisme (Bapa ikut sengsara di kayu salib). Tetapi Tritunggal Alkitab setelah saya pelajari bukan seperti Sabelianisme atau Patripachianisme. Itu bukan konsep Tritunggal, tetapi Tritopeng, Triperanan atau Trifungsi.
Begitu juga dengan banyak ajaran dari para pengkhotbah di Indonesia, sehingga tidak sedikit juga orang Kristen yang terpengaruh sehingga ketika ditanya tentang Allah Tritunggal terkadang mereka, kalau tidak diam dan pura-pura tahu, memberikan analogi-analogi seperti berikut ini. Ada yang menggambarkan Allah Tritunggal seperti Matahari, Sinarnya, dan Panasnya. Itulah Allah Tritunggal, kata mereka. Analogi ini (mirip dengan konsep Plato) dianggap cara yang terbaik oleh banyak orang untuk mejelaskan Tritunggal. Namun, saya berkata ilustrasi itu tidak mencakup Analogi Allah Tritunggal. Sebab sinar matahari bukanlah matahari, kehangatan matahari atau energinya bukanlah matahari. Tetapi di dalam analogi ini memang memiliki signifikansi tersendiri (bdk Ibrani 1:3 dan Yoh 1:18). Ada juga yang berpendapat bahwa Allah Tritunggal itu seperti gambaran Air, Uap dan Es. Mereka berkata (mungkin ahli kimia kalia ya, hehe…). Jika air didinginkan ia menjadi es, kalau dipanaskan menjadi uap. Ketiga unsur itu tidak sama tetapi ketiganya memiliki kode kimia yang sama yaitu H2O. Itulah Tritunggal. Analaogi seperti ini juga sembarangan, makanya saya sering bilang kepada teman-teman saya sebelum mengajar orang lain itu, tolong banyak belajar terlebih dahulu. Di dalam analogi tentang Air, Uap dan Es itu hanya memaparkan sebagian saja dari pengertian Tritunggal, hanya menunjukkan kesamaan esensinya saja, tetapi air bisa jadi es, es bisa jadi uap sedangkan dalam Tritunggal Alkitab, Bapa tidak bisa jadi Yesus, dan Yesus tidak bisa jadi Roh Kudus, Roh Kudus tidak bisa jadi Bapa atau Anak. Bapa adalah Bapa, anak adalah anak, dan Roh Kudus adalah Roh Kudus, tidak bisa ditukar-tukar. Tidak habis dengan semua anologi di atas ada lagi yang beranalogi seperti saya dulu menjawab pertanyaan salah seorang teman saya yang Muslim, yaitu tentang tubuh, jiwa dan roh, di dalam satu diri manusia . Inilah Tritunggal. Cara inipun tidak bisa menjelaskan kesulitan Tritunggal. Bagaimana kita bisa memisahkan tubuh, jiwa dan roh? Jika kita paksakan, maka jiwa/roh manusia bukanlah manusia, tubuh manusia bukanlah manusia itu sendiri.
Lalu ada lagi yang beranalogi tentang Bapa, Sopir dan Direktur. Mereka mengatakan tiga fungsi itu di dalam seorang diri. Di rumah ia sebagai bapa, di luar ia menjadi sopir dan di kantor ia adalah seorang direktur perusahaan. Analogi ini pun sama sekali salah. Sebab Allah Bapa tidak pernah menjadi Allah Anak, Allah anak tidak pernah menjadi Allah Roh Kudus dan Allah Roh Kudus bukanlah Allah Bapa. Konsep yang tidak beres seperti di atas harus dikoreksi di seluruh Indonesia.
Kalau semua analogi dan usaha yang dilakukan di atas tidak berhasil adakah cara lain yang bisa menjelaskan Tritunggal? Saya katakan di depan memang tidak ada rasionalisasi yang memadai untuk menguraikan Tritunggal, maka benar, bahwa doktrin ini tidak gampang, tapi bukan kontradiksi. Saya mengutip pendapatnya Pdt. Dr. Stephen Tong untuk menjelaskan Tritunggal tapi memang inipun bukan jawaban yang paling tuntas, masih ada yang perlu ditanyakan. Pak Tong memakai relasi ganti analogi. Beliau berkata di dalam seminarnya tentang Tritunggal yang beliau bahas selama kurang lebih 6 jam bahwa orang Kristen hanya punya satu Kitab Suci, yaitu Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi jika orang orang Kristen hanya memiliki satu Kitab, bagaimana semua orang Kristen membacanya, bukankah harus antri? Jawabanya adalah tidak perlu, kita bisa masing-masing membeli satu kitab. Aapakah di sini orang Kristen jadi punya banyak kitab? TIDAK. Tetap hanya ada satu kitab, tetapi kitab saya bukan kitab kamu, dan kitab kamu bukan kitab dia. Tetapi kita semua hanya punya satu kitab. Waktu saya minta anda dan dia untuk buka Injil Yoh 1:1 maka di kitab anda, saya dan dia tercatat bunyi Firman Tuhan yang sama yaitu: “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Kita akan membaca firman yang sama”. Pada gambaran ini Pak Tong memberikan suatu gambaran yang lebih tepat dari analogi dan perumpamaan-perumpamaan sebelumnnya, tetapi ini bukan analogi, hanya merupakan relasi. Adanya volume dan esensi. Tapi tetap gambaran inipun tidak bisa tuntas menjelaskan Tritunggal, tetap ada kelemahaman dan menimbulkan pertanyaan lagi, yaitu mengapa harus berhenti pada tiga? Bukankah bisa empat, bisa lima atau lebih banyak lagi? Tetapi Allah Tritunggal hanya berhenti sampai tiga, tidak bisa dikurangi atau ditambah. Angka tiga menjadi angka eklusif untuk Allah Tritunggal. Di sinilah misterinya. Jangan Allah selalu dimengerti dengan konsep 1+1+1=3. Tidak bolehkah kita mengertinya dengan 1×1x1=1? Ada juga yang mencoba 1 ~1~1= ~. Tapi kesulitannya adalah yang tak terhingga tidak perlu ditambah lagi dengan apapun yang lain. Sekali lagi tidak ada rumus matematisnya dan tidak ada pendekatan rasional atau analogi tertentu yang bisa mengupas Ketritunggalan Allah yang begitu agung itu. Mungkin sampai ke dalam kekekalan pun ini akan menjadi misteri. Tapi satu hal yang harus kita yakini bahwa Allah Tritunggal itu benar adanya. Ia adalah Allah yang Esa yang terdiri dari tiga Oknum (Bapa, Anak dan Roh Kudus). Ia adalah allah yang transenden. Sekarang kita masuk ke dalam pembahasan tentang konsep Keesaan Allah.

Allah Yang Esa
Dari manakah konsep Tritunggal itu berasal? Apakah Tritunggal merupakan konsep Gerika? Konsep filsafat abad pertama hingga keempat? Apakah hasil kesimpulan Bapa-Bapa Gereja? Atau ini merupakan konsep yang murni berasal dari kitab suci (Alkitab)? Silakan anda pelajari dan selidiki konsep-konsep filsafat yang penting dan paling klasik mulai dari Thales, Socrates, Plato, dan Aritoteles. Adakah konsep Tritunggal di dalam filsafat mereka? Saya yakin anda tidak akan menemukannya. Karena pada jaman itu bahkan sebelum masa Socrates, orang-orang percaya dan berbakti kepada dewa-dewa. Artinya mereka percaya kepada lebih dari satu dewa atau allah. Orang yang pertama di dalam sejarah Gerika yang mencetuskan bahwa dia percaya kepada Allah yang tertinggi dan Allah yang satu-satunya yang sejati adalah Socrates. Dialah orang pertama di dalam jamannya yang mencetuskan pernyataan itu, bahwa dia percaya pada satu Allah yang tertinggi. Demikian juga Allah menurut konsep Plato, meskipun konsepnya mirip, tetapi itu bukanlah konsep Tritunggal yang asli seperti yang dimaksudkan oleh Alkitab. Plato mengatakan bahwa Allah itu seperti suatu terang, lalu ada cahaya yang keluar darinya dan ada hangat yang berada di dalamnya. Ketiganya itu adalah satu. Namun apa yang dipikirkan oleh Socrates dan Plato ini baru merupakan semacam Wahyu Umum. Karena Wahyu Umum berdasarkan Roma 2:19-20 sudah diberikan oleh Allah kepada setiap ciptaan-Nya, baik Kristen maupun bukan. Tapi karena distorsi dosa di dalam diri manusia sehingga pengertian akan Allah yang sejati telah menjadi kabur dan tidak murni lagi. Karena Wahyu Umum tidak cukup, makanya Allah memberikan Wahyu Khusus kepada umat-Nya supaya kita bisa mengenal siapa Allah yang sejati itu.
Memang istilah Tritunggal pertama kali dicetuskan oleh seorang yang bernama Tertulianus sekalipun perkembangan doktrin Tritunggal pada waktu itu belum sempurna, tetapi Tertulianus sudah mencapai keadaan yang sangat sehat. Sebelum dia ada seorang yang bernam Origen dari Aleksandri Utara Mesir. Dia mengakui Tritunggal tapi agaknya menurut dia Yesus Kristus sedikit lebih rendah daripada Bapa. Tapi Tertulianus sudah memberekan pandangan Origen itu. Dan ada lagi seorang tokoh bernama Athanasius yang turut membela doktrin ini, bahkan sebagai akibatnya ia pernah 5 kali dikucilkan oleh gereja. Pada waktu itu ada 2 kekuatan yang tidak seimbang di gereja. Mayoritas golongan percaya Yesus lebih rendah dari Bapa (dipengaruhi oleh sabelianisme dan Arianisme). Sehingga Athansius harus melawan mayoritas. Tahun 325 peperangan doktrin ini dihentikan dengan menghasilkan keputusan besar, dimana Athanasius yang ditentang oleh golongan mayoritas akhirnya memenangkan perdebatan. Tapi sayang keputusan ini diambil terlalu tergesa-gesa dan Kaisar Romawi yang bernama Konstantin (yang telah menjadi Kristen) memihak pada Athanasius sehingga perdebatan itu berakhir. Namun sebenarnya kebenaran teologi tidak perlu ditolong oleh kuasa politik, tetapi seharusnya memperoleh pengertian yang diberikan oleh Roh Kudus. Itulah sebabnya Athanasius dan rivalnya menyatakan ketidakpuasannya mereka karena kemengan itu diberikan oleh forum (Kaisar) kepadanya Athanasius. Doktrin Allah Tritunggal setelah beberapa puluh tahun masa Athanasius itu, barulah bisa diterima oleh gereja dengan baik

Konsep Allah Yang Esa, pertama merupakan sumbangsih terbesar dari orang-orang Ibrani kepada dunia. Orang-orang Ibrani (Israel) berbeda dengan semua bangsa di dunia tentang Allah yang mereka sembah. Mereka mengatakan bahwa Allah Israel adalah Allah seluruh alam semesta. Bagi saya ini adalah suatu konsep yang sangat besar dan penting karena menerobos semua konsep agama. Allah adalah Allah yang menghakimi seluruh bumi (Kej 18;25). Allah yang Esa itu bersifat universal dan supra-alamiah. Allah yang Esa itu adalah Allah yang harus dihormati dengan segenap hidup kita. Di Kitab Perjanjian Lama ada satu ayat kunci atau disebut sebagai “Ayat Syamma”, Ayat Mas untuk mengerti seluruh Taurat, yaitu Ulangan 6:4-5 yang berbunyi: Dengarlah, hai Israel: Tuan itu Allah kita, Tuhan itu Esa!
Konsep Allah Yang Esa, kedua merupakan pernyataan Allah yang serius, sehingga Ia menuntut sesuatu dari setiap orang yang menerima Wahyu Khusus ini. Artinya adalah kita harus serius bersembah sujud hanya kepada-Nya, tidak boleh ada allah lain di hadapan-Nya. Inilah konsep yang luar biasa yang membedakannya dari konsep agama.
Konsep Allah Yang Esa, ketiga merupakan konsep dasar untuk mengerti sifat Allah yang transenden (melampaui segala sesuatu), kudus, mutlak, sempurna dan kekal.
GOD IS ONLY ONE. Alla itu Esa adanya. Kalau Allah itu Esa, bagaimana kita bisa percaya kalau di dalam Keesaan Allah itu terdapat tiga Pribadi? Apakah di dalam keesaan-Nya ketiga Pribadi itu tidak bertentangan? Bagaimana kita bisa percaya bahwa ketiga di dalam Ketritunggalan Allah itu tetap adalah Allah Yang Esa? Di dalam satu ada tiga dan di dalam tiga tetap mempunyai Keesaan; bagaimana hal ini dijelaskan? Satu hal yang penting, yaitu kita sebaiknya jangan mengerti konsep ini dengan konsep yang terikat oleh hukum matematika atau hukum logika manusia. Allah bukanlah refleksi dari pikiran manusia tentang yang supra-alamiah. Tetapi Allah adalah Allah yang transenden. Ia tidak terikat oleh hukum apa pun termasuk hukum logika yang ada di dunia ini. Ia di atas rasio manusia dan melampaui segala sesuatu kita. God beyonds everything.
Ajaran Tritunggal merupakan Wahyu Allah yang diberikan kepada manusia secara progresif. Artinya Tuhan memberikan Wahyu kepada manusia secara progresif atau bersifat semakin maju, makin lama makin jelas (Progressive Revelation).
Kepercayaan yang benar adalah kepercayaan kepada satu Allah yang mempunyai tiga Pribadi, bukan kepada tiga allah. Pengertian yang keliru tentang Allah Tritunggal ini bisa menyebabkan orang jatuh ke dua kutub ekstrim yang salah: (1) Monoteisme yang percaya kepada satu Pribadi Allah dan tidak menerima konsep Oknum Allah yang lebih dari satu; (2) Politeisme yang percaya kepada tiga allah yang tidak mungkin Esa, tidak mungkin mempunyai substansi yang sama. Kedua pandangan ini SESAT dan merusak pengenalan kita terhadap Allah yang benar.
Karena itulah untuk mencegah konsep yang salah Tuhan terlebih dahulu menegakkan konsep dasar: Allah itu Esa. Ia adalah Allah satu-satunya. Konsep Tritunggal sudah diwahyukan sejak mula sekali, sejak di permulaan kitab Kejadian.
Sekarang kita mau melihat istilah yang mengindikasikan Keesaan Allah. Di dalam Kej 1:26, 3:22, 11:7, dan Yes 6:8, Allah memakai kata ganti “Kita” untuk menyebut diri-Nya sendiri, bukan “Saya”. Ada yang berani menafsirkan Kita di sini menunjukkan perundingan antara Allah dan malaikat. Benarkah begitu? Ini sama sekali salah! Sebab Allah tidak pernah bersama-sama malaikat menciptakan manusia. Bahkan malaikat sendiri diciptakan oleh Allah (Yehezkiel 1:5-14, 9:3, 10:1-22). Mencipta adalah pekerjaan Allah sendiri. Kita di dalam Kej 1:26 ingin menunjukkan bahwa itu adalah perundingan di antara pribadi-Pribadi yang berada di dalam Diri Allah Yang Esa. Di sini doktrin Tritunggal sudah dinyatakan meskipun dalam bentuk yang tidak jelas.
Kemudian sebutan Elohim bagi Allah. Kata Elohim merupaka kata yang bermakna jamak, seperti yang pernah saya tuliskan di beberapa komentar saya bahwa bahasa Ibrani adalah bahasa yang unik, yang mempunyai keajaiban tersendiri. Tuhan begitu teliti memilih bahasa untuk dijadikan-Nya sebagai media wahyu-Nya. Dalam bahasa Ibrani untuk menjelaskan jumlah benda dikenal tiga kata yaitu Singular (tunggal), Dual (ganda) dan Plural (jamak). Nah di dalam Alkitab sebutan TUHAN selalu muncul dalam bentuk jamak. Memang kata jamak bisa berarti lebih dari tiga, tetapi setiap kali Alkitab menyebut tentang TUHAN sering ucapan itu muncul diulangi tiga kali (Bil 6:24-26, Yes 6:3). Orang Israel juga punya kebiasaan menyebut Bait TUHAN tiga kali (Yer 7:4).
Namun ada juga yang membantah bahwa penggunaan Kita merupakan sesuatu yang umum di dalam pembentukan bahasa-bahasa di Timur Tengah dalam menyebut Tuhan sebagai (majestic plural). Hal itu memang benar namun tidak berarti bahwa kita menyangkal Allah telah menyatakan diri dengan cara yang berbeda dari cara-cara bangsa lain menyebut illah atau dewa-dewa mereka. Kitab kejadian yang ditulis oleh Musa muncul jauh sebelum kebiasaan orang-orang di Timur Tengah dalam menyebut sesembahan mereka dengan bentuk plural (jamak) itu.
Di dalam Alkitab, Allah menyatakan diri sebagai Allah yang berkarya. Ada begitu banyak karya Allah, namun ada tiga karya yang sangat besar sehingga hanya Allah sendiri yang bisa mengerjakannya. Ketiga karya itu adalah Mencipta (Creator), Menebus (Redeemer) dan Mewahyu (Revealer). Allah sebagai Pencipta, Penebus dan Pewahyu inilah yang menyebut dirinya dengan sebutan Kita, bahwa Ia adalah Allah yang lebih dari satu Pribadi. Kalau jamak itu bisa berarti lebih dari satu, dua dan tiga, mengapa Alkitab hanya berhenti pada tiga pribadi? Mengapa bukan empat, lima dan seterusnya? Ini memang tersembunyi dan tidak ada jawaban. Tetapi selain ketiga Pribadi ini yang dinyatakan di dalam Wahyu Progresif, tidak ada pribadi yang lainnya lagi. Angka tiga menjadi angka eksklusif dan sempurna dari diri Allah. Namun, satu hal yang harus diperhatikan bahwa di dalam ayat-ayat yang saya sebutkan di atas, yaitu bentuk predikat (kata kerja) yang mengikuti sebutan Allah selalu memakai kata kerja untuk bentuk tunggal. Biasanya subjek berbentuk jamak diikuti predikat yang berbentuk jamak juga, dan kalau subjek berbentuk tunggal maka predikat atau kata kerjanya diikuti oleh bentuk tunggal pula. Tapi di sini Alkitab mencatat Elohim (bentuk jamak dari El) mengerjakan sesuatu, selalu dengan kata kerja atau predikat tunggal.
Sebelum kita masuk lebih jauh tentang pembahasan ketiga Pribadi dalam Allah Tritunggal ini, saya mengajak kita terlebih dahulu melihat bagaimana Allah yang kita sembah itu dikatakan sebagai Allah yang Esa namun yang berpribadi. Apa syarat sesuatu bisa disebut sebagai suatu pribadi (oknum)? Seperti yang pernah saya tulis di beberapa komentar saya di blog blogger yang lain, tapi di sini saya akan pertegas lagi, bahwa ada tiga unsur yang terdapat di dalam sesuatu yang disebut pribadi, yaitu (1) Unsur Rasio [bisa berpikir, mempunyai pengertian akan kebenaran]; (2) Unsur Emosi [bisa mencintai, membenci, sedih, berduka, sukacita dsb]; (3) Unsur Kemauan [memiliki kebebasan untuk bertindak menurut kemauan yang ada]. Dengan demikian saya mau ajukan satu pertanyaan, khususnya kepada mereka yang menentang Allah tidak berpribadi, Apakah Bapa, Anak dan Roh Kudus tidak memiliki tiga unsur yang saya sebutkan di atas? Kalau Allah tidak berpribadi mana mungkin Dia bisa melakukan poin-poin dari ketiga unsur di atas. Kita juga manusia dicipta oleh Allah sebagai manusia yang berpribadi, bahkan natur kita dicipta sesuai peta dan teladan Allah. Allah Tritunggal adalah Allah Yang Esa yang terdiri dari Tiga Pribadi atau di dalam satu Esensi diri Allah, ada tiga pribadi.
Saat Yesus dibaptis di sungai Yordan, Ia menunjukan kepribadian-Nya pada saat yang sama dan bermunculan bersama-sama dengan Roh Kudus turun ke atas Anak, dan Bapa berfirman dengan lantang penuh kasih. Saat penciptaan, dimana Bapa mencipta, Anak berfirman, dan Roh Kudus yang memulihkan (melayang-layang) sempurna. Saat Pencurahan Pentakosta, dimana Bapa mengutus, Anak yang memberikan Roh Kudus, dan Roh Kudus tercurah pada murid-murid Yesus yang ada di atas loteng. Saat Yesus berada di atas gunung, setelah Ia meneladani manusia dengan berdoa, Ia menunjukkan kemuliaan-Nya dan menampakkan kepribadian-Nya dengan wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang, kemudian Roh Kudus turun, dan awan yang terang menaungi 3 orang murid Yesus. Bapa dari dalam awan itu memperdengarkan suara-Nya dan berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
Allah Tritunggal adalah Allah yang tidak terbatas, yang melampaui segala sesuatu. Ia adalah Allah yang tidak ada bandingnya. Memang di seluruh Alkitab baik dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, istilah Allah Tritunggal tidak terdapat di sana. Namun ajaran Tritunggal terdapat di Alkitab mulai kejadian samapai Wahyu. Jadi, meskipun istilahnya tidak ada bukan berarti konsepnya tidak ada. Sebaliknya meskipun istilah ada tapi kalau salah ditafsirkan menjadi bukan kebenaran Alkitab (Firman Tuhan). Di Perjanjian baru Para Rasul sangat menghayati pengertian akan Wahyu yang diberikan kepada mereka tentang Tritunggal ini, sekalipun mereka mengalami dan menghayatinya secara tidak sadar dan tidak menguraikannya secara istilah. Hal ini nampak dalam tulisan-tulisan mereka seperti dalam I Pet 1:2, dan yang paling jelas adalah di dalam DOA berkat yang Rasul Paulus berikan kepada jemaat-jemaat, yang sekarang dijadikan standar oleh pendeta di seluruh dunia, yaitu di dalam II Kor 13:13.
Allah Tritunggal adalah Allah yang saling huni, artinya Allah yang memiliki Kepribadian Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah sederajat, setingkat, setaraf, sehati, setujuan, tidak terpisahkan, dan berjalan bersama-sama. Kepribadian Allah dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus (ke-tritunggal-an Allah) tidaklah pernah sama dengan manusia yang memiliki dua kepribadian, dimana tiap kepribadian tidak bisa berjalan bersama-sama dalam saat yang sama, sedangkan Allah kita berbeda.

Allah Bapa (Oknum Pertama)

Konsep Kristen menyebut Allah sebagai Bapa mungkin tidak menjadi suatu soal yang terlalu sulit diterima oleh agama lain (walaupun mereka tetap menentangnya, kok Tuhan ada Bapa-Nya?), dibanding dengan konsep menyebut Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan juga sebagai Tuhan-Juru Selamat manusia. Karena itu saya tidak akan terlalu berpanjang lebar menulis tentang Pribadi atau Oknum Pertama dari Allah Tritunggal ini yang ada di Alkitab orang Kristen. Saya akan menguraikan cukup panjang lebar pada bagian pembahasan tentang Pribadi atau Oknum Kedua dari Allah Tritunggal, Yesus Kristus.
Di catatan Perjanjian Lama ada lebih dari 40 kali Allah menampakkan diri kepada para nabi dan penulis kitab-kitab Perjanjian Lama. Silakan baca kisah di Kejadian 2:15-3:21). Kemudian Abraham berjumpa dengan Tuhan (kej 12:6-7 dan Kej 18). Tuhan menampakkan diri kepada Ishak (kej 26:1-6), Yakub bergumul dengan Allah di sungai Yabok (Kej 32:22-32), Musa bercakap-cakap dengan Allah di gunung Horeb (Kel 3:1-4:17), Yosua bertemu Tuahn (Yos 5:13-15) dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain. Di perjanjian Lama tercatat bahwa Allah menampakkan diri kepada manusia lebih dari 40 kali. Namun di sisi lain Alkitab juga mengatakan tidak seorangpun yang pernah melihat Allah karena Allah memang tidak bisa dilihat (Yoh 1:18a). Apakah itu berarti yang dilihat oleh orang-orang di Perjanjian Lama adalah bohong dan khayalan seperti yang banyak ditafsirkan oleh para psikolog modern dan para penentang Alkitab, termasuk para ateis? Jawabannya adalah pada waktu di dalam Perjanjian Lama dikatakan Allah menampakkan diri sebenarnya itu adalah cara Tuhan menampakkan diri kepada manusia dengan cara yang disebut dengan cara antropomorfi (Yunani: anthopos=manusia, morphe=bentuk). Maksudnya Allah menyatakan diri kepada mata manusia dalam rupa atau bentuk manusia atau dalam hal yang bisa dilihat oleh manusia. Istilah yang dipakai di ayat-ayat Perjanjian Lama itu biasanya memakai kata Utusan/Malaikat Allah. Lalu siapa sebenarnya yang dilihat oleh orang-orang di perjanjian lama itu jika kita adukan dengan Yoh 1:18a? Sebenarnya yang menampakkan diri kepada mereka itu bukan pribadi Allah Bapa, tetapi Utusan Tuhan (The Messenger of God). Bapa memang tidak pernah turun ke bumi, bahkan kemungkinan Pribadi Kedua (Yesus Kristus) lah yang sebenarnya yang pernah menampakkan diri secara sementara di peristiwa-peristiwa di Perjanjian Lama itu; inilah yang dimaksud dengan antropomorfi. Antropomorfi tidak sama dengan Inkarnasi. Di dalam inkarnasi-Nya Yesus betul-betul bersalut dengan daging dan darah, betul-betul dilahirkan melalui anak dara Maria dan hidup di tengah-tengah manusia, sehingga Ia disebut Immanuel yang berarti Allah beserta kita (Mat 1:23). Jadi, orang-orang di Perjanjain Lama sebenarnya sudah melihat Kristus dan ini artinya tidak bertentangan dengan kalimat yang mengatakan bahwa tak seorangpun pernah melihat Allah (Yoh 1:18a), karena memang Allah tidak bisa dilihat. Ia berada di tempat dan di tahkta-Nya yang tak bisa dinampak oleh mata jasmani manusia, tetapi Anak Tunggal yang ada di pangkuan Bapa lah yang menyatakan-Nya. Maksudnya adalah Allah Bapa (Pribadi Pertama) tidak pernah menyatakan diri dalam bentuk fisik sehingga tidak pernah dilihat oleh mata fisik manusia. Tetapi Allah Anak pernah turun ke dalam dunia menyatakan siapa Allah (Bapa) itu kepada umat manusia. Puji Tuhan! Kita bersyukur dan memuji HALELUYA kepada Tuhan sebab Dia pernah turun ke dalam dunia untuk menebus dosa kita sehingga kita bisa kembali mengenal siapa Allah (Bapa) yang sejati di dalam Yesus Kristus itu.

Kesimpulan:
Allah Bapa adalah Pribadi Pertama di dalam Allah Tritunggal. Ia dikenal sebagai Bapa Pencipta. Allah Bapa tidak pernah berinkarnasi (jelma menjadi manusia). Dia memiliki akal budi, perasaan dan kehendak (syarat sesuatu disebut Pribadi atau oknum). Bapa tidak pernah menjadi Anak dan Roh Kudus. Allah Bapa (Kepribadian Bapa) tidak pernah lebih tinggi atau lebih rendah daripada Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah Bapa setara dengan Allah Anak (Yesus Kristus) dan Allah Roh Kudus karena Ketiga Pribadi itu adalah Allah yang Esa itu sendiri (1 Taw 29:11) Allah Bapa adalah Allah yang menjadi sumber segala sesuatu. Ia adalah Allah yang transenden dan tidak terbatas. Jadi, Allah Bapa adalah sebagai Bapa yang memelihara, yang memberikan kasih seorang Bapa Sejati yang sangat mesra, begitu penyayang dan begitu tertib penuh ketegasan (disiplin). Bapa Sorgawi tidak pernah sama dengan para bapa dunia ini dalam hal kasih dan karakter yang tidak dapat terbandingi dengan kasih dan karakter Bapa Sorgawi. Allah sebagai Bapa Sorgawi merupakan Bapa yang sempurna dari segala bapa (bapak-bapak atau para ayah) dunia ini yang adalah gambaran dan rupa (duplikat dan bayangan) dari Sang Bapa Sorgawi yang murni. Amin!

Allah Anak (Oknum Kedua)

Konsep Kristus sebagai Anak Allah sulit diterima oleh agama lain, termasuk yang muncul setelah Kekristenan. Karena mereka menganggap Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Mereka menganggap keempat injil yang mencatat Kristus adalah Anak Allah sebagai penyelewengan dan mereka mengutip ayat-ayat di Alquran untuk mendukung fitnahan/tafsiran mereka itu. Sebelum lebih jauh lagi ijinkan saya bersaksi sedikit di sini untuk mempertegas lagi blog kesaksian saya sebelumnya di luar topik ini. Saya ikut “agama” Kristen sejak kelas 1 SMP. Sebelumnya latar belakang kami adalah agama suku. Konsep Tuhan punya anak pun begitu sulit pada awalnya saya terima. Bahkan ada keluarga dan kerabat saya yang mengatakan bahwa Maria itu pasti hamil di luar nikah. Kalau Yesus Anak Tuhan kok bisa? Masa Tuhan bersetubuh dengan manusia? Itulah pandangan sempit, naïf dan klasik yang dituduhkan keluarga dan beberapa kerabat saya tentang Yesus. Namun pada waktu saya di SMP itu, saya termasuk yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan gereja. Ada teman saya yang sering membawa saya ikut kebaktian-kebaktian, tapi ironisnya saya dengar beritanya pada tahun 2008 ini, teman saya yang dulunya sering membimbing saya mengenal Tuhan, kini malah sebaliknya tidak sungguh beriman lagi kepada Kristus. Saya kaget dan menangis mendengar hal itu. Itu mengingatkan saya akan peristiwa pada waktu saya SMP yang rajin ke gereja itu. Tetapi ketika saya mulai duduk di bangku SMA, dimana saya tinggal di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam, sehingga sedikit banyak saya tahu pandangan-pandangan mereka. Berita buruknya adalah saya hampir terpengaruh dan mengikuti mereka dan iman saya goncang luar biasa. Kemudian pada waktu saya di SMA itu saya sendiri juga menjadi orang yang berbalik melawan Alkitab sehingga saya tidak melawan teman-teman saya yang beragama lain yang sering bertanya kepada saya tentang Pokok-Pokok Kekristenan. Saya hanya menjelaskan seadanya. Saya sering baca buku-buku mereka, termasuk dialog-dialog teologis. Saya selalu mencoba untuk menemukan buku-buku perbandingan agama. Dan keyakinan saya pada waktu itu akan Alkitab makin luntur sehingga saya berkeyakinan semakin kuat bahwa Alkitab tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit yang ada di dunia ini, termasuk serangan Alquran. Dan ketika saya sampai duduk di bangku kuliah di kota ini pun sampai beberapa semester, saya berkata di dalam diri saya yang paling dalam bahwa saya mungkin tidak bisa jadi Kristen karena saya masih belum menemukan kebenaran-kebenaran yang kuat di dalam Alkitab. Saya malah sering mendebat teman-teman saya yang Kristen dan juga beberapa hamba Tuhan.
Namun sekarang saya bersyukur kepada Allah Tritunggal, Allah yang begitu Agung dan satu-satunya yang benar di bawah kolong langit ini yang saya yakini, sebagaimana tulisan saya di blog KESAKSIAN saya, bahwa sejak kurang lebih dua tahun yang lalu, oleh kuasa gerakan yang ajaib dari Roh Kudus saya sudah dibawa kembali untuk mengenal Sang Bapa dan masuk ke dalam kerajaan Allah dengan mengakui Anak-Nya (Yesus Kristus) sebagai Tuhan - Juru selamat saya pribadi (Yoh 4:16). Buku-buku ajaran Kristen yang berbasis reformed injili dan Hamba Tuhan yang seperti Pdt. Dr. Stephen Tong, dan Pdt. Budi Asali, M.Div dan Ir. Herlianto, M. Div juga memiliki andil dalam pertobatan saya untuk kembali kepada Kristus melalui buku-buku, artikel-artikel dan khotbah mereka. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan karena mengijinkan saya berkenalan dengan teologi reformed dan bertemu dengan hamba-hamba-Nya itu meskipun saya secara pribadi tidak mengenal mereka secara dekat, dan mereka pun juga tidak. Tapi saya bersyukur sekali kepada Tuhan ada hamba-Nya yang luar biasa itu, khususnya pak Stephen Tong. Memang itu merupakan pergumulan yang luar biasa dan tidak mudah bagi saya untuk memutuskan menyerahkan hidup saya kepada Tuhan Yesus Kristus. Saya bisa percaya kepada-Nya bukan karena semata-mata pekerjaan para hamba Tuhan itu, tapi saya yakin sekali karena Allah yang sudah memberikan anugerah-Nya kepada saya untuk menjadi umat-Nya. Saya juga percaya kepada Tuhan Yesus Kristus bukan karena ingin kaya berlimpah harta atau berkat-berkat jasmani (karena memang hal itu dicari setiap bangsa di duni ini), tapi saya percaya kepada-Nya sekali lagi karena Roh Kudus yang memampukan dan menyadarkan saya untuk melihat KEBENARAN-KEBENARAN yang ada pada Yesus Kristus di dalam Alkitab orang Kristen yang ternyata baru saya sadari begitu kuat dan luar biasa. Dan sekarang saya berusaha untuk terus mengikut jejak kaki-Nya meskipun saya tidak secara khusus dipanggil untuk menjadi pendeta atau hamba Tuhan yang full time melayani jemaat di gereja. Tapi paling tidak saya bisa bersaksi kepada lingkungan di sekitar saya, tempat saya kuliah dan kepada orang-orang yang saya kasihi yang sampai saat ini belum percaya kepada Tuhan (bahkan salah seorang saudara saya telah beriman kepada iman yang lain, karena alsan tertentu. Saya sedih sekali, tapi saya serahkan saja kepada Tuhan dan saya berkeyakinan bahwa barang siapa yang dipilih-Nya pasti juga akan disempurnakan-Nya. Umat-Nya tidak akan pernah kehilangan keselamatan-Nya karena saya percaya akan doktrin predestinasi Tuhan Allah).
Baiklah, sekarang kembali ke masalah tafsiran para penentang Alkitab tadi yang mengatakan bahwa Alkitab orang Kristen sudah diselewengkan, diubah dan sebagainya. konsep Kristen. Allah memang tidak menikah dengan seorang perempuan sehingga melahirkan Yesus Kristus. Istilah atau konsep Allah memperanakkan Kristus sebenarnya sudah muncul sejak di Perjanjian Lama. Silakan baca di Kis 20:30; 2 Pet 2:1; dan Mat 24:24-25 ) saya tidak sempat lagi sertakan kalimat-kalmatnya karena tulisan ini sudah cukup panjang. Apakah masih ada yang bertahan untuk membacanya? Baiklah sekarang kita masuk pembahasan tentang apa artinya Oknum kedua Allah Tritunggal, Yesus Kristus dilahirkan Hari ini di Maz 2:7. Apa artinya “Engkau telah Kuperanakkan (Kulahirkan) pada hari ini” di dalam Maz 2:7? Ada juga ayat yang menunjukkan konsep tentang Anak Allah di Amsal 30:4. Allah adalah Allah yang kekal, melampaui batasan waktu; Dia tidak perlu waktu, tapi bukan tidak memiliki waktu, sebaliknya Dialah pencipta waktu sehingga waktu tidak mengikat-Nya. Oleh karena itu hari ini di dalam Maz 2:7 itu berarti hari ini di dalam kekekalan, Yesus dilahirkan oleh Bapa; ini adalah kelahiran kekekalan yang selalu bersifat sekarang, yang melampaui proses waktu. Sedangkan istilah dilahirkan menunjukkan Dia bukan diciptakan. Sebutan Anak Allah Yang Tunggal bagi Yesus mengindikasikan bahwa Dia satu-satunya yang dilahirkan, BUKAN dicipta. Yesus adalah satu-satunya Pribadi yang pernah hadir di dalam sejarah umat manusia tanpa melalui ciptaan. Adam ada karena dicipta oleh Allah meskipun ia tak berbapa dan beribu, tetapi Yesus ada karena Ia ada. Secara Ilahi Yesus Kristus mempunyai Bapa, tetapi tak mempunyai ibu, sedangkan secara jasmani Ia tak mempunyai bapa, tetapi mempunyai ibu (Maria). Jadi Dia seperti Melkisedek. Baik Gnostiksisme, Arianisme, Saksi Yehowa maupun Witness Lee (penerus Watchman Nee di Tiongkok, ajaran Watchman Nee dan Witness Lee ada di kota saya, dan saya mempunyai beberapa teman yang ikut gereja mereka) mereka percaya bahwa Yesus adalah ciptaan Allah. Khususnya saksi Yehowa yang mengatakan bahwa Yesus bukan Allah Yang Mahatinggi; Dia bukan Allah Yang Kekal; Dia adalah Allah di bawah Allah, sehingga Dia tidak Mahakuasa. Menurut mereka meskipun Yesus menciptakan segala sesuatu, tapi Dia bukan Allah Yang Mahakuasa. Dan Para Saksi Yehova berani sekali dengan mengubah dan menterjemahkan sebutan Allah disertai kata sandang tak tentu di dalam Yoh 1:1 menjadi seorang allah, Firman itu adalah seorang allah. (Ini adalah suatu jawaban kepada para Saksi Yehowa dan mereka-mereka yang ada di SABDAspace ini yang mengatakan Yesus dicipta oleh Allah). Yesus memang bukan ciptaan karena Dia sendiri adalah Allah itu sendiri, bagaimana Allah menciptakan Allah. Karena kalau begitu lebih dari satu Allah dong, sedangkan orang Kristen mengakui Allah itu Esa. Jadi tolong rendah hati lah dan belajar lagi bagi mereka yang mengatakan Yesus dicipta. Itu bidat, sekte atau ajaran yang sesat. Istilah Anak Tunggal Bapa itu juga membedakan Yesus Kristus dari Roh Kudus, meskipun Roh Kudus juga bukan dicipta karena. Dia adalah Allah sendiri. Roh Kudus tidak dilahirkan, tetapi keluar dari Bapa (proceed) dan Anak. Sekali lagi Maz 2:7 mengutarakan kelahiran kekal dari Yesus Kristus, tetapi dalam proses sejarah hal itu dibuktikan pada waktu Dia bangkit. Meskipun ditinjau dari sudut kemanusiaan-Nya dikatakan Allah Bapa yang membangkitakan Dia (kis 2:32, 3:15, 13:33-35, 17:31), tapi ditinjau dari sudut keilahian-Nya Dia adalah Allah Yang Hidup (The self-defendant-God atau The self-existent-God)). Yesus berkata, “Akulah Kebangkitan dan Hidup” (Yoh 11:25 bdk Yoh 5:19-29). Jadi, sekali lagi Yesus adalah Allah yang mempunyai sumber hidup dari diri-Nya sendiri. Yesus Kristus juga adalah manusia. Ini disaksikan-Nya sendiri (Mat 8:20; 16:13) dan juga oleh orang-orang (mrk 6:3; Yoh 7:27; 19:5). Namun demikian Yesus Kristus adalah Allah juga, sehingga Ia setara dengan Alla (Bapa). Di dalam Maz 97:7; Ibrani 1:6; 1 Raw 29:11; dan Why 5:12 Yesus berlayak untuk disembah. Ia juga layak dipercaya atau diimani (Maz 2:12; 1 Pet 2:6; Yer 17:5,7; Yoh 14:1), menerima segala hormat (Yoh 5:23), berkuasa membangkitkan yang mati (Yoh 5:21; 6:40, 54). Kemudian Bidat Saksi Yehowa menafsirkan dengan keliru lagi Filipi 2:5-7. Mereka mengatakan kalau Yesus sendiri tidak menakui diri-Nya setara dengan Allah. Padahal maksud ayat –ayat itu adalah Yesus memang setara dengan Allah tetapi Ia tidak mempertahankan itu dan dengan rela Dia datang ke dunia bersalut darah dan daging sehingga Ia dijadikan setara dengan dengan kita. Waw, betapa agungnya kasih-Nya itu pada kita. Siapa sich kita kok sampai sebegitunya Allah terhadap kita? Karena kita diciptakan segambar dengan-Nya dan menjadi ojek kasih-Nya, manusia menjadi mahkluk ciptaan-Nya yang penting. Kita dicipta oleh-Nya dan untuk-Nya pula.
Jadi, konsep Anak Allah (Yesus Kristus) sudah dinubuatkan dalam banyak ayat di Perjanjian Lama. Namun saat ini ingin membahas salah satu ayat nubuatan tentang Yesus Kristus di dalam Mikha 5:1. Dimana di sana disebutkan bahwa Ia yang akan bangkit dari Betlehem Efrata (Kota kelahiran Yesus) mempunyai permulaan sudah sejak purbakala (Ibrani: Arche), dari kekekalan. Jadi, ini berarti Yesus Kristus yang dilahirkan sebagai manusia mempunyai sifat ilahi, sebab Dia sudah ada sejak dalam kekekalan. Di dalam Yesaya 9:6 Yesus mendapatkan 5 predikat yang menunjukkan bahwa Dia bukan manusia biasa; tetapi Dia mempunyai sifat Ilahi.
1. Yesus disebut Ajaib (bdk Hakim-Hakim 13: 18). Di dalam bahasa Inggris “Wonderful” sedangkan dalam Ibrani akar kata untuk sebutan ini adalah “Pala”.
2. Yesus disebut Penasehat, menunjukkan bahwa Dia adalah Pribadi yang maha bijak, yang menjadi Sumber Bijaksana (bdk Yesaya 28:29). Di dalam bahasa Inggris untuk sebutan ini memakai “Counsellor”.
3. Yesus disebut Allah Yang Perkasa, menunjukkan bahwa Dia adalah Pribadi yang berkuasa. Di dalam bahasa Inggris untuk sebutan ini memakai “The Mighty God”. Ayat ini dikutip oleh Bidat Saksi Yehowah dan menafsirkannya dengan sembarangan untuk menyangkal bahwa Yesus adalah Allah. Mereka berkata bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa Yesus adalah Allah Yang Maha Kuasa (The Almighty God). Memang benar di ayat ini sebutan untuk Yesus adalah “The Mighty God” (Allah Yang Perkasa/Allah Yang Kuasa). Namun, ini karena di dalam ayat ini dikatakan bahwa Yesus menjadi bayi, hingga terbatas. Maksudnya ayat ini melukiskan inkarnasi-Nya dimana tadinya Dia adalah Allah yang tidak terbatas membatasi kuasa-Nya dan menjelma menjadi manusia (The Incarnated God), bahkan menjadi seorang bayi. Melalui Inkarnasi Kristus masuk ke dalam keterbatasan, sehingga manusia pada umumnya tidak melihat Kemahakuasaan-Nya secara nyata; hanya kadang-kadang saja Kemahakuasaan-Nya nampak di dalam tindakan-tindakan-Nya seperti meyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan sebagainya. Tetapi di dalam Kekekalan-Nya Yesus tidak terbatas (Cob abaca Yoh 6:62). Kita harus mengerti Kristus di dalam periode inkarnasi-Nya dan juga di dalam Kekekalan-Nya. Di dalam Periode inkarnasi-Nya memang Yesus terbatas (membatasi diri-Nya), bukan saja di dalam kemahakuasan-Nya, tetapi juga di dalam kesempurnaan-Nya, perkataan-Nya, bahasa-Nya, kemauan-nya dan pengetahuan-Nya, sehingga Ia pernah berkata kepada seorang pemuda yang memanggil-Nya dengan sebutan Guru yang baik, Ia menjawab, “Mengapa engkau katakan Aku baik, hanya allah yang baik. Yesus juga pernah mengatakan bahwa Bapa lebih dari pada diri-Nya, tentang hari kiamat malaikat tidak tahu, Anak pun tidak tahu, hanya Bapa yang tahu. Apakah Yesus benar-benar tidak maha besar dan tidak maha tahu? Sekali lagi di sini Yesus membatasi diri-Nya di dalam periode inkarnasi-Nya. Inilah paradoks yang sering disalahmengerti dan dianggap kontradiksi oleh orang-orang yang tidak sungguh-sungguh rendah hati belajar tentang kebenaran. Mengaku ahli, kaum terpelajar, cendekiawan, teolog tetapi tidak tuntas mengerti kebenaran seperti ini. Saya katakana Alkitab adalah sumber segala kebenaran. Barang siapa yang rendah hati takluk di bawah pengertian Alkitab, di bawah pimpinan Roh Kudus maka niscaya mereka akan terhindar dari konflik-konflik yang tak berkesudahan. Alkitab cukup untuk menjawab segala macam kesulitan di seluruh alam semesta ini, jika kita sungguh-sungguh belajar dan meneylidikinya dengan rendah hati. The Bible completes over all.
4. Yesus disebut Bapa (yang) kekal. Ini adalah satu-satunya ayat di dalam Alkitab dimana Yesus disebut sebagai Bapa. Tetapi ini bukan berarti bahwa Ia adalah Pribadi Pertama (Allah Bapa) karena seluruh Alkitab mengajarkan Yesus Kristus diutus oleh Bapa, jadi Yesus tidak sama dengan Bapa. Di sini Yesus di sebut sebagai Bapa atau Bapa Kekekalan untuk menunjukkan menunjukkan bahwa Dia adalah Sumber dari segala sesuatu. Di dalam bahasa Inggris untuk sebutan ini memakai “The Everlasting Father”.
5. Yesus disebut Putera Raja damai. Ini menunjukkan bahwa Dia adalah Sumber Damai yang sejati, yang memberikan damai yang sesungguhnya kepada dunia. Tanpa Yesus tidak ada perdamaian sejati di dunia ini. Di dalam bahasa Inggris untuk sebutan ini memakai “The Prince of Peace”.
Yesaya 9:6 yang saya jabarkan di atas menunjukkan sifat-sifat ilahi Yesus Kristus, Dia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi dan Kudus (Luk 1:32-35). Dia adalah Tuhan dan Juru Selamat. Jadi, kenapa kita mengakui dan percaya bahwa Yesus Kristus itu Tuhan? Karena Alkitab menyaksikan bahwa Dia memang bersifat ilahi seperti yang terdapat dalam Yes 9:6 di atas. Selain itu yang lebih menggembirakan lagi adalah pengakuan yang keluar dari Yesus kristus sendiri (Yoh 8:56-59 bdk Mat 22:23-32). Yesus bereksistenasi melampaui proses waktu. Dia adalah Allah yang transenden, yang tidak digeser oleh waktu. Dia ada sebelum segala sesuatu ada, di ayat itu Yesus mengatakan bahwa Dia ada bahkan sebelum Abraham ada (Before Abraham was, Jesus is). Di Yoh 8:56-59 itu merupakan suatu diskusi Kristologis yang sangat penting antara Kristus yang berinkarnasi, dengan mereka yang menganggap diri mengenal Alkitab. Dan di Lukas 20:41-44 dan Filipi 2:9-11 Yesus kristus memberikan suatu rangsangan, inspirasi untuk mencerahkan orang-orang dengan iluminasi yang sangat besar, yaitu “Tahukah, bahwa Aku adalah Allah?” Inilah yang saya sebut sebagai Wahyu Progresif, dimana Allah menyatakan diri yang makin lama makin jelas dan memberikan suatu petunuk kepada realita yang akan datang. Seharusnya kita juga demikian bisa memandang Yesus dengan iman dan pengertian terhadap-Nya yang melampaui / menerobos batas sifat kemanusiaan-Nya yang bertubuh fisik. Orang liberal mengenal Yesus Kristus hanya dari Betlehem saebagai titik awal sampai ke Golgota sebagai titik akhir. Sehingga mereka hanya melihat Yesus sebagai moralis yang agung, seorang pemimpin agama yang besar, pahlawan yang berkorban yang dapat dijadikan teladan segala jaman. Pengertian seperti ini tidak cukup. Kita harus memiliki pandangan yang melampaui itu semua sampai ke dalam kekekalan, karena Ia adalah Allah itu sendiri.
Injil Yohanes memiliki prinsip Kristologi yang paling penting dan tajam di dalam seluruh Alkitab. Ayat yang sudah sangat terkenal namun singkat berkut ini, yaitu Yoh 1:1-3, mengandung arti yang demikian dalam dan mulia. Pada waktu Firman itu keluar, berarti ada yang menjadi Sumber dan ada Yang keluar dari Sumber itu. Firman keluar dari Allah; sebelum keluar Firman itu bersama-sama dengan Allah di dalam kekekalan, dan Firman itu juga adalah Allah. Firman itu adalah kristus, sebab itu Kristus bersifat ilahi. Kristus bersama-sama dengan Allah. Lo, apa itu berarti ada dua Allah? Bukan! Di sini yang Allah adalah esensi/hakekat (sifat dasar) Nya, tetapi di sini memang kita melihat ada dua Pribadi, tetapi bukan dua Allah. Pengertian di Yoh 1:1 melampau batas tempat. Allah (Bapa) menyatakan diri-Nya melalui Firman (Yesus Kristus) yang dikeluarkan-Nya, dan Firman yang keluar menjadi buah Wahyu-Nya (Roh Kudus) sehingga yang mendengar Firman menerima Wahyu (Penyataan Allah). Firman itu dikeluarkan dengan perantaraan Roh Kudus, seperti kita berkata-kata melalui nafas. Roh Kudus adalah Pewahyu Firman Allah dalam bentuk kata-kata sebagaimana Alkitab mengatakannya.

Kesimpulan:
Allah Anak (Yesus Kristus) adalah Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal. Yesus Kristus adalah Allah dan juga manusia. Dia memiliki akal budi, perasaan dan kehendak (syarat sesuatu disebut Pribadi atau oknum). Anak tidak pernah menjadi Bapa dan Roh Kudus. Anak (Kepribadian Yesus Kristus) tidak pernah lebih tinggi atau lebih rendah daripada Allah Bapa dan Allah Roh Kudus, kecuali dalam periode inkarnasi-Nya dimana sebagai Anak Dia membatas diri-Nya. Yesus Kristus setara dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus karena Ketiga Pribadi itu adalah Allah yang Esa itu sendiri (Maz 97:7; Why 5:12). Jadi, Allah Anak adalah Allah sebagai teladan dengan Ia merendahkan diri-Nya dalam rupa manusia dan mengenakan nama Yesus yang adalah Kristus (Allah yang berinkarnasi atau Allah yang datang sebagai manusia), taat pada semua hukum yang telah Ia tetapkan, mati di kayu salib, dikuburkan, lalu bangkit pada hari yang ketiga, dan naik ke sorga dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Ia adalah teladan iman sejati dan sumber kehidupan bagi orang Kristen. Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang terbesar dengan menjadikan Anak-Nya mati di kayu salib. Ini adalah berita Injil yang adalah kekuatan Allah. Alkitab menyatakan bahwa (Yesus Kristus) merupakan Anak sulung Allah dari semua anak-anak Allah maksudnya adalah bahwa Anak pun merupakan “Sahabat Sejati” yang rela mengorbankan Nyawa-Nya dan tidak menyayangkannya sama sekali untuk manusia dapat diterima sebagai anak-anak Allah.

Allah Roh Kudus (Oknum Ketiga)

Ada banyak pengertian yang salah mengenai identitas Roh Kudus. Ada beberapa yang menganggap Roh Kudus sebagai suatu kuasa mistis. Yang lainnya memandang Roh Kudus sebagai semacam kuasa yang Allah berikan kepada para pengikut Kristus. Apa yang Alkitab katakan mengenai identitas Roh Kudus? Secara sederhana – Alkitab mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Allah. Fakta bahwa Roh Kudus adalah Allah dapat dilihat dengan jelas dalam banyak ayat-ayat Alkitab, termasuk Kisah Rasul 5:3-4. Dalam ayat ini Petrus mengkonfrontir Ananias yang berbohong kepada Roh Kudus dan memberitahu dia bahwa Ananias bukan “mendustai manusia tetapi mendustai Allah.” Ini adalah merupakan sebuah pernyataan yang jelas bahwa berbohong kepada Roh Kudus adalah berbohong kepada Allah. Kita juga mengetahui bahwa Roh Kudus adalah Allah karena Dia memiliki atribut-atribut atau karakteristik-karakteristik Allah. Contoh bahwa Roh Kudus mahahadir dapat dilihat dalam Mazmur 139:7-8: “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau.” Kemudian di dalam 1 Korintus 2:10 kita menemukan kemahatahuan dari Roh Kudus. “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.” Kita mengetahui bahwa Roh Kudus adalah suatu Pribadi karena Dia memiliki akal budi, perasaan dan kehendak. Roh Kudus berpikir dan mengetahui (1 Korintus 2:10). Roh Kudus dapat berduka (Efesus 4:30). Roh Kudus berdoa syafaat bagi kita (Roma 8:26-27). Roh Kudus membuat keputusan sesuai dengan kehendakNya (1 Korintus 12:7-11). Roh Kudus adalah Allah, “Pribadi” ketiga dari Tritunggal.

Kesimpulan:
Allah Roh Kudus adalah Pribadi Ketiga di dalam Allah Tritunggal. Ia memiliki akal budi, perasaan dan kehendak (syarat sesuatu disebut Pribadi atau oknum). Roh Kudus tidak pernah menjadi Bapa dan Anak. Allah Roh Kudus (Kepribadian Roh Kudus) tidak pernah lebih tinggi atau lebih rendah daripada Allah Bapa dan Allah Anak. Allah Roh Kudus setara dengan Allah Bapa dan Allah Anak karena Ketiga Pribadi itu adalah Allah yang Esa itu sendiri (Kel 17:7; Kis 5:3-4; Yes 6:3,8-10). Jadi, sebagai Allah, Roh Kudus dapat betul-betul berfungsi sebagaimana yang tertulis di dalam injil Yohanes 14:16, 26; 15:26. Dia adalah Allah sebagai Pembimbing, Pendamping, Penolong, Penyerta, dan Penghibur yang tidak terlihat, namun berada dalam hati setiap manusia yang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan hidup di dalam-Nya. Roh Kudus bukanlah tenaga aktif. Roh Kudus bukanlah kebijaksanaan (pikiran) tertinggi dari seluruh alam jagad kosmik. Roh Kudus bukanlah manusia tokoh pendiri suatu agama baru. Roh Kudus tidak pernah berbau hal yang mistik. Memang benar bahwa Allah itu maha kuasa, tetapi Roh Kudus itu bukan sekedar kuasa atau kekuatan, tetapi Roh Kudus adalah Allah sendiri, sebab Allah itu Roh adanya. Dengan demikian Roh Kudus adalah Pribadi Allah itu sendiri dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Allah.

*Kesimpulan dan Penutup*

Doktrin Allah Tritunggal merupakan Doktrin yang sangat penting di dalam Kekristenan. Doktrin ini menjadi doktrin yang mutlak dibutuhkan di dalam beriman (an absolute necessity doctrine in our faith). Doktrin Allah Tritunggal bukan doktrin yang mudah untuk dipahami. Tetapi yang sulit tidak berarti kontradiktif. Kalau sulit tidak berarti bahwa doktrin ini tidak boleh dipelajari atau diajarkan. Kita harus menjadi orang yang rasionil bukan rasionalis. Sehingga hendaknya kita menaklukan seluruh rasio kita di bawah kuasa kebenaran dan kedaulatan-Nya yang Mahatinggi.
Doktrin Tritunggal jika disalahmengerti akan menimbulkan 2 pandangan ekstrim:
1. Percaya akan tiga allah (triteisme)
2. Percaya akan satu allah yang memakai 3 topeng (sabelianisme)
Kedua ajaran tersebut bukan ajaran Kristen. Karena tidak sesuai dengan Tritungga Alkitab. Sampai saat ini baik Yudaisme (agama Yahudi sekarang), Islam, Unitarian, Saksi Yehova tidak bisa menerima Doktrin Tritunggal Alkitab ini. Jadi, apakah tritunggal itu? Allah Tritunggal adalah Allah yang unik. Konsep Tritunggal hanya ada di dalam Perjanjian Lama dan perjanjian Baru. Di luar Alkitab tidak ada kemungkinan manusia mempunyai pengertian mengenai Tritunggal. Doktrin Allah Tritunggal merupakan doktrin Kristen yang monoteistik (Tapi bukan Monoteisme ekstrim) bukan doktrin yang bersifat teistik (Triteisme) atau politeistik (Politeisme). Allah Tritunggal adalah Allah Yang Esa yang mempunyai Tiga Pribadi (Oknum): (1) Allah Bapa, (2) Allah Anak (Yesus Kristus), dan (3) Allah Roh Kudus. Tiga Pribadi itu bukan tiga Allah, dan satu Allah tidak berarti satu Pribadi. Ketiga Pribadi ini mempunyai sifat dasar atau esensi (Ousia dalam bahasa Yunani) yang sama, yaitu Allah. Barang siapa yang tidak percaya Allah itu adalah Allah Tritunggal, maka ia tidak berhak percaya dan mengakui Allah itu kasih adanya, sebab jika Allah itu monoteistik ekstrim tetapi bukan Tritunggal yang berpribadi 3, siapakah yang menjadi objek kasih-Nya sebelum segala sesuatu diciptkan, pada waktu Allah di dalam kekekalan-Nya? Allah harus Tritunggal karena dikatakan di Alkitab bahwa di antara Ketiga Pribadi itu saling mengasihi, sehingga di dalam kekekalan sebelum segala sesuatu (ruang dan waktu) diciptakan-Nya, Allah tidak menjadi Allah yang sepi, tetapi saling mengasihi di antara Pribadi-Pribadi Tritumgggal itu. Karena itu di dalam agama apapun di luar kekristenan tidak ada ungkapan Allah itu Kasih (God is Love), sebab mereka tidak mampu menggabungkan Allah yang tunggal dengan Allah yang kasih dan kekal. Jadi hanya di dalam Allah Tritunggal, Allah adalah Kasih. Karena itu ia menuntut kita untuk melakukan perintah-Nya di Ulangan 6:5.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Biarlah segala kemuliaan kita dikembalikan hanya kepada Allah Tritunggal (Soli DEO Gloria). Tuhan Memberkati, amin!

Thanx and GBU by Samuel Rudi Desfortin
Reference:
Book of God the Trinity by Rev. Dr. Stephen Tong
Small Book of Bible Concordance
Other Chrstian Literatures
This blog has been posted in www.sabdaspace.org

Posted in artikel, reformed | No Comments »

THE IMPORTANCE OF THEOLOGY

Posted by desfortin on December 1, 2008

Mengapa teologi itu penting?
Seberapa pentingkah teologi? Dapatkah manusia mengenal diri dengan benar jika tidak mengerti teologi? Dapatkah pemerintahan suatu bangsa mengatasi segala permasalahan di negara dan bangsa dengan tuntas dan benar tanpa mengerti teologi yang baik dan benar? Jawabannya TIDAK!
Teologi itu sangat penting. Melalui teologi kita akan mengenal siapa diri kita di hadapan sang pencipta. Melalui teologi ada pencerahan konsep yang benar tentang diri.
Jadi teologi itu mempunyai dampak yang sangat luas dan penting bagi kehidupan. Karena itu teologi harus dipelajari oleh setiap orang. Teologi
bukan hanya milik pendeta, penginjil, gereja atau golongan tertentu saja. Tapi teologi adalah milik kita semua, sehingga kita harus mempelajarinya.
Namun yang saya tekankan di sini adalah teologi yang benar dan asli. Apakah itu? Teologi yang asli dan sejati adalah teologi Alkitab yang diwahyukan oleh Tuhan. Kitab suci orang Kristen adalah sumber wahyu yang sejati. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan teologi? Secara singkat kata Teologi berasal dari kata bahasa Yunani THEOS yang berarti TUHAN, dan LOGOS yang berarti PENGETAHUAN atau ILMU. Jadi, teologi adalah ILMU TENTANG KETUHANAN. Dengan teologi berarti kita mempelajari tentang Tuhan. Namun perlu diingat bahwa belajar teologi sebenarnya bukan untuk membuktikan Tuhan itu ada atau tidak ada. Tapi sebagai bukti reaksi kita tentang adanya Tuhan Sang Pencipta kita. Karena Tuhan memang ada dan bereksistensi melampaui mahrifat manusia sehingga kita tidak akan pernah mengenal siapa Dia dengan tuntas 100 %. Masih banyak misteri tentang diri-Nya, karena Ia maha sempurna sedangkan kita adalah makhluk ciptaan-Nya yang terbatas dan tidak maha sempurna. Namun kita bisa belajar dan mengenal siapa Tuhan. Karena Tuhan sudah berkenan mewahyukan diri-Nya kepada kita. Wahyu yang diberikan-Nya itulah yang membuat kita mungkin mengenal dan menghampiri-Nya. Namun semua yang kita lakukan itu bukan untuk membuktikan ALLAH ADA ATAU TIDAK ADA.
Bagi orang percaya (orang Kristen) teologi adalah Firman Tuhan. Makna kata LOGOS dalam Alkitab berbeda konotasinya dengan kata logos secara umum dalam bahasa Yunani. Dalam Injil Yohanes pasal 1:1 (Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah). Kata Firman pada ayat itu, memakai kata LOGOS dalam bahasa Yunaninya. Dan kata itu pada ayat yang bersangkutan mengacu kepada oknum kedua dari Allah Tritunggal, yaitu Yesus Kristus. Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia yang pernah hidup di dalam sejarah umat manusia. Jadi, ketika kita belajar teologi Alkitab kita sedang mempelajari tentang siapa Tuhan di dalam Yesus Kristus. Firman yang menjadi daging (The Word became flesh).
Sekali lagi saya tegaskan teologi merupakan bagian terpenting dalam hidup manusia. Teologi adalah kunci untuk mengenal diri. Socrates seorang filsuf pernah berkata, “Kenalilah dirimu!”. Namun ia tidak pernah bisa memberi jawab dengan cara apa kita bisa mengenal diri. Hanya Alkitab yang memberi jawab dengan tuntas dan akurat serta reliabel tentang bagaimana cara mengenal diri, yaitu kenal Allah (teologi) maka kita bisa mengenal diri kita. Dari Tuhanlah sebagai sumber kita, kita mengenal siapa diri kita. Di hadapan-Nya kita telanjang dan tidak ada satupun yang tersembunyi. Tidak ada satu pribadipun dalam dunia ini yang mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya, tiada satu pribadipun yang mengenal kita lebih dari diri kita mengenal diri kita sendiri selain Allah Sang Pencipta kita.
Karena itulah saya rindu untuk terus belajar, belajar, dan belajar mengenai teologi. Namun bukan sembarang teologi yang saya pelajari dan yakini di sini. Tetapi teologi yang benar-benar teologi yang mengupas kebenaran dengan akurat dan mendalam. Dari sekian banyak cara orang berteologi, saya hanya mendapati satu-satunya konsep teologi yang paling benar, paling akurat, paling sahih dan berbobot yaitu TEOLOGI REFORMED. Teologi yang sangat agung dan kokoh, yang mempunyai prinsip menempatkan ALLAH di atas segala-galanya, dan menempatkan manusia di bawah Allah. Bukan sebaliknya. Saya sangat kagum dengan teologi ini. Bahkan saya berani mengatakan jika kita ingin menjadi orang Kristen yang sejati maka kita harus mengerti dan menyetujui teologi reformed.
Meskipun saya bukan jemaat gereja reformed (calvinis), namun saya sangat mengakui keunggulan teologi dan gerakan reformed injili dibanding dengan semua teologi yang lain, dan saya merasa haus mau terus mempelajarinya. Konsep reformed memang sangat mempengaruhi saya dalam mempelajari teologi tahun-tahun terakhir ini. Dan saya merasa perlu untuk mendukung gerakan reformed. Demikian juga tokoh-tokoh reformed yang saya kagumi dan dukung pelayanannya, khususnya di Indonesia adalah yang dipimpin oleh Hamba-hamba-Nya seperti Pdt. Dr. Stephen Tong, Pdt. Sucipto Subeno, M. Div, Pdt. Andi Halim, Pdt. Rudi Gunawan dan lain-lain termasuk Ir. Herlianto, M. Div, Pdt. Rudie Gunawan, Pdt. Budi Azali, M. Div.
Dalam menulis blog ini tak ada tendensi apapun kecuali harapan saya semoga semua tulisan tentang teologi ini dapat menjadi berkat bagi semua orang dan membawa kita kembali kepada ajaran asli Alkitab dan pada akhirnya nama Tuhan dipermuliakan.
Jadi, sekali lagi saya katakan dengan belajar teologi kita belajar akan Firman Tuhan, Firman Sang Kebenaran. Dan kita tahu bahwa Firman Tuhan adalah pelita, penerang, penolong, sauh, pedoman bagi hidup manusia dan pengisi bagi kekosongan jiwa kita. Ya, Yesus Kristuslah penuntun hidup kita sampai selama-lamanya. Ia adalah sumber sejati Firman itu. Melalui Yesus Kristuslah kita mengenal siapa Allah yang sejati.
Demikian posting ini saya buat. Saya berharap semoga tulisan sederhana dan singkat tentang teologi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin!

Soli DEO Gloria
Oleh: Samuel Rudi desfortin di Palangka Raya
Untuk menambah pengetahuan tentang kebenaran Alkitab, Hidup Kristen Apologetika Teologi, menyaksikan/menyimak video YOUtube khotbah, silakan kunjungi situs-situs penting berikut ini:
http://www.sabdaspace.org
http://www.menjelajahduniamaya.wordpress.com
http://www.geocities.com/thisisreformed
http://www.yabina.org
http://www.pdt.mangapulsagala.com

Posted in Uncategorized | No Comments »

INFANT BAPTISM IS 100% BIBLICAL

Posted by desfortin on November 29, 2008

A debate about one or more topics especially theology is more likely never comes to the end. Coming to the finish line with a joint-agreement is not an easy matter to gain. Perdebatan, khususnya di bidang teologi nampaknya tidak pernah berakhir. Sukar sekali kesepakatan bersama diraih. Begitu juga terkadang perdebatan yang alot, kekeh jumekeh alias ngotot memang fakta yang tidak dapat dihindari ketika mendiskusikan suatu tema Alkitab ini. Yes, especially with the infant baptism (baptisan anak). Ada golongan-golongan tertentu yang mengatakan bahwa babtisan anak itu tidak Alkitabiah bahkan berani mengatakannya sesat. Karena itu saya tidak bisa berdiam diri. Sebagai seorang Kristen saya ingin menegakkan kebenaran yang benar-benar kebenaran. Ya, dengan melihat fenomena itulah maka saya mencoba memposting blog ini. Saya rasa perlu juga menyampaikan buah pikiran saya di sini. Namun saya tidak ingin terlibat dalam “debat kusir”. Kalau sudah jelas tidak perlu berdalih ini dan itu lagi. Tidak perlu mencari pembenaran diri yang ngotot. Posting saya berjudul “SALAHKAH BAPTISAN ANAK ITU?” . Tentu saja saya akan membahas tentang baptisan anak. Saya tidak akan berpanjang lebar membahas tentang baptisan mana yang benar dan mana cara baptisan yang tidak benar, karena hal itu akan saya bicarakan pada blog yang lain. Tujuan saya menulis ini semata-mata hanyalah ingin menyampaikan suatu kebenaran yang Tuhan berikan kepada saya dengan segala kemampuan yang ada pada saya, dan semoga dapat menjadi berkat bagi kita semua.
Kita biasanya paling pandai kotasi, mengambil bahan dari berbagai sumber untuk membuktikan bahwa kita very learned. Seperti banyak mahasiswa teologia yang pintar mengutip buku-buku dan bahan dari sana sini. Secara akademik mereka mungkin sudah lulus tapi secara pemahaman Firman Tuhan sama sekali “kosong”!!!. Celakalah orang yang belajar teologia dengan cara demikian. Satu hal, meskipun kita memakai banyak referensi, buku doktrin dan teologi sistematika atau yang lainnya untuk memahami dan menjelaskan suatu topik Alkitab, tetapi marilah kita sungguh-sungguh kembali dan menyelidiki Alkitabnya dan menjadikannya sebagai standar kebenaran yang otoritatif di atas semuanya itu. Karena buku-buku selain Alkitab adalah tafsiran manusia yang bisa keliru. Sebenarnya, tidak salah jika kita memakai sumber penunjang, tapi yang terpenting adalah apakah buku atau sumber penunjang itu otoritatif atau tidak, dan Alkitab harus menjadi standar utama. Kalau mau memakai bahan-bahan penunjang, bagi saya dari sekian banyak buku teologia, yang pembahasannya sangat ketat, tajam dan komprehensif (mendalam) adalah buku-buku tafsiran dari para teolog reformed (seperti Yohanes Calvin, Prof. Dr. Louis berkhof, Hodge, Matthew Henry, Bavinck, Pdt. Dr. Stephen Tong dll). Berbahagialah orang yang mempelajari teologi reformed dengan rendah hati, mereka akan dihindarkan dari jurang-jurang yang terjal dan mematikan. Berapa banyak diantara kita yang dengan rendah hati mempelajarinya?
Well, niatnya bukan mau promosi cuma kebetulan saya lagi teringat, mengenai buku teologi, khususnya teologi sistematika, kalau boleh, saya sarankan bacalah bukunya Prof. Dr. Louise Berkhof, Jilid I sampai jilid VI. Untuk baptisan, buku Prof. J.I Packer tentang “apa itu baptisan?”. (Cuma tetap Alkitab di atas semuanya). Kemudian untuk masalah teologi dan pelayanan, buku-buku rohani, tulisan, kaset/video seminar dan khotbah termasuk KKR dari Pdt. Dr. Stephen Tong sangat disarankan/direkomendasikan untuk dibaca dan disimak (cuman jaman sekarang banyak orang yang terlalu apriori dengan pak Tong. Bagi saya orang yang demikian adalah tidak rendah hati, alias sombong, meskipun tidak sadar atau memang kekeh jumekeh dan gengsi tidak mau berubah. Tidak ada yang bisa melarang tentunya). Saya sendiri terkadang juga kurang teliti dan agak lambat dalam memahami hal teologia, khususnya yang berat dan berbobot seperti teologi reformed, meskipun saya rindu sekali untuk mempelajari teologi yang ketat. Tapi itulah kapabilitas saya. Saya menyadari hal itu. I realize that. Namun, saya berusaha terus belajar, belajar dan belajar dan mau diajar.
Anyway, saya sudah terlalu berpanjang lebar di bagian pendahuluan. Anda mungkin bertanya-tanya dan menunggu-nunggu sejak tadi kapan saya akan masuk ke inti pembahasan blog saya ini. Baiklah sekarang saya akan masuk ke inti pembahasan tentang baptisan anak ini.

BAPTISAN ANAK 100% ALKITABIAH
Saya melihat memang merupakan suatu fakta bahwa ada sejumlah orang yang menimbulkan kehebohan di dalam gereja berkenaan dengan baptisan anak-anak. Dengan sombong mereka mengatakan bahwa baptisan ini tidak memiliki dasarnya sebagai institusi Allah, tetapi dimasukkan kemudian semata-mata berdasarkan ide manusia. Tentu kita menyetujui bahwa suatu sakramen yang tidak berdiri di atas dasar Firman Tuhan, tidak akan mempunyai kekuatannya. Namun bagaimana jika setelah diuji, diadakan penyelidikan, ternyata tuduhan yang dilontarkan terhadap institusi yang kudus ini hanyalah fitnah yang tidak beralasan. This is our answer. Pertama, ajaran yang sudah diterima baik di antara kaum saleh (the saints) ialah pandangan yang tepat mengenai tanda-tanda tidak terletak hanya pada segi lahiriah dari upacara itu, tetapi terutama terletak pada janji dan rahasia-rahasia (kebenaran-kebenaran) rohani yang digambarkan oleh upacara yang diperintahkan oleh Tuhan itu. Alkitab menyatakan bahwa baptisan pertama-tama menunjuk kepada pembersihan dari dosa, yang kita peroleh dari darah Kristus; selanjutnya ialah pematian kedagingan, yang didasarkan pada keikutsertaan kita dalam kematian-Nya yang melaluinya kita dilahirkan kembali untuk memperoleh hidup yang baru dan persekutuan dengan Kristus. Inilah intisari ajaran Alkitab tentang baptisan; yang ada di luar itu hanyalah suatu tanda yang menyatakan kepercayaan kita di hadapan orang-orang.
Sunat sudah dimiliki umat Allah jauh sebelum baptisan ditetapkan. Ketika perbedaan dan kesamaan antara kedua tanda ini diselidiki, terlihatlah hubungan anagogi keduanya, maksud saya, sunat mengantisipasi baptisan. Kovenant atau jamji yang diberikan Allah kepada para bapa leluhur dalam sunat, juga diberikan kepada kita dalam baptisan, yaitu sebagai gambaran tentang pengampunan dosa dan pematian kedagingan (bdk. Ul.10:16; 30:6).
Sekarang kita dapat melihat dengan jelas antara persamaan dan perbedaan kedua tanda ini. Dalam keduanya terdapat janji yang sama, yaitu anugerah Allah yang penuh kebapaan, pengampunan dosa, dan kehidupan kekal. Hal yang dirujuk keduanya juga sama, yaitu kelahiran baru, dan keduanya memiliki satu landasan yang sama yang menjadi dasar bagi penggenapan semua ini. Jadi tidak ada perbedaan kebenaran internal yang melaluinya seluruh kekuatan dan karakter dari sakramen ini diuji. Perbedaan antara keduanya terletak di bagian luar saja, yaitu upacara lahiriah, yang merupakan seginya yang tidak penting.
Ketika menyelidiki Alkitab untuk mengetahui apakah dibenarkan untuk melakukan baptisan kepada anak-anak, kita akan menemukan bahwa baptisan bukan saja layak diberikan, bahkan wajib diberikan kepada mereka. Bukankah dulu Tuhan telah menganggap mereka layak menerima sunat untuk membuat mereka berbagian dalam semua janji yang ditunjuk oleh sunat? Penyunatan bayi ini bagaikan meterai yang mengesahkan janji-janji kovenan. Dan karena janji ini masih teguh maka semua ini juga berlaku bagi anak-anak Kristen sekarang ini, sama seperti dulu menyangkut anak-anak Yahudi. Dan kalau anak-anak ini turut mendapat bagian dalam apa ditunjuk oleh tanda itu, mengapa mereka harus dicegah untuk mendapatkan tandanya?
Kitab suci bahkan mewahyukan kepada kita kebenaran yang lebih pasti. Anak-anak Yahudi, karena telah dijadikan sebagai pewaris perjanjian (kovenan) ini, dan dibedakan dari orang-orang yang fasik, sehingga mereka disebut benih yang kudus (Ez. 9:2; Yes. 6:13). Demikian juga dengan anak-anak Kristen. Mereka dianggap kudus, yang dibedakan dari orang-orang yang najis (1Kor. 7:14). Setelah mengadakan perjanjian dengan Abraham (bapa orang beriman), maka kita melihat bahwa Allah memerintahkan supaya hal ini dimeteraikan oleh suatu tanda lahiriah. Dengan demikian, kita tidak mempunyai alasan untuk tidak menyaksikan dan memeteraikan perjanjian ini di dalam diri anak-anak kita.
Ketika Kristus memerintahkan supaya anak-anak dibawa kepada-Nya, Ia menambahkan “karena orang-orang seperti inilah yang empunya kerajaan Allah.” Pertanyaan kita ialah jika anak-anak harus dibawa kepada-Nya, mengapa mereka tidak sekaligus diterima dalam baptisan, yaitu simbol persekutuan dengan-Nya? Jika Kerajaan Allah adalah milik mereka, mengapa kita menolak tanda yang membuka jalan bagi mereka untuk masuk ke dalamnya? Mengapa kita menutup pintu bagi mereka yang hendak diterima oleh Allah? Apa hak kita atas hal itu?
Karena itu, janganlah ada seorang pun yang tidak menerima bahwa baptisan bukanlah karangan manusia, karena Alkitab membenarkan dan mendukung hal ini. Mereka (golongan tertentu) yang menolak baptisan anak karena mengatakan tidak ada bukti bahwa para rasul membaptiskan anak-anak adalah argument yang tidak meyakinkan. Saya setuju dengan pak Hai-Hai bahwa meskipun hal baptisan bayi atau anak tidak tercatat dalam Alkitab, itu tidak berarti bahwa Alkitab tidak mengajarkannya. Karena, walaupun para penulis Injil tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa anak-anak juga dibaptis, namun para penulis Injil juga tidak menyebutkan bahwa ada perkecualian bagi anak-anak dari baptisan yang diberikan kepada seluruh keluarga (Kis. 16:15, 32-33). From these verses, who can show and prove or rebut me that infants or children are not included to baptism? Siapa yang bisa tunjukkan dari nas-nas ini kalau anak-anak tidak turut dibaptis? Apakah karena Alkitab tidak pernah menuliskan hal secara eksplisit bahwa wanita juga turut menerima Perjamuan Kudus oleh para rasul, maka wanita harus dikecualikan dari Perjamuan Kudus. Perhatikan poin ini. Seperti istilah Tritunggal, di Alkitab tidak ada istilah itu, istilah itu adalah kesimpulan dari bapa-bapa gereja di masa lampau, namun kita mengakui bahwa doktrin Allah Tritunggal itu secara implicit diajarkan oleh Alkitab bahkan sejak permulaan di kitab Kejadian.
Selanjutnya, agar jangan ada orang yang melecehkannya sebagai hal yang tidak berguna, maka kita akan menunjukkan berkat apa yang diberikan oleh pelaksanaan baptisan anak ini kepada orang percaya yang menyerahkan anak-anaknya untuk dibaptis dan bagi anak-anak yang dibaptis itu. Melalui institusi/sakramen kudus ini iman kita mendapatkan penghiburan. Sebab tanda ilahi yang diberikan kepada anak itu menegaskan janji yang diberikan kepada orangtua yang saleh dan menyatakan bahwa secara pasti Tuhan akan menjadi Allahnya dan bahkan Allah anak-anaknya; dan bahwa Ia akan mencurahkan kebaikan dan anugerah-Nya kepadanya dan keturunannya hingga beribu-ribu angkatan (Kel. 20:6). Mereka yang menyambut janji Allah, yaitu bahwa kemurahan Allah menjangkau hingga kepada anak-anak mereka, hendaklah memahami kewajiban mereka untuk mempersembahkan anak-anak mereka kepada gereja untuk dimeteraikan oleh simbol kemurahan, dan dengan demikian, memberikan keyakinan yang lebih sungguh kepada mereka, sebab mereka melihat sendiri perjanjian Allah telah diukirkan di dalam diri anak-anak mereka.
Di sisi lain, anak-anak juga menerima berkat baptisan. Dengan dimasukkannya mereka ke dalam tubuh gereja, berarti mereka telah dipercayakan kepada anggota-anggota tubuh yang lain, dan ketika mereka sudah dewasa, mereka akan lebih terdorong untuk sungguh-sungguh menyembah Allah karena mereka telah diterima menjadi anak-anak Allah melalui simbol adopsi, sebelum mereka cukup besar untuk mengakui Allah sebagai Bapa. Akhirnya, kita patut merasa gentar terhadap ancaman yang menyatakan bahwa Allah akan membalas siapa saja yang menganggap hina pemberian tanda simbol perjanjian (kovenan) kepada anak-anaknya. Karena dengan penghinaan seperti ini, anugerah yang ditawarkan telah mereka tolak, dan bahkan ingkari (Kej. 17:14).
Some people say that infants or children are not allowed to get baptism since they are still too young to understand the mystery of the baptism, that is, “spiritually born again” (Ya, Sebagian orang mengatakan bahwa anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum cukup umur untuk dapat mengerti misteri (kebenaran) yang dirujuk oleh baptisan, yaitu kelahiran baru secara rohani). Orang yang berkata demikian tidak mengerti bahwa anak-anak dilahirbarukan oleh karya Allah yang melampaui pengertian kita (It is a sovereignty of God which beyond our understanding). Alasan mereka yang lain yang mereka kemukakan ialah karena baptisan adalah sakramen pertobatan dan iman, maka anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum dapat bertobat maupun beriman. Kita akan menjawab bahwa argumen ini tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa Allah memerintahkan penyunatan anak-anak, yang disebut oleh Kitab Suci sebagai tanda pertobatan, dan yang disebut oleh Paulus sebagai “meterai kebenaran berdasarkan iman” (Rm. 4:11). Kita menyatakan bahwa anak-anak dibaptis dalam pertobatan dan iman yang akan mereka lakukan di masa yang akan datang, dan benih ini tersimpan dalam diri mereka karena karya Roh Kudus. Roh Kudus yang memberikan materai. Seperti dalam pertobatan, apakah pertobatan mendahului kelahiran kembali? Ajaran sejati Alkitab harus mengatakan “tidak”. Tetapi Roh Kudus yang memperanakkan kita dulu melalui proses kelahiran kembali (Baptisan Roh Kudus) yang kita tidak mengerti (mengapa Tuhan memilih kita), baru kemudian kita bisa sadar dan melakukan pertobatan. Pertobatan adalah sebagai efek dari kita yang telah dilahirkan kembali oleh Allah, sebagai reaksi atau respon kita yang beriman kepad-Nya. Jadi, SALAHKAH BAPTISAN ANAK ITU? Seperti yang pernah saya bilang pada salah satu komentar saya di SABDAspace ini, If we understand the doctrine of predestina What’s wrong with infant baptism? tion correctly, then we could agree that the infant baptism is not wrong but is really biblical (kalau kita mengerti doktrin predestinasi dengan benar, maka kita akan mengerti dan setuju bahwa BAPTISAN ANAK ITU TIDAK ADA YANG SALAH. TAPI 100% ALKITABIAH.
Demikian posting saya tentang tema ini, semoga dapat memberikan iluminasi, berkat dan tentunya bermanfaat bagi kita semua. Biarlah segala kemuliaan pada akhirnya hanya kita kembalikan kepada Tuhan di dalam Allah Tritunggal, Amin (Soli DEO Gloria).
Diadaptasi oleh desfortin dari:
The Institutes of the Christian Religion, IV.16 by John Calvin
(The important reformator or the founding father and the root of Reformed Theology until today)

Posted in Uncategorized | No Comments »

A CRITIQUE FOR THE CHRISTIANITY TODAY

Posted by desfortin on November 20, 2008

SEBUAH KRITIK TENTANG ARUS KEKRISTENAN ZAMAN INI
(A critique about the current age issue related to the Christian Life)

Oleh: Samuel Rudi Desfortin

Dear All Brothers And Sisters Wherever You Are.
May Our God In Jesus Christ Always Bless Everyone.

Pada saat ini sebelum saya memposting tulisan ini kepada para pembaca semua. Sekali lagi salam kenal dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
Saya bukan pendeta atau teolog. Saya hanya seorang mahasiswa. Ya, mahasiswa tingkat akhir di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kalimantan Tengah. Saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (S1). Saat ini saya sedang menggarap tugas akhir (Skripsi). Kalau boleh mohon doanya agar pada bulan April tahun depan (2009) saya sudah bisa menyandang gelar sarjana. Mengenai teologi, saya sejak beberapa tahun yang lalu mulai suka dan rindu sekali untuk terus belajar teologi, tentunya teologi yang benar dan dengan cara yang benar, yang dengan sungguh-sungguh menekankan otoritas Alkitab, dan juga berusaha untuk menelitinya dengan sangat ketat (scrutiny of the Bible). Mungkin anda tahu apa yang saya maksud?
Bagi saya kehidupan kekristenan di daerah saya cukup memprihatinkan. Namun banyak orang yang sampai saat ini masih tertidur lelap dan belum sadar. Kiranya tulisan ini akan bermanfaat, setidaknya sebagai air penyiram untuk membangunkan mereka yang saat ini sedang tertidur pulas. Maafkan kalau airnya terlalu pedih, tapi ini bukan air cuka atau asam. Saya tidak bermaksud sombong atau apa, hanya saya ingin mengambil bagian untuk menegakkan apa yang benar, sebagaimana Alkitab meminta kita untuk menguji segala sesuatu dan memegang apa yang baik dan benar serta mempertanggungjawabkan ajaran kita. Jika zaman ini belum juga sadar, saya mungkin memang akan menjadi “pemukul zaman ini”.
Jika dengan tulisan ini orang-orang juga masih belum sadar, entah apa karena mereka susah memahami, masa bodoh atau memang kekeh jumukeh alias ngotot, gengsi yang sempit, maka biarlah Tuhan saja yang akan menjadi hakim final mereka. Tugas saya di sini hanyalah sebagai media untuk mengingatkan kita semua. Saya melihat sedikit orang yang mau sungguh-sungguh belajar dengan ketat mengenai teologi, khususnya teologi Alkitab dengan penafsiran ala Reformed Theology, yang menurut saya sangat ketat, mendalam dan paling setia kepada Alkitab (back to the Bible) untuk mewakili kekristenan yang sejati.
Dulu saya juga orang yang pernah mengingkari Tuhan, bahkan sempat beberapa tahun tidak pernah pergi ke gereja karena kecewa kepada gereja dan juga kepada Allah, yang sebenarnya saya tidak perlu demikian. Waktu itu saya mulai dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang menyimpang yang sebenarnya menghina Alkitab orang Kristen, dan juga filsafat yang sangat membuat saya merasa seperti orang yang sudah menemukan kebenaran. Padahal saya tanpa sadar telah menghina Tuhan dan umat-Nya. Itu terjadi ketika saya masih duduk di bangku SMA. Namun juga sampai saya di bangku kuliah, bahkan sampai tahun kedua kuliah saya masih meragukan Tuhan, sehingga saya sering berdebat dengan orang di sekitar saya dan membuat mereka heran. Mungkin sedikit orang yang mengetahui apa yang terjadi dengan saya pada waktu itu, bahkan orang tua saya sendiri juga tidak. Saya menjadi seperti orang yang sombong sekali menganggap bahwa teman-teman yang saya ajak berdebat itu kurang pengetahuan sehingga tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, bahkan sempat juga beberapa hamba Tuhan yang saya tanyai tentang pertanyaan-pertanyaan itu baik tentang teologi dan filsafat, namun tak satupun dari mereka yang memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan tak jarang mereka mengatai saya sebagai sesat dan katanya saya terlalu kebanyakan belajar sehingga kepala saya “hang” katanya. Tapi saya pada waktu itu tidak peduli. Saya tetap memegang prinsip dan keyakinan dan ideologi saya itu.
Namun Tuhan memang Pencipta dan Penguasa seluruh ciptaan-Nya. Saya tidak mampu melawan-Nya. Oleh anugerah-Nya saja saya sekitar 2 tahun yang lalu, ketika saya membaca, mempelajari buku dan mendengarkan khotbah seorang hamba Tuhan yang beraliran reformed (warisan John Calvin dkk pada zaman reformasi), yang kemudian paling saya kagumi pada zaman ini. Saya tidak memujanya ataupun mengkultuskannya tapi saya akui melalui hamba Tuhan ini konsep saya tentang teologi, Alkitab dan kekristenan mulai diubahkan, dibaharui dan dicerahkan serta saya telah ditarik kembali oleh-Nya untuk mengenal-Nya dengan benar, dan berkomitmen untuk terus memuliakan-Nya dengan terus belajar, belajar, dan belajar serta mau diajar untuk taat kepada-Nya, meski saya tahu itu juga adalah suatu pergumulan kehidupan kekristenan yang hebat. Saya bukan manusia sempurna. Saya punya masa lalu yang kelam dan menyakitkan. Berkali-kali saya pernah jatuh. Sungguh bagai noda hitam yang jatuh di kertas putih yang sukar dibersihkan. Namun oleh anugerah-Nya saya ditarik kembali. Saya tidak sampai terkapar sehingga tidak bisa kembali. Puji Tuhan sampai saat ini saya tetap ditopang oleh-Nya. Saya tidak mau memandang ke belakang kepada masa lalu saya itu, tapi saya ingin memandang ke depan kepada Kristus yang menjadi sasaran hidupku yang tak kan bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini. Biarlah masa lalu saya itu menjadi pengalaman yang akan menjadi pembelajaran di masa mendatang agar senantiasa setia dan menjaga diri baik-baik di hadapan-Nya. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan dan kepada hamba-Nya ini, sehingga saya sekarang bisa kembali dan mengenal Kristus lebih dekat lagi.
Namun aneh bin ajaib sampai sekarang teman-teman saya itu masih saja menganggap saya sebagai orang yang terlalu banyak belajar atau sombong rohani dan munafik. Padahal saya rasa tidak lagi seperti yang dulu. Mungkin mereka hanya memandang saya dari sudut pandang yang berbeda saja. Sebenarnya wajar saja mereka tidak sependapat dengan saya. Karen setiap orang berhak untuk berbeda pendapat. Namun saya kecewa karena mereka hanya melihat saya dari sebagian sisi saja, yang kemudian seperti menghakimi saya. Apalagi ketika saya mengkritik mereka-mereka yang melayani Tuhan dengan tidak terlalu banyak belajar, tapi berani sekali mengajar/menyampaikan Firman Tuhan, mereka anggap saya seperti orang yang paling benar saja, sok pintar, sok tahu, sombong rohani dan sebagainya. Padahal pada intinya saya hanya ingin mengatakan bahwa kita harus melayani Tuhan dengan serius, teliti, ketat, tidak boleh bermain-main dan tentunya dengan bertanggung jawab. Sebab Allah adalah Hakim yang paling adil. Dia adalah Raja di atas segala raja, karena kalau dengan sembarangan tanpa mengoreksi diri maka banyak orang yang akan mendapatkan konsep-konsep yang keliru, bukan upah yang indah dan mulia yang akan kita terima dari Tuhan kelak, tapi kita akan menerima penghakiman yang lebih berat karena semakin banyak diberi maka kita semakin banyak dituntut (the more you’re given, the more you’re demanded). Allah Yang Maha Adil akan menghakimi setiap orang menurut perbuatannya dengan tanpa memandang bulu dan tanpa kompromi. Bukankah dikatakan dalam Alkitab bahwa kita akan dihukum Tuhan apabila kita jahat dan tidak memuliakan-Nya. Bukankah Dia juga adalah api yang menghanguskan yang dapat membakar setiap orang yang bermain-main dengan-Nya? Seharusnya kita gentar, setia dan hidup dengan serius di hadapan-Nya.
Tapi inilah yang saya sebut sebagai arus yang sedang “ngetrand” saat ini. Apa yang salah sebenarnya? Inilah pertanyaan yang harus dijawab, dan menyebabkan saya ingin membagikan tulisan ini kepada semua pembaca di blog ini. Semoga ada juga yang ikut berkomentar atas tulisan saya ini. Oya, tolong juga doakan kehidupan gereja kami di sini ya. Sehingga ada kebangunan rohani yang sejati terjadi di tempat kami, bukan dua arus ekstrim yang saat ini sedang menjalar, arus yang menekankan “Kebangunan Rohani Emosional” yang diajarkan teolog-teolog penganut teologi sukses, dan arus “Bergereja yang hambar” yang diajarkan oleh teolog-teolog yang saya sebut sebagai kurang belajar banyak dan benar-benar ketat, (namun yang kedua ini mungkin tidak terlalu ekstrim dari pada arus yang pertama yang sering bisa menyesatkan apalagi kalau jemaat tidak teliti. Tapi intinya sama saja yaitu “tidak komprehensif pemahamannya akan Alkitab”).
Sekali lagi inilah yang membuat saya sangat terdorong untuk menyampaikan tulisan ini. Selain itu, tulisan bung Denny Teguh Sutandio (salah seorang jemaat di GRII Andhika di Surabaya) di salah satu posting blognya menjadi inspirasi tulisan saya ini juga. Menurut saya memang benar beragam filsafat yang banyak dipengaruhi oleh filsafat zaman modern (zaman sebelum postmodern) di zaman postmodern yang diwarnai oleh sekularisme, maupun semangat Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) sungguh harus menjadi perhatian kita semua khususnya gereja sebagai tiang dan fondasi kebenaran di dunia ini. Beragam filsafat tersebut mempengaruhi semua orang, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang terpengaruh dan jatuh. Dalam kasus ini ada beberapa teman saya juga yang dulunya aktif melayani Tuhan, pemimpin pujian dan pernah khotbah di persekutuan, tapi akhirnya berubah arah menjadi orang yang menyangkal Tuhan. Itulah hebatnya setan mempengaruhi orang-orang dari sejak dulu sampai sekarang dengan topeng intelektualitasnya. Teman saya itu dulu boleh dikatakan dialah orang yang mengajak saya untuk mengenal Tuhan, Tapi apa yang terjadi sekarang, sebaliknya. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan sampai saat ini saya masih dijaga-Nya dan berada dalam jalur-Nya, khususnya dua tahun terakhir ini. Karena itulah saya terus memacu diri, mengembangkan diri, mengisi anugerah Tuhan yang Ia berikan kepada saya dengan terus belajar, belajar dan belajar dan rela takluk hanya kepada kebenaran-Nya.
Sebagai akibat dari konsep dan arus pemikiran filsafat tersebut banyak orang Kristen bahkan pemimpin gereja terlalu ekstrim menekankan salah satu arus pemikiran tersebut. Ada yang terlalu menekankan rasionalitas dan akademis (akibat dari pengaruh sekularisme dan rasionalisme di abad modern), sehingga apa yang tidak akademis dianggap tidak “logis”, akibatnya orang seperti ini memiliki hati yang kering dan bisa menjadi orang yang tinggi hati, merasa diri sudah mendapatkan kebenaran yang paling hebat. Kasus ini saya temui pada orang-orang yang katanya pintar, bergelar doktor bahkan profesor, namun yang menolak dan meragukan kitab suci dan akhirnya menjadi ateis. Sebenarnya orang seperti inilah yang harus dikategorikan sebagai sombong, meskipun mereka sendiri mungkin tidak sadar kalau mereka sedang sombong dan congkak.
Di sisi lain, ada juga orang Kristen bahkan pemimpin gereja yang sangat menekankan spiritualitas (lebih tepatnya pengalaman subjektif sebagai akibat dari pengaruh filsafat relativisme dan Semangat Zaman Baru) dan membuang pentingnya aspek rasio. Akibatnya, pengalaman atau spiritualitas apa pun bahkan dari setan dianggap dari “roh kudus”, karena mereka tidak mempunyai dasar uji yang tepat yaitu Alkitab. Kasus ini terjadi pada mereka-mereka yang sering membuat kebaktian-kebaktian “kesembuhan ilahi” dan yang menekankan mujizat, pemegang teologi kemakmuran (prosperity gospel) yang memang sering terjadi di gereja-gereja pada zaman ini oleh mereka-mereka yang menganut ajaran kharismatik. Ada juga yang terlalu menekankan aspek praktika (akibat dari pengaruh pragmatisme dan materialisme terselubung), yaitu mereka sibuk mengurusi bagaimana melayani masyarakat dan sekitar, tetapi sayangnya mengabaikan penginjilan secara verbal. Untuk kasus yang ini saya dapati pada kebanyakan orang-orang kristen di sekitar saya, mereka berkata “kita sekarang kan sudah dalam kebenaran, setiap zaman selalu ada tantangan, namun Tuhan tidak perlu kita bela, tapi Dia yang menjadi pembela kita. Jadi tidak perlu terlalu banyak belajar seperti itu, dipusingkan oleh doktrin dan pengajaran. Teologia itu tidak cukup, yang penting kita praktek saja, layani Tuhan, karena nanti ketika kita menghadap Tuhan bukan masalah teologia yang akan ditanyakan Tuhan, tapi berapa banyakkah jiwa - jiwa yang sudah kita bawa kepada Tuhan?”. Demikian alasan mereka. Saya merasa kasian sekali. Seolah mereka berpikir mereka sangat berjasa sekali dalam melayani Tuhan. Saya setuju kalau Tuhan kita itu tidak perlu dibela, karena tanpa kita pun Tuhan bisa berbuat apa saja, tak ada yang mustahil bagi-Nya. Namun maksud saya adalah bahwa kita harus melayani Tuhan dengan benar dalam prakteknya. Yang saya tekankan adalah “caranya”. Jika pemikiran seperti alasan yang mereka kemukakan itu terus dipegang, maka sangat memprihatinkan sekali arus kekristenan di zaman ini.
Saya sangat setuju dengan bung Denny Teguh Sutandio yang mengatakan bahwa Teologi, Spiritualitas, dan Praktika adalah tiga hal yang harus dikerjakan secara bersama-sama dengan satu prinsip mutlak, yaitu: Alkitab. Betul. Ketiga aspek itu harus diitegrasikan dengan baik dalam kehidupan kristiani kita. Tidak boleh mengabaikan salah satunya. Tetapi apa yang terjadi akhir-akhir ini dalam dunia kekristenan? Ketiga hal ini ditekankan secara tidak seimbang dan sangat kacau oleh orang kristen di generasi ini. Menyedihkan sekali. Namun banyak orang yang belum sadar dan terbangun dari tidurnya. Bangunlah saudaraku! Sadarlah! Sampai kapan kau akan tenggelam dan hanyut bersama arus yang deras dan mematikan ini. Sadarlah! Jangan engkau marah dan melarikan diri dari teguran seperti ini, karena orang yang menegur seperti ini, seperti apa yang engkau baca dan dengar hari ini sudah mulai jarang dan semakin sedikit. Mengapa kita mengutamakan apa yang bukan diutamakan oleh Tuhan? Mengapa kita tidak mengutamakan yang diutamakan oleh Tuhan?
Saudaraku, saya berharap semoga tulisan ini dapat membangun iman kita semua. Saya tidak ada tendensi apa-apa kecuali hanya untuk mengingatkan kita semua dan membagun iman kita agar mengerti ajaran yang sehat dan bertanggung jawab kepada Tuhan. Sekali lagi semoga ini bermanfaat bagi kita semua. Amin!
Soli Deo Gloria (Segala kemuliaan hanya kita kembalikan kepada Tuhan)
by Samuel Rudi Desfortin di Palangaka Raya.

Tulisan ini juga pernah diposting/dipublikasikan oleh penulis di http://sabdaspace.org dengan sedikit suntingan

Posted in artikel | Tagged: , , , , , , , , | 1 Comment »